Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan, posisi hilal awal bulan Ramadan 1447 H pada Selasa, 17 Februari 2026 masih berada di bawah ufuk atau minus. Kemungkinan besar, hilal baru akan memenuhi kriteria MABIMS pada Rabu, 18 Februari 2026.
Kendati demikian, keputusan resmi hilal baru akan ditetapkan melalui Sidang Itsbat yang digelar Kementerian Agama pada Selasa (17/2) mendatang. BMKG juga mengajak warga menyaksikan proses pengamatan hilal jelang Ramadan 2026 lewat di https://hilal.bmkg.go.id.
Sebelum mengamati, ada baiknya mengetahui dulu, apa itu hilal dan kenapa harus terlihat?
Apa Itu Hilal?
Dalam laman Stasiun Geofisika Kupang BMKG dijelaskan, hilal adalah bulan sabit muda pertama yang bisa dilihat setelah terjadinya konjungsi bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam, yang menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender Islam. Hilal juga merupakan bagian dari fase-fase bulan.
Selaras, studi Tsyah Amilia dan rekan-rekan UIN Sunan Ampel Surabaya berjudul "Menajar Ulang Batas Visibilitas Hilal: Kajian Kritis atas Kritera Baru MABISM di Wilayah Tropis" dalam Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Volume 2 Nomor 2 Juli 2021 menjelaskan, hilal sebagai bulan sabit pertama masih sangat muda dan sangat sulit terlihat. Untuk itu, pengamatannya kerap menggunakan teleskop dan kamera khusus.
Hilal biasanya diamati pada hari ke-29 dari bulan Islam. Munculnya hilal menentukan apakah hari berikutnya sudah terjadi pergantian bulan atau belum.
Kenapa Hilal Harus Terlihat?
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaludin dalam laman resmi BRIN menjelaskan, awal bulan Hijriah semula dilakukan dengan metode rukyat atau pengamatan hilal secara langsung.
Kelak, muncul metode hisab atau perhitungan dengan pendekatan matematis dan astronomis, yang bisa digunakan untuk memperkirakan posisi hilal dan awal bulan Hijriah sebelum mengamati hilal.
Kendati hisab dinilai sangat akurat, ia menjelaskan, hasil pengamatan hilal masih disukai umat Islam. Sebab, terlihatnya hilal menjadi bukti fisik datangnya awal bulan, khususnya awal Ramadan, 1 Syawal atau Idulfitri, dan Idul Adha.
Tsyah dan rekan-rekan menjelaskan, terlihatnya hilal juga menyangkut aspek sosial dan keagamaan. Terlihatnya hilal memperkuat sahnya pelaksanaan ibadah umat Islam, seperti puasa Ramadan dan ibadah Hari Raya Idulfitri.
Forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) menyepakati imkanur rukyat atau kemungkinan hilal terlihat untuk penentuan awal bulan Hijriah. Berdasarkan kriteria MABIMS, awal Ramadan 1447 H jatuh saat hasil pengamatan hilal menunjukkan tinggi hilal minimal 3° dan elogasi 6,4°, yang disingkat menjadi IR 3-6,4.
BMKG dalam unggahan resmi @infoBMKG menjelaskan, pihaknya akan melakukan pengamatan hilal pada Selasa-Rabu, 17-18 Februari 2026 di 37 lokasi se-Indonesia. BMKG memprediksi hilal awal Ramadan baru akan terlihat pada Rabu, 18 Februari 2026 dengan ketinggian mencapai 7,62° sampai 10,03°.
Melihat Hilal Saat Terhalang Cuaca
Thomas menjelaskan, kendati disukai umat muslim RI, pengamatan hilal punya tantangan sendiri imbas faktor cuaca dan geografis. Contohnya, hilal yang sangat tipis bisa terhalangi cuaca mendung dan cahaya senja.
Untuk mengatasi kesulitan melihat hilal dengan mata telanjang, pengamatannya membutuhkan alat seperti teleskop dengan kamera digital dan pemrosesan citra . Teknologi ini bantu meningkatkan kontras hilal dengan cara menumpuk ratusan gambar pada satu frame.
"Teknologi ini memungkinkan hilal yang sangat redup bisa terlihat lebih jelas," ujarnya.







