TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – International Conference on Malay Culture and Built Environment (ICOMCUBE) 2026 sukses menjadi wadah dalam menyatukan akademisi, peneliti, praktisi, hingga pelaku industri untuk membahas warisan budaya Melayu dalam kaitannya dengan lingkungan binaan serta perkembangan teknologi dan material konstruksi di kawasan Asia Tenggara.
Konferensi internasional bertema Living Heritage: The Malay Built Environment across the Strait of Malacca ini digelar di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Jumat (13/2/2026).
Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari berbagai negara yang membahas beragam topik, mulai dari evolusi arsitektur klasik, lanskap budaya Melayu, perencanaan kota modern, hingga inovasi material bangunan yang relevan dengan tantangan iklim tropis dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam salah satu sesi utama, Assoc Prof Dr. Laziz Rahimov Abduazizovich dari Samarkand State Architectural and Construction University memaparkan perkembangan arsitektur Mughal serta pengaruhnya terhadap arsitektur dunia.
Ia menjelaskan bahwa arsitektur Mughal mengalami transformasi signifikan, mulai dari penggunaan batu pasir merah hingga mencapai puncak kejayaan estetika pada masa pemerintahan Shah Jahan melalui penggunaan marmer putih.
Menurutnya, peralihan material tersebut menandai fase penyempurnaan arsitektur yang mencerminkan masa keemasan peradaban Mughal.
“Dari batu merah ke marmer putih, fase berikutnya menandai periode penyempurnaan yang luar biasa. Era ini dapat dilihat sebagai lapisan luar dari sebuah masa keemasan, ketika arsitektur Mughal mencapai ekspresi paling matang,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa masa pemerintahan Shah Jahan menjadi puncak integrasi berbagai tradisi arsitektur dunia.
“Puncak tertinggi arsitektur Mughal sangat terkait dengan masa pemerintahan Shah Jahan, yang memperkenalkan estetika klasik baru yang ditandai dengan simetri, proporsi, dan penggunaan marmer putih yang berkilau,” katanya.
Dirinya menuturkan, pada periode tersebut terjadi perpaduan kuat pengaruh Persia, Timurid, dan India yang melahirkan bangunan dengan nilai simbolik kekuasaan, spiritualitas, dan kesempurnaan seni.
Selain membahas warisan arsitektur klasik, konferensi ini juga menyoroti isu kontemporer seperti ruang terbuka perkotaan, perencanaan komunitas, lanskap berbasis kearifan lokal Melayu, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pelestarian warisan budaya melalui Building Information Modelling (BIM).
Baca juga: Dekkson Paparkan Inovasi Material Pintu di ICOMCUBE 2026, Tekankan Pentingnya Standarisasi Nasional
Sementara itu, dari sektor industri, Dekkson turut memaparkan perkembangan material bangunan, khususnya inovasi material pintu yang disesuaikan dengan karakteristik lingkungan Indonesia.
Marketing Director Dekkson, Lucky Nugroho, menekankan bahwa tantangan pembangunan di Indonesia maupun Asia tidak hanya soal modernisasi, tetapi juga pembangunan sistem melalui standarisasi nasional.
“Secara umum, baik di Indonesia maupun Asia, tantangannya bukan hanya mengejar modernisasi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sistem melalui standarisasi,” ujarnya.
Menurutnya, standarisasi material dan konstruksi dapat mempercepat pembangunan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan material.
“Kalau pemerintah mendorong standarisasi, maka pembangunan bisa lebih cepat, lebih hemat, dan waste material bisa lebih terkontrol,” katanya.
Ia menegaskan kualitas arsitektur tidak hanya berkaitan dengan estetika visual, tetapi juga perlindungan bangunan, keamanan, kenyamanan, serta ketahanan jangka panjang.
“Arsitektur yang baik bukan hanya indah secara visual. Kita juga butuh kualitas perlindungan bangunan, keamanan, dan ketahanan jangka panjang. Kualitas arsitektur itu berkaitan langsung dengan kualitas proyek,” jelasnya.
Dalam paparannya, Lucky juga menyoroti tantangan Indonesia dalam menerapkan satu standar nasional material dan konstruksi. Berdasarkan hasil riset, masih terdapat perbedaan standar di berbagai wilayah.
“Setelah riset dilakukan, ternyata sangat sulit menemukan satu standar ukuran yang sama. Kita punya banyak wilayah dengan kondisi berbeda-beda, sehingga standarisasi menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa standar nasional tetap perlu disusun dengan mempertimbangkan karakteristik daerah, namun memiliki acuan kualitas yang sama, termasuk standar ukuran material, spesifikasi teknis, serta pengujian keamanan.
“Standar itu tidak hanya ukuran, tetapi juga harus mencakup safety testing dan kualitas performa material. Jadi bangunan tidak hanya indah, tapi juga aman dan berkelanjutan,” katanya.
Lucky juga mendorong mahasiswa arsitektur dan bidang material bangunan untuk berani melakukan riset dan inovasi.
“Mahasiswa ke depan tidak cukup hanya mengikuti tren. Mereka harus berani riset, berani bereksperimen, dan menciptakan solusi yang relevan dengan kebutuhan Indonesia dan Asia,” ujarnya.
Ia berharap generasi muda dapat menjadi pencipta inovasi, bukan hanya pengguna teknologi dan material.
Melalui ICOMCUBE 2026, diharapkan kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah semakin kuat dalam mendorong pengembangan arsitektur dan material bangunan berkualitas, sekaligus tetap selaras dengan nilai budaya serta kebutuhan lingkungan di kawasan Asia Tenggara.
Konferensi ini juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan lintas negara untuk memperkuat pemahaman hubungan antara sejarah, budaya, dan perkembangan lingkungan binaan modern di kawasan budaya Melayu.
Baca juga: Pakar Samarkand Kupas Perkembangan Arsitektur Mughal dalam Konferensi ICOMCUBE 2026 USU