TRIBUN-TIMUR.COM, BONE – Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat di Kelurahan Mampotu, Kecamatan Amali, Kabupaten Bone, terlihat berbondong-bondong mendatangi Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Tepatnya TPU yang terletak di jalan Poros Taretta- Tabbae, Kelurahan Mampotu Kecamatan Amali, Kabupaten Bone, Minggu (15/2/2026).
Tradisi ziarah ini sudah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri menyambut bulan puasa.
Sejak pagi hari, warga mulai berdatangan membawa sapu, parang kecil, hingga kantong plastik untuk membersihkan area pemakaman.
Suasana tampak ramai, dipenuhi warga dari berbagai usia yang datang silih berganti.
Beberapa warga terlihat menyapu daun kering dan mencabuti rumput liar yang menutupi nisan keluarga mereka.
Baca juga: Jelang Ramadan 2026, Intip Progres Terbaru Masjid Megah Hj Andi Nurhadi Dibangun Amran
Kegiatan itu dilakukan secara gotong royong, baik oleh keluarga besar maupun kelompok kecil.
“Sebelum Ramadan datang, kita harus bersihkan dulu makam orang tua. Ini sudah jadi kebiasaan setiap tahun,” ujar seorang warga, Darma (35) yang ditemui di area pemakaman.
Menurutnya ziarah makam ini menjadi cara untuk mengingatkan diri tentang pentingnya memperbaiki hubungan dan kesiapan spiritual sebelum memasuki Ramadan.
“Rasanya lebih tenang kalau sudah datang ziarah. Kita mendoakan mereka, dan sekaligus menyiapkan hati untuk puasa,” sambungnya.
Hingga siang hari, arus warga tidak menunjukkan tanda-tanda berkurang.
Banyak keluarga datang bergantian untuk menghindari kerumunan terlalu padat, meskipun suasana tetap ramai sepanjang hari.
Di beberapa titik, tampak warga duduk melingkar sambil membacakan doa bersama.
Anak-anak pun turut hadir, sebagian membantu orang tua, sebagian lagi hanya bermain di sekitar area pemakaman.
“Anak-anak juga harus tahu tradisi ini. Supaya nanti mereka bisa lanjutkan kalau kita sudah tidak ada,” kata seorang pria paruh baya, Edi (50) yang datang bersama keluarganya.
Selain membersihkan makam dan berdoa, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi. Banyak warga saling menyapa dan berbincang setelah sekian lama tidak bertemu.
Saat memasuki sore hari, aktivitas ziarah tetap berlangsung.
Meski matahari mulai redup, warga masih berdatangan untuk menunaikan tradisi jelang Ramadan tersebut.
Tradisi ziarah bukan sekadar kebiasaan tahunan, tetapi simbol ikatan kuat antara warga dengan nilai spiritual dan budaya lokal.
Dirinya berharap tradisi ini tetap dijaga oleh generasi masa depan.(*)