Pelajaran Mengambil Keputusan di Sekolah
suhendri February 15, 2026 11:03 PM

Oleh: Andre Pranata - Pendidik di SMPN 2 Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah

BANYAK sekali yang menyesal karena telah memilih pilihan hidupnya di masa lampau. Terkadang banyak juga yang larut dalam kesalahan dalam mengambil keputusan. Pada orang dewasa, harus menentukan pilihan yang baik untuk dirinya dan bahkan untuk
keluarganya. Acapkali pilihan-pilihan dalam mengambil keputusan di hari kemarin merusak dan berdampak sistemik dalam kehidupan seseorang. 

Contohnya adalah seseorang yang memutuskan untuk berhenti sekolah di kelas 8 atau di kelas 2 SMP. Kalau pelajaran mengambil keputusan diajarkan sejak dini di sekolah, tentu saja hal tersebut tidak akan terjadi. Anak yang berhenti sekolah memiliki sedikit opsi dalam memilih pekerjaan di masa mendatang. Apalagi sekarang untuk melamar pekerjaan dibutuhkan ijazah setara kelulusan minimal sekolah menengah atas. Dibanding dengan anak-anak yang menamatkan sekolah menengah atas atau bahkan perguruan tinggi, jelas dunia terasa tidak adil bagi yang tidak menamatkan sekolah menengah atas.

Itulah mengapa pelajaran mengambil keputusan bagi anak penting sekali diajarkan sejak dini di sekolah. Anak-anak diberikan pengalaman dan pengetahuan baru sehingga memancing mereka untuk tertarik melanjutkan sekolah. Selain itu, pelajaran mengambil keputusan juga sangat berpengaruh untuk anak-anak, terutama jika mereka sudah dewasa.

Guru di kelas mengajarkan dan memberikan pelajaran yang berpusat kepada anak sehingga mereka percaya diri untuk mengambil sebuah keputusan yang mereka pilih dalam pembelajaran di kelas. Kemudian, penting juga untuk mengingatkan kepada anak-anak untuk menghargai dan menghormati keputusan temannya. Terkadang anak-anak tidak mau mengambil keputusan disebabkan karena mereka takut bahwa pilihan mereka akan dirundung oleh teman-teman yang lain. Lalu, penting juga untuk memberi tahu ke anak-anak bahwa jangan takut salah, karena belajar itu harus salah dan harus diperbaiki. 

Penyebab anak-anak tidak percaya diri dalam mengambil keputusan biasanya dimulai dari rumah. Orang tua terkadang otoriter, anak harus menuruti semua keputusan yang dibuat oleh orang tua. Bagi anak yang mentalnya kuat, tentu saja tidak menjadi masalah. Masalahnya adalah banyaknya anak-anak yang menahan keinginannya di masa kecil sehingga menyebabkan luka yang berkelanjutan. Di sekolah juga terkadang banyak guru yang cenderung otoriter sehingga menyebabkan anak-anak malas untuk membuat keputusan.

Nah, anak-anak harus dipandu dalam keputusan-keputusan yang diambil. Keputusan yang diambil haruslah diberikan penjelasan mengenai efek samping dan penerawangan masa depan yang kompleksitas terkait keputusan yang diambil.

Misalkan di sekolah menengah pertama, ada pemilihan ketua OSIS yang baru. Guru dan anak-anak harus membedah visi misi calon ketua OSIS tersebut. Membedah visi misi apakah sesuai untuk kemajuan sekolah dan merangkul semua kalangan di sekolah.

Tugas guru hanya menjelaskan poin positif dan negatifnya. Guru tidak boleh intervensi dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh anak-anak dalam konteks pemilihan ketua OSIS tadi.

Itu mungkin salah satu cara sederhana untuk membangkitkan kepercayaan diri anak-anak dalam mengambil keputusan. Bisa dimulai dari sekolah, melalui guru dan berkolaborasi dengan anak-anak. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.