Pengamat Sebut Prabowo Perkasa di 2029, Lawan Bakal Minta Izin Maju Tapi Bukan untuk Mengalahkan
Jaisy Rahman Tohir February 15, 2026 06:11 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat politik Hendri Satrio menilai posisi Presiden Prabowo Subianto perkasa dalam menghadapi Pilpres 2029 mendatang.

Bahkan, menurut dia, calon penantang yang maju nanti bukan semata untuk mengalahkan Prabowo, melainkan lebih kepada menabung popularitas dan elektabilitas untuk kontestasi politik berikutnya, 2034.

Hal itu disampaikan Hendri dalam program Gaspol yang tayang di Youtube Kompas.com, Minggu (15/2/2026).

“Memang per hari ini tuh agak sulit cari penantangnya Pak Prabowo ya. Kalaupun ada penantangnya pasti mereka nih juga wait and see dulu. Karena Pak Prabowo kan per hari ini memang ya disukai lah,” kata Hendri.

Founder lembaga survei KedaiKOPI itu menjelaskan, sejumlah program pemerintah yang menyentuh langsung masyarakat turut mendongkrak tingkat kesukaan publik terhadap Prabowo, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, hingga Koperasi Merah Putih.

Menurut Hendri, kondisi tersebut mengikuti pola politik sebelumnya, di mana presiden petahana hampir selalu memiliki peluang besar untuk kembali terpilih.

“Makanya dari zaman Susilo Bambang Yudhoyono itu belum pernah ada incumbent yang gagal dua periode. Maksudnya pasti penantangnya Pak Prabowo juga memperhatikan itu,” ujarnya.

Maju Bukan untuk Mengalahkan

Hendri menyebut, figur yang tetap maju melawan Prabowo di Pilpres 2029 kemungkinan besar memiliki tujuan jangka panjang, yakni mempersiapkan diri untuk Pilpres 2034.

Menurut dia, momentum Pilpres bisa dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan diri kepada publik secara luas.

“Kalaupun ada penantang yang maju itu dia pasti preparation, persiapan untuk 2034. Jadi dia nabung elektabilitas sama nabung popularitas aja,” jelas Hendri.

Ia menambahkan, keikutsertaan dalam Pilpres secara otomatis memberikan popularitas politik yang besar, bahkan tanpa harus memenangkan kontestasi.

Momen politik sebesar Pilpres 2029 pun menjadi terlalu sia-sia untuk dilewatkan.

“Kalau kita hitung-hitungan, kita pasti kalah, tapi kan negara secara tidak langsung sudah mempopulerkan kita lewat kertas suara, lewat sosialisasi-sosialisasi. Itu popularitas gratis,” ujarnya.

Sebut Nama-Nama Potensial Penantang

Hendri bahkan menyinggung sejumlah nama tokoh politik yang berpotensi maju, seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, hingga Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.

Namun, menurut dia, jika tokoh-tokoh tersebut maju, bukan berarti mereka benar-benar menargetkan kemenangan atas Prabowo.

“Kalau tiba-tiba mereka maju itu juga pasti tabungan, menabung untuk 2034,” kata Hendri.

Ia bahkan menyebut secara simbolik bahwa calon penantang kemungkinan akan tetap menghormati posisi Prabowo sebagai petahana.

Hendri memprediksi para calon presiden di 2029 akan menghadap Prabowo dan mengaku tidak akan berambisi mengalahkan.

“Kalau tiba-tiba dia Muhaimin Iskandar Maju itu juga pasti tabungan, menabung untuk 2034. Bahlil maju begitu juga. Zulhas maju begitu juga. AHY maju begitu juga. Oke, pasti mereka ya ini mohon maaf nih bukannya saya sok tahu nih, misalnya besok mau pendaftaran, itu pasti menghadap Pak Prabowo. 'Pak Prabowo saya izin saya ingin maju ke perhelatan Pilpres, cuma bukan untuk mengalahkan Bapak. Saya mendukung Bapak tapi saya perlu menghidupi partai, Pak.  Jadi saya minta izin'," kata Hendri mengandaikan pertemuan antara Prabowo dengan calon lawannya di Pilpres 2029.

Dengan situasi pengandaian seperti itu, menurut Hendri, Prabowo tidak ada alasan melarang, sebab ada jaminan kemenangan.

Prabowo Dinilai Sudah di Posisi Sangat Kuat

Lebih jauh, Hendri menilai, kekuatan politik Prabowo saat ini membuat kontestasi Pilpres 2029 cenderung tidak seimbang.

Menurut dia, calon penantang realistis memahami peluang kemenangan yang kecil, sehingga lebih fokus pada strategi jangka panjang.

“Siapapun nanti yang maju tujuannya nabung elektabilitas, nabung popularitas. Karena menang itu sulit,” tegas Hendri.

Ia menambahkan, Pilpres 2029 tetap menjadi momentum penting bagi politisi, karena memberikan panggung nasional yang sulit didapat di luar kontestasi tersebut.

“Kalau sampai enggak maju 2029, kehilangan satu momen politik penting,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.