Analisis Pakar UPN Veteran Yogyakarta soal Potensi Perang Dunia III : 50-50
Muhammad Fatoni February 15, 2026 11:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kekhawatiran warga di berbagai negara tentang kemungkinan meletusnya Perang Dunia III dalam lima tahun ke depan semakin mendekati keniscayaan.

Konflik Rusia dengan Ukraina nyaris memasuki tahun keempat.

Sementara tarif impor yang agresif oleh Amerika, hingga ambisi gila Presiden Donald Trump sejak 2019 ingin membeli pulau raksasa Greenland yang memiliki potensi cadangan oksida tanah jarang sekitar 38,5 juta metrik ton menguatkan isu Perang Dunia III.

Termasuk kekuatan di beberapa negara yang saling mengungguli mulai dari Rusia, China, Korea Utara bahkan negara-negara di Timur Tengah juga mulai ikut ambil bagian.

Kemungkinan Meletusnya Perang Dunia III

Dikutip dari Kompas.com, berdasarkan hasil survei dari Politico, memperlihatkan lebih dari 2.000 responden di masing-masing negara pada 6–9 Februari, sebanyak 46 persen warga AS menyebut Perang Dunia III 'mungkin' atau 'sangat mungkin' terjadi sebelum 2031.

Angka tersebut naik dari 38 persen pada Maret 2025.

Lonjakan paling tajam terjadi di Inggris.

Sebanyak 43 persen responden Inggris kini menilai perang dunia baru kemungkinan terjadi dalam lima tahun ke depan, meningkat dari 30 persen pada Maret tahun lalu. 

Secara umum, mayoritas responden di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Perancis memandang dunia semakin berbahaya. 

Hanya di Jerman, publik cenderung menilai perang dunia ketiga tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Selain itu, setidaknya satu dari tiga responden di AS, Inggris, Perancis, dan Kanada percaya senjata nuklir kemungkinan atau sangat mungkin digunakan dalam perang dalam lima tahun ke depan. 

Di Eropa, Rusia dipandang sebagai ancaman terbesar terhadap perdamaian, seiring invasi besar-besaran Moskwa ke Ukraina yang mendekati tahun keempat. 

Sementara itu, responden Kanada melihat Amerika Serikat sebagai ancaman terbesar bagi keamanan mereka. 

Di Perancis, Jerman, dan Inggris, Amerika Serikat disebut sebagai ancaman terbesar kedua setelah Rusia, bahkan lebih sering disebut dibanding China.

Baca juga: Sinyal Perang Dunia Menyala, Rusia Diam-Diam Latih China Hadapi Senjata AS dan NATO

Faktor Karakter Sistem Internasional 

Pakar Politik, Departemen Politik dan Pemerintahan UPN Veteran Yogyakarta, Dr Nikolaus Loy, sepakat semua manusia di bumi khawatir akan terjadinya Perang Dunia III

"Hampir semua perang besar itu, misalnya perang dunia pertama, kemudian perang dunia kedua itu, selalu berhubungan dengan karakter dari sistem internasional yang bipolar atau multipolar," katanya, saat dihubungi, Minggu (15/2/2026).

Dia mengklaim ada pendapat yang mengatakan bahwa situasi yang dihadapi sekarang merupakan situasi multipolar.

Tidak ada lagi negara yang sangat dominan seperti era 1950 sampai 1990.

Karena itu dalam situasi multipolar ini, kekuatan tersebar, baik Amerika Serikat, Rusia, kemudian China, lalu ada Uni Eropa, termasuk Brazil yang sedang bangkit.

Karena kekuatan tersebar itu, maka ada dua pendapat bahwa risiko perang lebih besar, karena tidak ada kekuatan hegemon yang bisa mengendalikan dinamika politik internasional.

"Karena untuk perang besar itu kan membutuhkan dukungan aliansi. Nah itu yang pertama. Jadi dalam pandangan ini, sisi multipolar ini sebenarnya lebih bisa mencegah perang dibandingkan ketika bipolar misalnya, ini pendapat ahli, ya," ujarnya.

Pola Aliansi

Yang kedua, dalam sisi multipolar ini menurut Niko terjadi pola aliansi.

Karena menurutnya, sekali lagi, bahwa untuk perang besar butuh dukungan aliansi.

Sementara dalam sisi multipolar, pola aliansi  berubah-ubah. Sehingga menjadi lebih fleksibel, berganti-ganti. Dan kadang-kadang aliansi hanya berdasarkan pada isu.

Pada isu tertentu mereka bertentangan, dan pada isu lain mereka kemudian berkoalisi misalnya. Jadi pola aliansi menjadi sangat tumpang tindih.

"Hingga kemudian perang besar itu sangat mungkin tidak akan terjadi," ungkapnya.

Tetapi di pihak lain, menurutnya perang tetap akan mungkin terjadi karena dalam pola aliansi cair ini, konflik antara dua negara, misalnya di dalam satu region, itu kemudian bisa merambat jadi konflik besar. 

