Presiden Zelensky Soal Perundingan Damai: AS Terlalu Sering "Menekan"
Ryan Nong February 16, 2026 12:19 AM

POS-KUPANG.COM, KIEV - Ukraina akan segera duduk kembali di meja perundingan dengan Rusia. Perundingan akan ditengahi oleh Amerika Serikat.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky berharap, perundingan perdamaian dengan Rusia yang dimediasi oleh Amerika Serikat kembali digelar minggu depan.

Akan tetapi, ia memperingatkan bahwa Kyiv terlalu sering diminta untuk membuat konsesi dan mendesak sekutunya untuk memberikan jaminan keamanan yang jelas.

Pernyataan itu disampaikannya dalam Konferensi Keamanan Munich tahunan pada Sabtu (14/2/2026).

Konferensi itu berlangsung ketika Presiden AS Donald Trump berupaya menengahi kesepakatan untuk mengakhiri perang terbesar di Eropa sejak tahun 1945. Ketiga pihak dijadwalkan untuk kembali bertemu di Jenewa, Swiss, pekan depan.

Dalam pidatonya, Zelensky mengatakan ia berharap pembicaraan trilateral di Jenewa pada hari Selasa dan Rabu akan serius, substantif dan bermanfaat untuk semua pihak.

“Tapi jujur saja, terkadang rasanya kedua pihak membicarakan hal-hal yang sama sekali berbeda,” kata Zelensky, dikutip dari Aljazeera, Minggu (15/2/2026).

“AS sering kembali membahas topik konsesi dan terlalu sering konsesi tersebut hanya dibahas dalam konteks Ukraina, bukan Rusia,” sambungnya.

Pemimpin Ukraina itu juga berpendapat, akan ada peluang lebih besar untuk mengakhiri perang jika negara-negara Eropa memiliki kursi di meja perundingan. Sayangnya, hal itu ditentang oleh Moskwa.

“Eropa praktis tidak hadir di meja perundingan. Menurut saya, itu adalah kesalahan besar. Ukraina terus kembali pada satu poin sederhana,” ujarnya.

“Perdamaian hanya dapat dibangun di atas jaminan keamanan yang jelas. Di mana tidak ada sistem keamanan yang jelas, perang akan selalu kembali,” lanjutnya.

Salah satu isu paling kontroversial dalam negosiasi adalah tuntutan Rusia untuk penarikan penuh pasukan Kyiv dari wilayah Donetsk di Ukraina timur yang masih dikuasainya. 

Ukraina menolak penarikan sepihak, sekaligus menuntut jaminan keamanan Barat untuk mencegah Rusia melancarkan kembali invasinya jika gencatan senjata tercapai.

Dalam pernyataannya kepada wartawan, Zelensky mengatakan, AS telah mengusulkan jaminan keamanan yang berlaku selama 15 tahun setelah perang, tetapi Ukraina menginginkan kesepakatan selama 20 tahun atau lebih. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.