TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) sepekan terakhir bergerak fluktuatif.
Setelah sempat menguat pada awal pekan lalu, harga emas batangan Antam terkoreksi tajam pada Jumat (13/2) sebelum kembali rebound pada akhir pekan.
Dalam sepekan lalu, harga emas Antam tercatat mengalami kenaikan Rp 34.000, dari Rp 2,92 juta pada Minggu (8/2), menjadi Rp 2,954 juta/gram pada Sabtu (14/2).
Di tengah fluktuasi itu, harga emas diperkirakan berpotensi mengalami lonjakan seiring dengan kondisi geopolitik dan perekonomian global yang masih panas.
Pengamat komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, faktor yang memicu kenaikan harga emas antara lain sentimen geopolitik di Timur Tengah, dan kondisi perpolitikan di Amerika Serikat (AS).
Kemudian, kebijakan bank sentral AS, serta masalah supply dan demand logam mulia.
Menurut dia, pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Israel mengindikasikan potensi penyerangan Iran.
Hal itu kemungkinan akan membuat ketegangan tersendiri terhadap kondisi geopolitik di Timur Tengah. “Ini akan berdampak terhadap kenaikan harga emas,” katanya, Minggu (15/2).
Ibrahim menuturkan, harga emas dunia pada Sabtu (14/2) pagi ditutup di level 5.042 dolar AS per troi ons, dan harga emas Antam di level Rp 2,954 juta per gram.
Jika harga emas dunia turun, ia memproyeksikan support atau batas bawah pertama harga emas dunia dalam sepekan ini di level 4.947 dolar AS per troi ons, sedangkan harga emas Antam di Rp 2,92 juta per gram.
Kemudian, jika harga emas dunia turun lagi, support kedua harga emas diperkirakan di 4.818 dolar AS per troi ons, sedangkan harga emas Antam di Rp 2,86 juta per gram.
“Seandainya harga emas dunia naik, resistance pertama diperkirakan di 5.134 dolar AS per troi ons, sedangkan harga emas Antam di Rp 3 juta per gram,” ucapnya.
"Selanjutnya, jika harga emas dunia kembali naik, resistance kedua diperkirakan di level 5.245 dolar AS per troi ons, sedangkan harga emas Antam di Rp 3,15 juta per gram," tambah Ibrahim.
Masih konstruktif
Adapun, meski pergerakan harga logam mulia mulai menunjukkan perlambatan setelah reli tajam yang terjadi pada akhir 2025 hingga Januari 2026, prospek jangka menengah hingga panjang dinilai masih tetap konstruktif, seiring dengan kuatnya sentimen fundamental global.
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai, perlambatan harga ini bukanlah sinyal berakhirnya tren kenaikan logam mulia.
Ia menegaskan, secara fundamental belum ada perubahan signifikan yang dapat mengubah arah tren dalam jangka menengah maupun panjang.
“Secara umum belum banyak perubahan fundamental jangka menengah, apalagi jangka panjang, emas dan perak masih bullish” ujarnya kepada Kontan, Kamis (12/2).
Menurut dia, koreksi harga pada Februari dipicu oleh beberapa faktor utama. Pertama, data tenaga kerja AS pada Januari 2026 yang lebih kuat dari ekspektasi pasar.
Kondisi itu kembali memunculkan narasi suku bunga tinggi lebih lama dari The Federal Reserve.
Sebagai aset non-yielding, emas sangat sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga.
Ketika ekspektasi pemangkasan suku bunga melambat, daya tarik emas dalam jangka pendek cenderung berkurang karena investor beralih ke instrumen berbunga.
Kedua, faktor teknikal. Setelah mencetak all time high (ATH) secara berulang, sejumlah indikator teknikal menunjukkan kondisi overbought, yang memicu aksi ambil untung oleh pelaku pasar.
“Saya melihat ini lebih sebagai fase distribusi dan profit taking yang sehat,” tukasnya. (Tribunnews/Kontan/Vatrischa Putri Nur)