Karena justru di tengah tidak ada kekuatan besar itu, negara-negara yang lebih kecil  punya kekuatan militer.

Mereka bisa mengambil inisiatif untuk menyelesaikan persoalan dengan menggunakan kekuatan militer itu sendiri

"Nah kita lihat misalnya ada dua kawasan yang mengkhawatirkan. Pertama, Timur Tengah. Di dalam beberapa retorika, misalnya Netanyahu mengatakan bahwa mereka akan tetap menyerang Iran, meskipun tanpa keterlibatan AS. Itu kan berbahaya," jelasnya. 

Di sisi lain China sangat cukup dekat dengan Iran, mereka memiliki kerja sama energi yang besar, sehingga kemudian ketika China masuk membela Iran misalnya, lalu menarik AS masuk ke konflik, kemudian Rusia akan masuk dan itu akan mendorong konflik yang lebih besar.

Selain itu di Asia Timur ada Korea Utara yang perilakunya susah dikontrol. Mereka memiliki nuklir yang mematikan.

"Ketika opsi militer (Korut) itu digunakan untuk menyelesaikan isu nuklir, lalu AS merespons, maka akan menarik Cina masuk ke dalam, menarik Jepang masuk ke dalam, dan negara-negara lain harus memilih di antara aliansi-aliansi yang terlibat dalam perang itu. Jadi ini dua pandangan yang sama kuatnya," ungkapnya.

Baca juga: Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Aman Bila Terjadi Perang Dunia 3, Ini Data Lengkapnya

Potensi 50-50

Dari sudut pandang itu, Niko melihat potensi munculnya Perang Dunia III sangat mungkin terjadi.

"Apakah Perang Dunia III akan meletus? Saya cenderung mengatakan, ya, tetapi dengan beberapa kondisi," ungkapnya.

Jika dilihat tren dalam rentang waktu tahun 1990-2000 sistem internasional relatif stabil karena Amerika Serikat hanya menjadi satu-satunya kekuatan hegemon yang mendorong liberalisasi dan interdependensi ekonomi.

Kemudian pascatahun 2000 terjadi kebangkitan kembali kekuatan negara dan satu kejaran lagi yaitu militerisasi di banyak negara. 

"Jadi ada perlombaan senjata yang meningkat begitu besar dalam bentuk naiknya anggaran militer, modernisasi perjalanan yang kemudian menimbulkan persoalan di banyak negara yang disebut sebagai dilema keamanan," ungkapnya.

Di tengah situasi ini, publik disajikan dengan fenomena beberapa negara yang jor-joran belanja senjata.

Misalnya di Asia Tenggara, Indonesia memodernisasi kekuatan militer, kemudian Taiwan, lalu belanja militer India, Jepang, semua naik, termasuk Korea Selatan dan China lagi.

"Situasi ini sangat berbahaya karena ketika ada satu letupan kecil, kemudian karena semua orang sudah siap perang, itu bisa memicu konflik yang lebih besar karena situasi dilema keamanan itu," ungkapnya.

Hal kedua, menurut Nimo akan terjadi perang jika muncul satu aliasi kekuatan baru yang kemudian mendorong, menarik negara-negara lain ke dalam aliasi itu. 

Patut dikhawatirkan ketika di tengah konflik lalu muncul aliansi kekuatan China-Rusia dan menarik negara lain ke dalam aliansi itu.

Terutama bersamaan dengan misalnya ketika terjadi runtuhnya aliasi Transatlantik AS-Eropa.

"Jadi ini situasi-situasi yang kemudian bisa mengarah pada perang. Yang keempat itu, kalau kita pelajari Perang Dunia Kedua misalnya, ada aspek ekonomi di situ," terang dia.

Kebijakan tarif dagang Amerika Serikat menurut Niko menjadi "kompor" untuk memanaskan situasi konflik.

Para pemimpin akan menggunakan isu krisis ekonomi, kemiskinan, ketidkpuasan sosial dalam negeri dengan mencari kambing hitam dari luar negeri untuk menjadi musuh bersama. 

Inilah yang terjadi dengan Jerman sebelum Perang Dunia II dimana Hitler kemudian memobilisasi kekalahan Jerman ke Perang Dunia II.

"Sehingga saya katakan kalau kita boleh simpulkan ya, peluang perang dan tidak perang mungkin 50-50 dengan prakondisian tadi, kira-kira begitu," ujarnya.

Dari semua penjelasan itu, ada satu faktor lagi yag mungkin akan membuat negara-negara besar menahan diri yakni kepemilikan senjata nuklir. 

"Perang nuklir menimbulkan mutual destruction (kehancuran timbal balik). Variabel nuklir akan mencegah AS, Rusia, China dan pemilik arsenal nuklir berhitung berkali-kali sebelum menjadikan perang terbuka sebagai opsi penyelesaian konflik," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.