TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - "Satu bulan di sana, rasanya seperti 10 tahun hidup di neraka." Kalimat pilu itu meluncur dari bibir Andri Budi Sanjaya, warga Kota Jambi yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja.
Niat hati merantau demi upah Rp12 juta per bulan sebagai karyawan restoran, Andri justru terjebak dalam sindikat kriminal bersenjata dan dipaksa menjadi operator penipuan daring (scamming) dengan ancaman nyawa sebagai taruhannya.
Andri menceritakan berangkat pada pertengahan Desember 2025 lalu setelah mengetahui lowongan kerja di Facebook.
Namun, setibanya di Kamboja, ia tidak dibawa ke restoran, melainkan ke sebuah kompleks gedung tertutup yang dijaga ketat oleh puluhan penjaga bersenjata.
Di sana, ia dipaksa melakukan Love Scamming dengan menggunakan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk menciptakan karakter palsu demi memikat korban di media sosial, lalu menguras harta mereka melalui platform trading fiktif.
Sistem kerja yang diterapkan sangatlah tidak manusiawi; para pekerja diawasi selama 24 jam dan dituntut memenuhi target omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.
Jika target tersebut tidak tercapai atau jika pekerja mencoba melawan, siksaan fisik seperti pukulan besi hingga ancaman penjualan organ tubuh menjadi ancaman nyata yang harus mereka hadapi.
Andri menyaksikan sendiri bagaimana rekan-rekan senegaranya diperlakukan secara keji, bahkan ada yang dikabarkan hilang tanpa jejak.
Keajaiban datang saat otoritas Kamboja menggelar razia besar-besaran yang membuat para pengelola sindikat panik dan memilih melepaskan para pekerja.
Memanfaatkan situasi tersebut, Andri berhasil menyelamatkan paspornya dan melarikan diri ke kantor imigrasi setempat.
Meski telah berhasil lolos dari penyekapan, langkah Andri untuk pulang ke Jambi kini terganjal tembok besar berupa biaya tiket pesawat yang tidak sedikit.
Bagaimana kisah warga Kota Jambi itu mengalami siksaan dan bisa lolos? Berikut wawancara Andri Budi Sanjaya bersama Jurnalis Tribun Jambi, Syrillus Krisdianto:
Tribun Jambi: Halo, selamat siang Bang Andri. Bisa diceritakan bagaimana awalnya Abang bisa sampai ke Kamboja? Informasi apa yang Abang dapatkan saat itu?
Andri Budi Sanjaya: Selamat siang. Awalnya saya sedang tidak bekerja di Jambi. Lalu saya melihat lowongan di grup Facebook yang menawarkan kerja di restoran di Kamboja.
Janji gajinya sangat besar, sekitar 800 USD atau lebih dari Rp12 juta per bulan.
Karena tergiur, saya berangkat tanggal 16 Desember 2025 lewat Pekanbaru untuk buat paspor.
Saya pikir ini beneran kerja halal, ternyata saya ditipu habis-habisan oleh agen.
Tribun Jambi: Sesampainya di sana, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah benar bekerja di restoran?
Andri Budi Sanjaya: Sama sekali bukan. Begitu mendarat, saya dijemput mobil dan dibawa ke sebuah kompleks gedung tinggi yang dijaga ketat oleh sekitar 70-80 orang penjaga bersenjata.
Di situ ada ratusan orang Indonesia. Ternyata itu bukan restoran, tapi perusahaan scamming (penipuan daring).
Saya dipaksa menipu orang lewat media sosial.
Tribun Jambi: Bisa Abang jelaskan sistem kerjanya? Tadi Abang menyebut soal penggunaan AI (Kecerdasan Buatan).
Andri Budi Sanjaya: Iya, ini yang mengerikan.
Kami dipaksa membangun "karakter" palsu menggunakan bantuan AI. Kalau kita laki-laki, kita diberi profil perempuan cantik, begitu juga sebaliknya. Kami dilatih untuk "mencintai" korban (modusnya pacaran atau Love Scam).
Setelah korban percaya dan ada ikatan batin karena karakter AI tadi terlihat nyata, baru kami arahkan mereka untuk investasi ke platform trading palsu. Padahal itu semua jebakan untuk menguras uang mereka.
Tribun Jambi: Bagaimana jika Abang atau pekerja lain menolak untuk menipu?
Andri Budi Sanjaya: Di sana, kalau tidak dapat omzet atau tidak mau menipu, taruhannya nyawa.
Siksaan fisik itu sudah jadi makanan sehari-hari. Saya sendiri pernah melihat orang dibenturkan ke kaca atau dipukul besi.
Bahkan ada ancaman penjualan organ tubuh seperti ginjal.
Banyak warga Indonesia di sana yang hilang tanpa jejak atau meninggal tanpa diketahui keluarganya.
Sebulan di sana rasanya seperti 10 tahun hidup di neraka.
Tribun Jambi: Lalu, bagaimana ceritanya Abang bisa lolos dan sampai ke KBRI/Penampungan Imigrasi?
Andri Budi Sanjaya: Kejadiannya pas ada razia besar-besaran dari otoritas Kamboja kemarin.
Bos-bos di sana ketakutan. Mereka panggil kami, lalu paspor dikembalikan.
Mereka bilang, "Siapa yang mau lanjut kerja tetap di sini, yang tidak mau silakan pergi."
Saya langsung ambil paspor dan lari secepat mungkin sebelum penjaganya berubah pikiran.
Sekarang saya di penampungan Imigrasi Kamboja.
Tribun Jambi: Apa kendala utama Abang untuk pulang ke Jambi saat ini?
Andri Budi Sanjaya: Masalah biaya. Pemerintah kita lewat KBRI memang membantu urusan surat-surat (SPLP) dan penghapusan denda overstay, tapi untuk tiket pesawat pulang itu ditanggung sendiri.
Saya baru kerja sebulan dan sama sekali tidak digaji, jadi saya tidak punya uang sepeser pun. Saya sebatang kara di sini.
Tribun Jambi: Apa harapan Abang kepada Pemerintah Provinsi Jambi atau pihak-pihak terkait?
Andri Budi Sanjaya: Saya sangat memohon kepada Bapak Gubernur Jambi, para pejabat, atau siapapun yang peduli, tolong bantu kepulangan saya.
Saya ingin pulang ke Jambi.
Saya juga sedang mendata warga Jambi lainnya di penampungan ini untuk dilaporkan ke manajemen Indonesia di sini agar bisa dibantu bareng-bareng.
Tribun Jambi: Apa pesan Abang untuk warga Jambi lainnya agar tidak mengalami hal yang sama?
Andri Budi Sanjaya: Jangan pernah percaya lowongan kerja di Facebook dengan gaji besar di Kamboja atau negara sekitarnya.
Semua itu penuh risiko. Gaji besar tidak menjamin kenyamanan kalau nyawa taruhannya.
Cukup saya yang jadi korban, jangan ada lagi warga Jambi yang terjebak di sana. (Tribunjambi.com/Syrillus Krisdianto)
Baca juga: Kondisi Terkini WNI Jambi Korban Scam di Kamboja, Nasib Audy Belum Diketahui
Baca juga: Jadwal Bus dan Travel Jambi-Palembang 16 Februari 2026, Harga Rp175 Ribu