Miris, Lagi Kasus Anak Akhiri Hidup, Polisi Ungkap Fakta dan Hasil Forensik
M Zulkodri February 15, 2026 05:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Kasus anak mengakhiri hidup kembali mengguncang publik.

Setelah peristiwa serupa terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), kini kejadian memilukan menimpa seorang anak perempuan berusia 12 tahun di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Kamis (12/1/2026).

Peristiwa tersebut sontak menjadi perhatian masyarakat, terutama setelah beredarnya tangkapan layar percakapan WhatsApp (WA) yang diduga berisi makian dari ibu korban.

Unggahan itu diketahui tersebar luas di media sosial beberapa hari sebelum kejadian tragis terjadi.

Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono, membenarkan adanya unggahan tangkapan layar percakapan tersebut.

Menurutnya, korban sendiri yang mengunggah screenshot percakapan itu ke akun WhatsApp miliknya.

“Screenshot chat dari ibu ke korban lalu diunggah oleh korban di WhatsApp beberapa hari sebelum peristiwa terjadi,” ujar Anggah, Jumat (13/2/2026).

Unggahan tersebut kemudian menyebar dan turut dibagikan oleh akun Instagram @infodemakraya, sehingga memicu beragam spekulasi di tengah masyarakat.

Pertama Kali Diketahui Sang Ibu

Berdasarkan hasil penyelidikan dan rekaman kamera pengawas (CCTV), peristiwa itu pertama kali diketahui oleh ibu korban.

Rekaman menunjukkan sang ibu pulang ke rumah pada pukul 18.01 WIB.

“Berdasarkan rekaman CCTV, ibu korban naik mobil pulang ke rumah. Lalu masuk ke rumah pukul 18.01 WIB,” jelas Anggah.

Tak lama kemudian, tepat pukul 18.03 WIB, ibu korban keluar rumah sambil berteriak histeris meminta pertolongan warga sekitar.

“Jam 18.03 WIB, ibu korban keluar dan berteriak. Jadi ibu korban ini yang pertama mengetahui anaknya gantung diri,” tambahnya.

Warga yang mendengar teriakan tersebut segera berdatangan untuk membantu.

Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Wongsonegoro di Semarang menggunakan mobil milik ibunya yang dikemudikan tetangga.

Sang ibu menyusul dengan sepeda motor.

Namun, nyawa korban tidak dapat diselamatkan.

Hasil Pemeriksaan Forensik

Hasil visum dokter forensik menunjukkan adanya luka akibat kekerasan tumpul berupa jejas atau lecet pada leher yang mengarah pada indikasi gantung diri.

Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik lain di tubuh korban.

“Ada luka akibat kekerasan tumpul berupa jejas atau lecet gantung pada leher. Korban diduga meninggal dunia karena lemas,” terang Anggah.

Polisi juga menegaskan bahwa tidak ada indikasi pembunuhan dalam kasus ini.

Dari rekaman CCTV terlihat jelas rentang waktu ibu korban berada di dalam rumah hanya sekitar dua menit sebelum keluar meminta pertolongan.

“Dengan rentang waktu sekitar 1,5 sampai 2 menit, tidak memungkinkan indikasi ibu korban melakukan pembunuhan,” tegasnya.

Selain itu, aktivitas terakhir pada telepon seluler korban tercatat pukul 16.25 WIB.

Sejak waktu tersebut hingga ibu korban pulang, tidak ada rekaman yang menunjukkan orang lain masuk ke rumah.

Meski demikian, Anggah mengakui bahwa sebelumnya sang ibu memang beberapa kali mengirim pesan bernada marah dan mengandung kata-kata kasar kepada korban.

Namun, ia menegaskan bahwa penyebab pasti tindakan korban tidak bisa disimpulkan hanya dari percakapan tersebut.

“Memang sebelumnya ibunya itu sempat beberapa kali chat marah-marah dan ada kata-kata kasar. Tetapi penyebab korban gantung diri tidak bisa kita simpulkan karena hal itu, karena masih banyak faktor-faktor lainnya yang harus dilakukan pendalaman,” ujarnya.

Ia pun mengimbau para orang tua untuk lebih bijak dalam berkomunikasi dengan anak.

“Dari kejadian ini, kami harap para orang tua bisa lebih bijak dalam berkomunikasi dengan anaknya. Selain itu, selalu perhatikan dan awasi aktivitas media sosial anak-anaknya sehingga anak merasa bahwa ada orang tua yang selalu hadir dan mendengarkan dirinya,” tutup Anggah.

Kasus Serupa di NTT

Sebelumnya, kasus anak mengakhiri hidup juga terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Seorang siswa SD berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia di kebun dekat pondok bambu tempat tinggalnya bersama sang nenek di Desa Nenowea, Kamis (29/1/2026).

Kapolres Ngada, Andrey Valentino, menyampaikan bahwa terdapat sejumlah faktor yang melatarbelakangi tindakan tersebut.

“Jadi, ada banyak faktor yang menyebabkan anak ini mengakhiri hidupnya,” kata Andrey.

Salah satu faktor yang teridentifikasi adalah keterbatasan ekonomi keluarga, termasuk ketidakmampuan membeli buku dan alat tulis sekolah.

Namun, ia menegaskan bahwa penyebabnya bukan semata-mata persoalan alat tulis.

Menurut Andrey, pada malam sebelum kejadian, orang tua korban sempat menasihati YBR agar tidak bermain hujan agar tidak jatuh sakit dan kembali meminta izin tidak masuk sekolah.

“Namun, mungkin cara penerimaan anak berbeda. Bisa saja anak merasa tersinggung atau tertekan. Jadi ceritanya bukan semata-mata karena alat tulis, tetapi juga karena sering dinasihati oleh ibunya,” ungkapnya.

Hasil visum pada tubuh korban tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik. Polisi juga tidak menemukan indikasi perundungan di lingkungan sekolah.

“Kesimpulan sementara, tindakan tersebut dilakukan atas kehendak korban sendiri,” tegas Andrey.

Perlu Kepedulian dan Dukungan

Dua kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak.

Tekanan emosional, persoalan komunikasi dalam keluarga, serta kondisi ekonomi dapat menjadi akumulasi beban yang sulit dipahami dari sudut pandang orang dewasa.

Pakar psikologi anak menilai bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang.

Kata-kata kasar, bentakan, atau tekanan berulang dapat menimbulkan dampak psikologis yang dalam, terlebih jika anak merasa tidak memiliki ruang aman untuk bercerita.

Kehadiran orang tua yang suportif, komunikasi yang empatik, serta pengawasan terhadap aktivitas digital anak menjadi faktor penting dalam mencegah kejadian serupa.

Disclaimer:

Apabila Anda saat ini mengalami depresi atau keinginan bunuh diri, jangan putus asa, jangan ragu bercerita, berkonsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater, psikolog atau klinik kesehatan jiwa.

Depresi dan gangguan kejiwaan dapat pulih dengan bantuan profesional kesehatan mental.

Temukan informasi mengenai bagaimana menjaga kesehatan mental dan menghubungi layanan profesional di laman Pencegahan Bunuh Diri Into The Light Indonesia di www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri.

(Tribunnews.com/Gilang P) (Tribun Jateng/Lyz) (Pos Kupang)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.