Wali Kota Dedy Wahyudi Prihatin, Usia 17 Tahun Terlibat Prostitusi Saat Skrining HIV di Bengkulu
M Syah Beni February 16, 2026 11:48 AM

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Kasus HIV di Kota Bengkulu menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu. Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, saat meninjau langsung kegiatan skrining HIV di salah satu rumah kos di Kelurahan Kebun Beler, Minggu (15/2/2026).

Kedatangan wali kota berlangsung ketika tim Pemkot Bengkulu melalui Dinas Kesehatan bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tengah melakukan tes HIV terhadap sejumlah penghuni kos yang diduga terlibat praktik prostitusi daring (online).

Di lokasi, Dedy Wahyudi berdialog langsung dengan para penghuni kos. Ia menanyakan identitas, alamat, serta alasan mereka terlibat dalam praktik prostitusi. Salah satu perempuan mengaku berasal dari Kabupaten Bengkulu Tengah, sementara lainnya tercatat beralamat di kawasan Hibrida sesuai kartu tanda penduduk (KTP).

Lonjakan Kasus HIV karena Seks Bebas

Dedy mengungkapkan, pelaksanaan tes HIV tersebut dilakukan menyusul adanya peningkatan jumlah penderita HIV di Kota Bengkulu.

“Kalau dulu penularannya banyak melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian, tetapi saat ini lebih banyak karena hubungan seksual bebas,” kata Dedy dalam pernyataan resmi yang diterima TribunBengkulu.com.

Sebagai informasi, HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Jika tidak ditangani dengan pengobatan antiretroviral (ARV), HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), yakni kondisi ketika daya tahan tubuh menurun drastis dan rentan terhadap infeksi.

Menurut Dedy, peningkatan kasus yang didominasi kelompok usia produktif menjadi keprihatinan tersendiri bagi pemerintah daerah.

Prihatin Usia 17 dan 19 Tahun Terlibat

Dalam tinjauannya, Dedy mengaku prihatin karena menemukan penghuni kos yang masih berusia 17 dan 19 tahun diduga terlibat dalam praktik prostitusi online melalui aplikasi percakapan.

“Ada salah satu aplikasi yang menjadi tempat transaksi prostitusi. Yang kita prihatin, banyak yang terjangkit usia produktif. Seperti tadi, ada usia 17 dan 19 tahun. Saya tanya kenapa berhenti sekolah, alasannya karena capek. Itu alasan yang tidak masuk logika. Ada juga yang berhenti karena menikah lalu bercerai,” ungkap Dedy.

Ia menegaskan, jika tidak segera diambil langkah antisipatif, penyebaran HIV dikhawatirkan akan semakin cepat dan meluas.

Instruksi Pengawasan Kos-kosan Diperketat

Pemkot Bengkulu berkomitmen untuk terus melakukan langkah preventif, termasuk skrining kesehatan rutin dan pengawasan terhadap praktik-praktik berisiko.

Dedy juga menyoroti peran Ketua RT, lurah, dan camat yang selama ini dinilai cenderung enggan mencampuri urusan pribadi warganya. Ke depan, ia meminta aparatur wilayah memastikan rumah kos disewakan sesuai peruntukannya dan tidak dijadikan tempat praktik prostitusi terselubung.

“Kalau itu dibiarkan dan tidak cepat kita atasi, maka akan terjadi lonjakan besar ke depan. Kita sedang berjuang agar kota ini dijauhkan dari bala dan bencana. Karena itu, mari kita peduli dan tidak bersikap cuek,” tegas Dedy.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.