TRIBUN-BALI.COM - Tidak ada angin maupun hujan, pohon beringin yang berusia lebih dari 300 tahun di depan Puri Kantor Ubud, Kecamatan Ubud, Gianyar tumbang, Minggu (15/2) sekitar pukul 16.30 Wita.
Pohon tersebut tumbang karena mengalami pelapukan, serta sempat diterpa angin kencang dan hujan lebat pada Sabtu (14/2) kemarin.
Informasi dihimpun Tribun Bali, pohon tersebut selama tumbuh di bagian depan Puri Kantor Ubud. Pohon tersebut selama ini dirawat pihak puri. Pemangkasan rutin dilakukan, serta pembersihan lumut atau tanaman parasit juga dilakukan. Sebab beringin ini menjadi satu di antaranya ikon Ubud.
Pengelingsir Puri Kantor Ubud, Tjokorda Gede Asmara Putra Sukawati saat ditemui di puri menjelaskan, sebelum pohon tersebut tumbang, dirinya bersama sejumlah seniman prada bekerja di bale bengong yang berada di bawah pohon tersebut. Setelah itu, Cok Asmara meninggalkan bale bengong untuk istirahat di kamarnya.
Baca juga: KORBAN Jiwa Tanah Longsor Kintamani Bali, I Wayan Buda Tertimbun Material Setinggi 100 Meter
Baca juga: SOPIR Dump Truk Tewas Terjepit di Kabin, Kecelakaan Maut di Jalur Penghubung Sidemen–Klungkung
Tak berselang lama, ia mendengar suara dentuman. Iapun mendapatkan informasi, pohon beringin di depan puri tumbang, menimpa bangunan bagian luar puri, bale bengong tempat seniman prada bekerja, serta sejumlah toko dan tiang listrik.
“Saya terkejut, saya teringat di bawah sana masih ada yang mengerjakan prada. Saat saya cek, bangunannya sudah rusak parah, beruntung mereka selamat semua,” ujarnya.
Cok Asmara mengaku sangat bersedih dengan tumbangnya beringin ini. Sebab pohon tersebut merupakan salah satu ikon Ubud dan menjadi jejak sejarah Ubud. Diungkapkan, pohon ini menyisakan tunas baru, dirinya akan merawatnya seperti merawat pohon yang tumbang ini.
“Pohon beringin ini sangat kami rawat. Bahkan beberapa kali mendatangi BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) untuk melakukan pemangkasan. Setiap ada tanaman parasit yang menempel di pohon, juga sudah kami bersihkan. Sangat disayangkan sekali, pohon yang berusia lebih dari 300 tahun itu harus tumbang. Jika ada tunas barunya, tentu akan kami rawat,” ujar Cok Asmara.
Adapun kerusakan yang ditimbulkan pohon tumbang ini, terjadi pada bale bengong, candi bentar, tembok penyengker, bale kukul yang sebelumnya ada di tengah pohon. “Kerugian belum bisa ditafsir,” ujarnya.
Terkait dugaan pohon tersebut tumbang, kata Cok Asmara, diduga karena sudah lapuk. Hal itu terlihat dari batang bawah pohon yang sudah mengering dan kehitanam.
“Tadi saya amati di batang utama bagian bawah sudah lapuk. Belum lagi kemarin sempat ada angin kencang, kemungkinan karena itu,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Gianyar, Ida Bagus Putu Suamba saat ditemui di lokasi mengatakan, sebelumnya ia menerima laporan dari Camat Ubud bahwa pohon beringin besar di jantung kota Ubud tumbang. Pihaknya langsung menurunkan semua personel untuk melakukan proses evakuasi.
“Kami langsung terjunkan tim dengan kekuatan penuh. Setelah sampai di sini, banyak kepolisian dan TNI sudah ada di sini. Jadi kami kolaborasi dengan tim yang ada,” ujarnya.
Gus Suamba mengatakan proses normalisasi relatif membutuhkan waktu. “Material tumbang sangat besar, kami akan berusaha secepatnya bisa dinormalkan, karena ini merupakan pusat pariwisata Ubud, agar tidak menganggu aktivitas pariwisata,” ujarnya.
Terkait kerusakan dan kerugian pihaknya masih melakukan pendataan. Namun sejauh ini, kerusakan terjadi pada bangunan puri hingga sebuah mobil Terios yang kacanya retak. “Astungkara, tidak ada korban jiwa,” ujarnya. (weg)