Tribunlampung.co.id, Pringsewu – Produksi padi Kabupaten Pringsewu sepanjang tahun 2025 mencapai 154.391 ton dengan luas panen sebesar 24.882 hektare.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan Pringsewu Luky Adrian mengatakan, capaian tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024 yang mencatat produksi 143.903 ton dengan luas panen 22.651 hektare.
Data tersebut berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) untuk tahun 2025 dan Angka Tetap BPS 2024.
Menurutnya, kenaikan produksi dan luas panen ini menunjukkan tren positif sektor tanaman pangan di Bumi Jejama Secancanan.
Selain meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, capaian produksi tahun 2025 juga melampaui target yang telah ditetapkan.
Baca juga: Polisi Olah TKP Jasad Kabid DPMPTSP Tanggamus di Kantornya
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung tertanggal 17 Oktober 2024, target produksi padi Kabupaten Pringsewu tahun 2025 sebesar 151.146 ton.
“Realisasinya mencapai 154.391 ton atau 102,15 persen dari target yang ditetapkan. Sementara untuk luas panen, dari target 24.991 hektare terealisasi 24.882 hektare atau sebesar 99,56 persen,” kata Luky kepada Tribunlampung.co.id, Senin (16/2/2026).
Keberhasilan peningkatan produksi tersebut tidak terlepas dari peran penyuluh pertanian yang melakukan pendampingan intensif kepada kelompok tani.
Luky menjelaskan, pendampingan difokuskan pada percepatan tanam di lahan sawah yang memiliki potensi peningkatan indeks pertanaman, sehingga target tanam yang diberikan pemerintah pusat dapat tercapai.
Selain itu, program bantuan pemerintah turut memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas.
Penyaluran benih varietas unggul kepada kelompok tani yang sebelumnya masih menggunakan benih turunan mampu meningkatkan hasil per hektare.
Kemudian, juga kata Luky, dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti handtraktor, transplanter, hingga combine harvester juga mempercepat proses olah lahan, tanam, dan panen.
Di sisi lain, tantangan cuaca dan ancaman serangan hama tetap menjadi perhatian.
“Fenomena iklim seperti El Nino berpotensi menurunkan produktivitas, namun hal tersebut diantisipasi melalui percepatan tanam dan penggunaan varietas berumur genjah agar tanaman tidak terdampak puncak musim kemarau,” paparnya.
Upaya pengendalian hama dan penyakit juga diperkuat melalui pengamatan rutin oleh petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT).
Pengamatan ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini sehingga tindakan pengendalian dapat segera dilakukan apabila terjadi lonjakan populasi hama.
Dengan capaian tersebut, Pemerintah Kabupaten Pringsewu optimistis sektor pertanian, khususnya komoditas padi, akan tetap menjadi penopang ketahanan pangan daerah.
Strategi penguatan penyuluhan, penyediaan sarana produksi, serta mekanisasi pertanian akan terus ditingkatkan guna menjaga tren positif produksi pada tahun-tahun mendatang.
(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)