TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Prof Karta Jayadi (61) menyebut kasus dugaan pelecehan yang sempat menyeret namanya mengandung unsur politis.
Dugaan pelecehan guru besar Fakultas Seni dan Desain itu berujung pada pemberhentian dari jabatan Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM).
Prof Karta mengaku awalnya percaya, kebenaran dapat ditegakkan melalui logika dan pendekatan rasional.
Namun pengalaman yang ia alami justru membuatnya melihat realitas berbeda.
“Di dalam politik bisa orang setuju dan tidak setuju. Asal kita sepakat, itulah keputusan politik,” kata Prof Karta, dalam wawancara eksklusif Tribun Timur yang ditayangkan melalui YouTube Tribun Timur, Minggu (15/2/2026).
Menurut Prof Karta, sejak awal mencuatnya persoalan, ia sudah menangkap adanya nuansa politik.
Meski begitu, sebagai akademisi yang tumbuh dari dunia profesional, ia berupaya keras menempatkan persoalan tersebut dalam kerangka profesional, bukan politik.
“Saya lahir dari profesional, saya menekankan bahwa ini bukan politik,” kata Prof Karta, dengan nada tegas.
Namun dinamika yang terjadi membuatnya semakin mempertanyakan proses yang berlangsung.
Ia mengaku heran ketika pihak-pihak yang sebelumnya mendukungnya tiba-tiba berubah sikap.
“Logikanya terlalu sederhana, sehingga saya menganggap ini unsur politik,” kata Prof Karta, dalam wawancara yang dipandu Munawarah Ahmad itu.
Prof Karta menilai politik memiliki peran besar dalam menentukan arah kebijakan.
Bahkan bisa berdampak langsung pada nasib individu.
Ia juga secara terbuka mengakui dirinya merasa menjadi korban dalam situasi tersebut.
“Sangat (merasa jadi korban). Tapi saya menghargai hukum meskipun landasannya kadang tidak jelas,” tuturnya.
Meski demikian, mantan Dekan Fakultas Seni dan Desain (FSD) UNM itu menyatakan tetap menghormati proses hukum dan berusaha mengambil hikmah dari peristiwa yang dialaminya.
Menurutnya, kejadian ini justru membuatnya semakin tegar dan lebih memahami dinamika kehidupan.
“Setelah ada kasus ini, saya makin mencermati siapa yang ikhlas dan tulus. Meskipun saya tidak muncul secara fisik, tetapi mata, kepala, kaki, pikiran, saya tetap mencermati,” kata Prof Karta yang juga pernah menjabat sebagai Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS UNM.