Mie instan sudah lama jadi makanan 'penyelamat' saat lapar melanda, karena praktis, murah, dan hanya butuh beberapa menit untuk disajikan. Tapi, kalau dimakan setiap hari, apa dampaknya bagi kesehatan?
Melansir dari ABC Asia (8/8), mie instan memang unggul dari sisi kepraktisan. Tak heran banyak orang menjadikannya sebagai menu andalan.
Namun, jika dilihat dari kandungan gizinya, makanan ini memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu diperhatikan. Sebungkus mie instan umumnya terdiri dari mie berbahan dasar tepung terigu olahan dan bumbu instan kemasan.
Meski beberapa produk menambahkan sayuran kering atau varian rasa tertentu, tapi kandungan nutrisinya tetap relatif serupa. Salah satu yang paling menonjol adalah kadar sodium atau garamnya yang tinggi, berkisar antara 600 hingga 1.500 miligram per porsi.
Angka tersebut sudah mendekati batas harian konsumsi sodium yang direkomendasikan World Health Organization (WHO), yaitu kurang dari 2.000 miligram sodium per hari.
Asupan garam berlebih secara terus-menerus dapat meningkatkan tekanan darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkaitan dengan risiko penyakit jantung dan masalah pada ginjal. Artinya, jika mie instan dikonsumsi terlalu sering, beban kerja organ-organ tersebut bisa meningkat.
Tak hanya soal garam, mie instan juga cenderung rendah serat. Mie instan terbuat dari tepung terigu putih yang telah melalui proses penggilingan halus, sehingga kandungan serat alaminya berkurang.
Padahal, serat berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan serta membantu mengontrol kadar gula darah. Kekurangan serat dalam pola makan harian dapat berdampak pada fungsi usus dan rasa kenyang yang kurang bertahan lama.
Dari sisi protein dan mikronutrien seperti vitamin serta mineral, mie instan juga tergolong minim. Makanan ini memang mengenyangkan karena tinggi karbohidrat, tetapi tanpa tambahan sumber protein atau sayuran. Hal tersebut membuat nilai gizinya menjadi tidak seimbang.
Di Korea Selatan, diketahui orang dewasa yang mengonsumsi mie instan lebih dari 2 kali per minggu dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik. Sindrom ini merupakan kumpulan kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan gangguan kesehatan lainnya.
Meski demikian, bukan berarti mie instan harus dihindari sepenuhnya. Jika dikonsumsi sesekali dan dipadukan dengan bahan bergizi seperti sayuran atau sumber protein, dampaknya tentu berbeda dibandingkan jika menjadi menu utama setiap hari. Jadikan mie instan sebagai makanan rekreasional.







