TRIBUNNEWSDEPOK-Pihak Maskapai Super Air Jet buka suara perihal delay lima jam dalam penerbangan Jakarta-Bali.
Sebelumnya viral video yang memperlihatkan keluhan penumpang yang tertahan di dalam kabin pesawat selama lima jam.
Selama lima jam pesawat tersebut tidak kunjung lepas landas ke Bali karena diduga ada masalah mesin.
Namun demikian para penumpang tidak diminta turun keluar pesawat dan hanya menunggu di dalam kabin.
Hingga seorang penumpang emosi dan menghampiri pramugari karena kesal dengan sikap maskapai yang menelantarkan penumpang di dalam kabin selama lima jam.
Penumpang tersebut kemudian protes dan marah-marah ke pramugari.
Hal ini lantaran mereka tertahan di kabin selama lima jam tanpa kompensasi.
Belum lagi banyak penumpang anak-anak yang sampai jatuh sakit karena terjebak di dalam kabin pesawat selama lima jam.
Anak penumpang tersebut juga bahkan hingga mengalami muntah-muntah karena lima jam di pesawat yang tidak bergerak.
Baca juga: Periksa Sopir, Polisi Kantongi Identitas Penumpang Mesum di Taksi Online
Setelah protes tersebut kemudian awak pesawat mengeluarkan penumpang dari pesawat untuk menunggu di ruang tunggu Bandara.
Naas saat sibuk mengurus anak yang sakit di Bandara, penumpang protes itu ditinggal oleh pesawat untuk terbang ke Bali dengan mengganti dengan pesawat lain.
Penumpang itu pun melakukan refund tiket pesawat dan menggantinya dengan maskapai lain.
Terkait video tersebut pihak maskapai Super Air Jet yakni Lion Group buka suara.
Lion Air membenarkan peristiwa delay 5 jam yang sempat viral di media sosial.
Corporate Communication Strategic Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro mengatakan kejadian ini dialami penumpang pesawat Super Air Jet dengan nomor penerbangan IU-742 rute Jakarta-Bali pada Kamis (12/2/2026).
Super Air Jet pun memohon maaf atas keterlambatan tersebut.
"Super Air Jet menyampaikan permohonan maat atas ketidaknyamanan yang dialami para tamu terkait keterlambatan keberangkatan penerbangan IU-742 rute Jakarta menuju Bali," kata Danang dimuat Kompas.com terima, Jumat (13/2/2026) malam.
Lebih lanjut disampaikan bahwa keterlambatan terjadi karena pesawat yang direncanakan mengoperasikan penerbangan tersebut perlu menjalani pemeriksaan teknis tidak terjadwal.
Proses ini, sambungnya, merupakan bagian dari prosedur operasional yang wajib dilakukan untuk memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan.
Dalam pelaksanaannya, kata Danang, pengerjaan membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan secara instan.
Sehingga, kondisi ini berdampak pada rotasi pesawat berikutnya.
"Sebagai bentuk perhatian, kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku telaj dijalankan dan diberikan kepada para tamu. Kami juga terus menyampaikan perkembangan informasi selama proses penanganan berlangsung," katanya. Ia juga menekankan bahwa keselamatan dan keamanan merupakan aspek prioritas utama.
(Wartakotalive.com/DES/Kompas.com)