Postingan Terakhir Bocah di Demak sebelum Akhiri Hidup, Makian Ibu ke Anaknya Viral
Robertus Didik Budiawan Cahyono February 15, 2026 05:35 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Seorang bocah perempuan nekat mengakhiri hidup diduga setelah dimaki ibunya.

Bocah tersebut sempat memposting chat sang ibu kepada dirinya yang berisi kata-kata kasar.

Ia pun menuliskan curhatan di postingan yang membeberkan chat ibunya lewat tangkap layar percakapan WhatsApp.

Peristiwa tersebut dialami bocah usia 12 tahun di Kabupaten Demak, Jawa Tengah pada Kamis (12/2/2026).

Hasil visum di Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang menunjukkan korban meninggal dunia akibat akhiri hidup dengan seutas tali.

Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono, membenarkan adanya unggahan tangkapan layar percakapan WhatsApp bernada makian dari ibunya.

Menurutnya, tangkapan layar percakapan itu diposting korban beberapa hari sebelum peristiwa tragis terjadi.

"Screenshot chat dari ibu ke korban lalu diunggah oleh korban di WhatsApp beberapa hari sebelum peristiwa terjadi," kata Anggah, Jumat (13/2/2026) dikutip dari TribunJateng.com.

Unggahan itu kemudian tersebar luas di media sosial, termasuk dibagikan oleh akun Instagram @infodemakraya.

Dalam tangkapan layar tersebut, terlihat sejumlah kata kasar yang dikirimkan kepada korban. Saat membagikan gambar itu, korban juga menuliskan keterangan, "Di balik tawa gua disisi lain aku juga cape".

Kronologi Kejadian Berdasarkan CCTV

Anggah menjelaskan, insiden tersebut pertama kali diketahui oleh ibu korban. Berdasarkan rekaman kamera pengawas, ibu korban pulang ke rumah pada pukul 18.01 WIB.

"Berdasarkan rekaman CCTV, ibu korban naik mobil pulang ke rumah. Lalu masuk ke rumah pukul 18.01 WIB," jelas Anggah.

Tak lama setelah masuk, sang ibu mendapati anaknya sudah dalam kondisi tergantung. Ia kemudian keluar rumah dan berteriak meminta pertolongan.

"Jam 18.03 WIB, ibu korban keluar dan berteriak. Jadi ibu korban ini yang pertama mengetahui anaknya akhiri hidup," ujar Anggah.

Warga yang mendengar teriakan tersebut segera berdatangan. Korban lalu dilarikan ke Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang menggunakan mobil milik ibunya yang dikemudikan tetangga, sementara sang ibu menyusul dengan sepeda motor.

"Dibawa ke rumah Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang menggunakan mobil ibunya yang dikemudikan oleh tetangganya. Ibu korban mengikutinya dengan menggunakan sepeda motor," tutur Anggah.

Hasil Pemeriksaan Forensik

Dari hasil visum dokter forensik, ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada kematian akibat akhiri hidup.

"Ada luka akibat kekerasan tumpul berupa jejas atau lecet gantung pada leher.Didapatkan tanda mati lemas. Waktu kematian 2-6 jam sebelum pemeriksaan visum dilakukan," beber Anggah.

Polisi menerima laporan kejadian sekitar pukul 21.30 WIB dan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara serta pendalaman lebih lanjut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan forensik dan rekaman CCTV, kepolisian membantah dugaan bahwa korban dibunuh oleh ibunya.

"Dari hasil pemeriksaan dokter forensik tadi, kemudian kita lihat rekaman CCTV yang menunjukkan ibu korban masuk ke rumah jam 18.01 WIB dan keluar jam 18.03 WIB sambil histeris untuk meminta tolong ke tetangga sebelah. Dengan rentang waktu sekitar 1,5 - 2 menit, tidak memungkinkan indikasi ibu korban melakukan pembunuhan," kata Anggah.

"Selain itu, aktivitas terakhir di HP korban yaitu pukul 16.25 WIB. Selama rentang waktu itu hingga ibu korban pulang, tidak terlihat ada orang lain yang masuk ke rumah," tambahnya.

Imbauan untuk Orang Tua

Anggah mengakui bahwa sebelumnya sang ibu beberapa kali mengirim pesan bernada marah dan mengandung kata-kata kasar kepada korban. 

Namun, ia menegaskan bahwa penyebab pasti tindakan korban tidak dapat disimpulkan hanya dari percakapan tersebut.

"Memang sebelumnya ibunya itu sempat beberapa kali chat marah-marah dan ada kata-kata kasar. Tetapi penyebab korban akhiri hidup tidak bisa kita simpulkan karena hal itu, karena masih banyak faktor-faktor lainnya yang harus dilakukan pendalaman," ujar Anggah.

"Namun dari kejadian ini, kami harap para orang tua bisa lebih bijak dalam berkomunikasi dengan anaknya. Selain itu, selalu perhatikan dan awasi aktivitas media sosial anak-anaknya sehingga anak merasa bahwa ada orang tua yang selalu hadir dan mendengarkan dirinya," tutupnya. 

Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.

Berbagai saluran telah tersedia bagi pembaca untuk menghindari tindakan bunuh diri.

Bisa menghubungi RSJ Amino Gondohutomo Semarang telp (024) 6722565 atau RSJ Prof Dr Soerojo Magelang telp (0293) 363601.

Baca Selanjutnya Pengakuan Polos Bocah SD Bongkar Kelakuan Oknum ASN Asusila Kakak Beradik di Sultra

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.