TRIBUN-TIMUR.COM, BONE – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Bone mulai dirasakan dampaknya oleh warga Kota Watampone.
Sejumlah sumur bor milik warga mengering dan tak lagi mampu memenuhi kebutuhan air harian.
Warga di beberapa kelurahan mengaku kesulitan mendapatkan air bersih sejak sepekan terakhir.
Kondisi ini memaksa mereka mencari sumber air alternatif bahkan harus membeli air untuk kebutuhan dasar rumah tangga.
Di Kelurahan Ta’, penurunan debit air sudah terjadi sejak awal Februari.
Beberapa sumur bor kini hanya mengeluarkan sedikit air pada pagi hari, sementara di siang hari sama sekali tidak mengalir.
Baca juga: Kemarau Panjang Terjadi di Bone Sulsel, Sawah Tadah Hujan Terancam Gagal Panen
Salah satu warga, Andi Kurniadi saat dikonfirmasi, Minggu (15/2/2026) mengatakan sumur bor di rumahnya hampir tidak berfungsi karena airnya kini sangat sedikit.
Ia menilai kondisi kemarau tahun ini jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Biasanya kalau musim kemarau, air masih bisa naik walaupun sedikit. Tapi sekarang hampir tidak ada. Pagi kadang keluar sedikit, siang sampai malam tidak ada sama sekali,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa keluarganya harus menampung air dari rumah tetangga yang sumurnya masih mengalir.
Namun debit air yang tersisa juga tidak besar sehingga warga harus bergantian.
Beberapa warga lainnya bahkan memilih membeli air galon tambahan setiap hari.
Harga kebutuhan air pun disebut semakin terasa berat, terutama bagi warga yang berpenghasilan rendah.
Di Kelurahan Bukaka, situasi serupa juga dialami warga.
Sumur bor yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan air kini mulai mengering sehingga aktivitas rumah tangga ikut terganggu.
Sitti Rahmadani, mengungkapkan bahwa keluarganya hanya bisa menampung air pada waktu tertentu ketika sumur mengeluarkan sedikit aliran.
Menurutnya, kondisi ini sangat menyulitkan.
“Airnya keluar cuma setetes-setetes. Kami harus menunggu lama supaya ember terisi. Kalau sore, biasanya sama sekali tidak keluar,” ujar Sitti.
Akibat kekeringan ini, banyak kegiatan rumah tangga yang terpaksa ditunda.
Mencuci pakaian, mandi, hingga memasak kini harus dijadwalkan ulang agar pemakaian air lebih hemat.
Sitti berharap curah hujan segera turun agar kondisi sumur bisa kembali normal.
Menurutnya, warga semakin cemas jika kemarau berlanjut lebih lama.
Warga lainnya juga mulai memasang penampung air darurat untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu turun hujan singkat.
Namun, hal itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.(*)
Ket: KEMARAU- Potret ilustrasi kekeringan oleh meta Al (15/2/2026). Musim kemarau, warga Watampone keluhkan sumur bor mulai mengering.