Aturan Menteri Bahlil Terbaru Akan Stop Ekspor Timah Mulai 2027, Ini Alasannya
Rizky Zulham February 15, 2026 07:23 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Berikut terobosan aturan terbaru Menteri Bahlil yang berencana akan menghentikan ekspor timah mulai tahun depan 2027.

Terkait hal itu, berikut penjelasan lengkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Ia menargetkan penyetopan ekspor timah mulai tahun depan.

Menurutnya, ekspor barang mentah harus digantikan dengan komoditas hasil industri hilirisasi dalam negeri demi memperkuat posisi ekonomi Indonesia.

Baca juga: Intip! Bonus Hari Raya Gojek Lebaran Idul Fitri 2026 untuk Mitra Ojol, Aturan dan Jadwal Pencairan

"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Dan tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah.

Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," kata Bahlil pada Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat 13 Februari 2026.

Sebelumnya, Kementerian ESDM diketahui telah melakukan pelarangan ekspor bijih nikel pada tahun 2018-2019, yang berdampak pada total ekspor produk hilirisasi nikel mencapai 10 kali lipatnya pada periode 2023-2024.

"Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya US$3,3 miliar.

Dan kemudian begitu kita melarang ekspor, pada 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai USD34 miliar.

10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Inilah kemudian yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata, menciptakan lapangan pekerjaan," ujar Bahlil. 

Adapun, terkait hilirisasi, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun.

Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis dan ditargetkan mulai berjalan pada tahun ini, termasuk hlirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batubara, hingga kilang minyak.

Produk hasil hilirisasi ini ditargetkan menjadi barang yang dapat menggantikan barang-barang impor dari luar negeri.

Bahlil pun mengundang investor nasional, termasuk sektor perbankan, untuk masuk menyuntikkan dananya pada proyek strategis nasional ini.

"Semua produknya adalah untuk melahirkan substitusi impor. Ini captive market dalam negeri.

Nah ini kesempatan perbankan untuk membiayai.

Jangan sampai kalian tidak biayai lagi, nanti dikira hilirisasi itu hanya nilai tambahnya dikuasai oleh teman-teman kita dari luar negeri," pungkasnya.

Hingga 2040 mendatang, program hilirisasi di berbagai sektor diprediksi akan mendatangkan investasi hingga US$618 miliar.

Dari jumlah itu, USD498,4 miliar datang dari subsektor mineral dan batubara (minerba) dan US$68,3 miliar dari minyak dan gas bumi.

Baca juga: Jadwal Resmi Pencairan THR Idul Fitri 2026 Lengkap Aturan Karyawan Swasta, PNS TNI Polri & Pensiunan

Hilirisasi juga diproyeksikan mendatangkan ekspor US$857,9 miliar, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) US$235,9 miliar, hingga lebih dari 3 juta tenaga kerja.

Semoga informasi ini bermanfaat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.