BANJARMASINPOST. CO.ID – Beruang madu yang berkeliaran di Pasaman Barat membuat 4 orang terluka
.
Satu diantaranya pertugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pasaman Barat terluka akibat diserang beruang madu di Labuah Barulak, Nagari Sinuruik, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, Minggu (15/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Sehari sebelumnya, Sabtu (14/2/2026) sekitar pukul 08.00 WIB, beruang madu tersebut lebih dulu menyerang tiga warga yang sedang panen padi di kawasan yang sama.
Kepala Resort Pasaman BKSDA Sumbar, Edi Susilo, membenarkan kejadian tersebut saat dikonfirmasi TribunPadang.com.
Ia menjelaskan, setelah menyerang warga pada Sabtu pagi, beruang sempat melarikan diri ke arah bukit usai dikejar masyarakat.
Baca juga: Aksi Pelecehan di Depan Kos Wanita Banjarbaru, Pelaku Semprotkan Sperma ke Sepeda Motor
Baca juga: Tusuk Siswa SMP Membabi Buta Hingga Tewas, 2 Teman Lama Luapkan Dendam, Kini Terancam Hukuman Mati
Namun, pada Minggu siang hewan tersebut kembali muncul dan menyerang petugas BKSDA yang tengah melakukan penelusuran.
“Beruang madu ini dikejar masyarakat karena sudah sangat meresahkan. Tadi sekitar pukul 14.00 WIB kembali muncul dan menyerang satu orang petugas kami,” ujarnya.
Petugas yang diserang mengalami luka di bagian kaki kiri, tepat di atas pergelangan, dan harus mendapatkan lima jahitan.
Saat itu, petugas hendak membius beruang dengan tembakan, namun diserang secara mendadak.
Edi menegaskan, total korban akibat serangan beruang madu tersebut kini berjumlah empat orang, terdiri dari tiga warga dan satu petugas BKSDA.
Adapun tiga warga yang sebelumnya terluka yakni Aidil Putra (20), warga Barulak; Sabri (65), warga Talu; dan Maijasman (63), warga Barulak.
Seluruh korban telah dievakuasi dan mendapatkan perawatan di RSUD Pasaman Barat serta Puskesmas Talu.
Edi mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pengejaran karena berisiko tinggi jika berhadapan langsung dengan satwa liar tersebut.
Baca juga: Duel Berdarah Terjadi Sehari Dua Kali di Tapin, Polisi Dalami Motif dan Imbau Warga Tahan Emosi
Saat ini, petugas BKSDA bersama BKSDA Agam, Centre for Orangutan Protection (COP), wali nagari, dan masyarakat masih melakukan penelusuran untuk memastikan arah larinya beruang. Situasi di lokasi dilaporkan mulai kondusif dengan meningkatnya kewaspadaan warga.
Seekor anak beruang dilaporkan terperangkap dalam jebakan yang dipasang warga di Desa Pulau Salak, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanahbumbu, Kalimantan Selatan, Sabtu (5/7/2025).
Kabar yang beredar, insiden ini memicu kemarahan induk beruang yang mencoba menyelamatkan anaknya. Hal ini lantas membuat khawatir warga sekitar.
Terkait hal ini, Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Koordinator Penanganan Konflik Satwa Liar Balai KSDA Kalsel, Jarot membenarkan kejadian yang kabarnya menyebar luas di masyarakat tersebut.
Jaarot mengungkapkan bahwa laporan awal pihaknya terima dari petugas Daops Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan yang sedang berpatroli di desa Pulau Salak.
dalam laporan tersebut disebutkan ada penemuan 1 ekor anak beruang yang terkena jerat babi hutan. Petugas selanjutnya melakukan evakuasi dan berkoordinasi dengan pihaknya.
Baca juga: Dua Korban Duel Berdarah di Tapin Dirawat di RSUD Datu Sanggul, Satu Orang Jalani Operasi 3 Jam
“Saat tim BKSDA bergerak untuk menangani ternyata satwa tsb diinformasikan telah mati sekitar jam 16.15 WITA,” katanya.
Dilanjutkan olehnya, secara umum dalam menangani konflik satwa, tim BKSDA akan melakukan survei lokasi dan memasang kandang jebak.
Ketika satwa tertangkap akan dibawa terlebih dahulu ke kandang transit untuk pemeriksaan kesehatan. Bila kondisinya baik dan menunjukkan perilaku/sifat liar yang memungkinkan untuk hidup di alam, maka akan dilepasliarkan ke habitat alami.
Dia melanjutkan, beruang madu adalah binatang yang mayoritas makannya berasal dari tumbuhan. Ini memberikan gambaran bahwa pakannya ada di habitat aslinya yg berada di Pulau Salak bukan di area pemukiman warga.
“Artinya agar masyarakat aman, untuk sementara masyarakat dihimbau untuk tidak beraktivitas ke lokasi yg menjadi Habitatnya di area berhutan yang ada di Pulau dan masyarakat disarankan tidak beraktivitas di luar rumah di malam hari karen
Baca juga: BMKG Stamet Syamsudin Noor Sampaikan Peringatan Dini Banjir Rob Akibat Air Pasang di Pesisir Kalsel
a beruang termasuk hewan nokturnal, aktif mencari makan dimalam hari,” katanya.
Paska kejadian ini, BKSDA Kalsel akan melakukan pemasangan kandang jebak di sekitar tempat penemuan anak beruang tersebut.
Tujuannya jelas yaitu untuk menyelamatkan induk beruang yang saat ini masih ada disana. Ketika tertangkap, rencana beruang akan dibawa ke lokasi lain yang lebih baik.
“Sembari proses penjebakan berlangsung, kami akan memberikan edukasi ke masyarakat melalui pemasangan papan himbauan, agar masyarakat tidak mengganggu keberadaan beruang dan mendekati area yg saat ini menjadi habitatnya,” ujarnya
Jebakan yang dipasang masyarakat sebenarnya ditujukan untuk menjebak hewan pengganggu seperti babi hutan. Namun di lapangan, jebakan tersebut dapat berdampak pada satwa liar lain yang bukan menjadi target.
“Terkait hal ini Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tidak lagi memasangnya. Kegiatan pengendalian hewan pengganggu dapat diganti dengan metode lain yang lebih aman dan tidak membahayakan satwa dilindungi yang berhabitat di dalamnya,” ujarnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Fikri Syahrin/tribunpadang.com)