Gaya Menkeu Purbaya Bakar Semangat Wisudawan UI, Singgung Menuju Indonesia Emas: Gak Usah Takut
Putra Dewangga Candra Seta February 16, 2026 11:32 AM

 

SURYA.co.id – Lupakan sejenak wajah serius Purbaya Yudhi Sadewa saat berdebat soal anggaran atau menyentil dugaan korupsi.

Di podium wisuda Universitas Indonesia, Sabtu (14/2/2026), sang Bendahara Negara tampil dengan persona berbeda, santai, tajam, dan sangat membumi.

Menurut pantauan SURYA.co.id, di hadapan ribuan lulusan baru, Purbaya tak datang membawa janji politik atau slogan bombastis. 

Ia memilih jalur yang jarang dipakai pejabat, memaparkan data, menyederhanakan ekonomi makro, lalu menjadikannya bahan bakar optimisme yang terasa realistis.

Hasilnya, pidatonya mencuri perhatian, bukan karena retorika, melainkan karena kepemimpinan modern yang terasa dekat dengan generasi baru.

Mengapa Purbaya Begitu Relevan?

OTT KPK - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengomentari anak buahnya di Kementerian Keuangan terjaring OTT KPK, Rabu (4/2/2026).
OTT KPK - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengomentari anak buahnya di Kementerian Keuangan terjaring OTT KPK, Rabu (4/2/2026). (Tribunnews.com)

Generasi Z dikenal alergi pada janji manis yang tak punya dasar.

Di titik inilah Purbaya menemukan momentumnya. Alih-alih berkata “Indonesia akan jaya”, ia berbicara dengan angka, proyeksi, dan prasyarat yang gamblang.

“Ekonomi kita akan tumbuh lebih cepat. Tahun ini mungkin mendekati 6 persen, tahun depan di atas 6 persen sampai akhirnya mendekati 8 persen seperti yang dijanjikan.”

Ia lalu mengaitkan data tersebut dengan masa depan audiensnya secara langsung.

“Artinya apa? Kita sedang betul-betul menuju arah Indonesia emas. Jadi, Anda enggak usah takut dengan masa depan Anda,” kata Purbaya dikutip SURYA.co.id dari tayangan YouTube Universitas Indonesia.

Pendekatan ini membangun trust. Harapan yang ia tawarkan tidak mengawang, tetapi berpijak pada kalkulasi ekonomi yang bisa diuji dan diperdebatkan.

Dari “Pembersih KKN” ke “Pemberi Jalan”

Dalam sepekan terakhir, publik menyaksikan dua wajah Purbaya yang kontras namun saling melengkapi.

Minggu lalu, ia tampil sebagai penjaga gawang: sosok keras yang menyinggung skandal, membongkar penyimpangan, dan tak segan melontarkan kritik tajam.

Hari ini, di kampus, ia berubah menjadi “kakak mentor”, memberi peta jalan, bukan ancaman.

Ia mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia terlalu lama puas di level lima persen.

“Ia mengatakan ekonomi Indonesia sudah lama tumbuh pada kisaran lima persen yang menurut sebagian pihak itu sudah maksimal.”

Namun bagi Purbaya, angka itu tak cukup untuk masa depan.

“Kalau kita ingin menjadi negara maju, tumbuh 5 persen itu tidak cukup. Kalau saya lihat Korea, Taiwan, Jepang, Amerika, Jerman, even (bahkan) Cina, untuk menjadi negara maju, Anda harus tumbuh double digit dalam lebih dari 10 tahun,” tuturnya.

Strategi soft power ini efektif, Purbaya tak hanya dikenal sebagai “tukang marah”, tetapi juga sebagai pembangun masa depan yang menawarkan arah.

Membedah Gaya Komunikasi Purbaya di Podium

PURBAYA MURKA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Hotel Westin, Jakarta Selatan, Kamis (20/11/2025). Menkeu Purbaya baru-baru ini mengungkap kegeramannya terkait pajak dan restitusi Jumbo yang bikin negara tekor.
PURBAYA MURKA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Hotel Westin, Jakarta Selatan, Kamis (20/11/2025). Menkeu Purbaya baru-baru ini mengungkap kegeramannya terkait pajak dan restitusi Jumbo yang bikin negara tekor. (Tribunnews.com)

Ada tiga ciri utama gaya komunikasi Purbaya di UI.

Pertama, jujur pada syarat dan risiko.

Ia tak menjual mimpi instan.

Kedua, menggunakan perbandingan global untuk memperluas perspektif mahasiswa.

Ketiga, menautkan kebijakan negara dengan realitas individu, pekerjaan, kesempatan, dan masa depan pribadi.

Ia menegaskan bahwa pertumbuhan tinggi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan untuk menyerap angkatan kerja baru.

“Padahal, menurutnya ekonomi Indonesia harus tumbuh enam persen sampai tujuh persen untuk menyerap tenaga kerja baru yang memasuki usia kerja.”

Gaya ini membuat ekonomi makro, yang biasanya membosankan, terasa relevan dan personal.

“Indonesia Emas” Bukan Lagi Sekadar Slogan

Ketika target pertumbuhan delapan persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto kerap dianggap mustahil, Purbaya justru memposisikannya sebagai prasyarat logis.

“Jadi ketika Pak Prabowo bilang (target pertumbuhan ekonomi) 8 persen, kita banyak ngetawain kan. Oh, enggak mungkin. Enggak mungkin. Tapi itu adalah prasyarat untuk menuju negara maju.”

Bahkan, ia menyebut angka itu masih batas minimal.

“8 (persen) masih kurang mestinya harus didorong ke arah 10 (persen). Tapi untuk 5 tahun ke depan kalau dapat 8 (persen) udah cukup,” ungkapnya.

Dalam forum lain, optimisme itu ditegaskan kembali.

“Kalau kita lihat gradiennya meningkat artinya kita akan memasuki fase pertumbuhan yang lebih cepat. Dan kalau kita jaga baik bagus, dengan baik, kita akan bisa terus terjadi sampai 2033 nanti,” kata Purbaya.

“Jadi kelihatannya, kita mungkin ada kemungkinan besar Pak, bisa membawa ekonomi Indonesia ke Indonesia Emas, bukan Indonesia Suram,” sambungnya.

Ia pun menegaskan komitmen fiskal negara.

“Pertumbuhan ekonomi kita di APBN tahun ini berapa? 5,4 persen. Tapi saya akan coba dorong ke arah 6 persen,” tegas Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan itu.

Penampilan Purbaya di Universitas Indonesia menegaskan satu hal penting, ia adalah salah satu aset komunikasi terkuat pemerintah saat ini.

Dengan gaya santai namun berbasis data, ia mampu mengubah angka yang kaku menjadi harapan yang membara.

“Jadi Anda enggak usah takut prospek jangka menengah ekonomi kita. Itu akan terjadi betul. Karena kebijakan kita pas, Menterinya pas lah kira-kira ya Pak,” tuturnya.

Bagi para wisudawan, Purbaya bukan sekadar Menteri Keuangan.

Di podium UI, ia tampil sebagai penerjemah masa depan, membuktikan bahwa optimisme paling kuat lahir bukan dari janji, melainkan dari data yang jujur.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.