BUKAN satu, gelar doktor bagi Andi Syafril Chaidir Syam (49), Rabu (11/2/2026) siang, resmi menjadi dua.
Gelar doktor pertama, petahana Bupati Maros ini, bidang hukum.
Ini ia raih di kampus UMI Makassar, 4 Januari 2024 lalu.
Momennya, bertepatan, akhir periode pertama sebagai Bupati ke-14 Maros.
Doktor keduanya, bidang ilmu politik, kukuh di almamaternya, FISIP Unhas.
Gelar akademik ini disematkan 10 hari jelang tahun pertama periode keduanya sebagai orang nomor satu di Maros.
“Langka! Promovendus (Chaidir Syam) ini kalahkan 4 penguji dan 4 promotornya di ruangan ini. Kami tak ada yang punya 2 gelar doktor,” ujar Prof Dr H Armin Arsjad MA (60), saat menjadi Ketua Dewan Penguji sidang terbuka promosi doktor di Program Studi Ilmu Politik Unhas, kampus Tamalanrea, Makassar.
Judul disertasi doktornya, “Partai Politik dalam Perspektif Demokrasi; Studi Fenomenologi Calon Tunggal di Pilkada Maros.”
Tema disertasi ini terlalu rumit.
Di sela-sela sidang promosi doktor Sekretaris DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sulsel, muncul kelakar politik.
“Simpelnya, Pak Chaidir itu Doktor Politik Kotak Kosong,” ujar salah seorang kolega Chaidir dari Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Ilmu Pemerintahan FISIP Unhas.
Sematan kelakar gelar akademik itu punya rujukan.
Alasan memilih judul disertasi ini sangat akademik, faktual, masih aktual, dan relevan untuk politik masa depan Indonesia.
Saat Pilkada serentak memang tercatat sejarah demokrasi dunia. Digelar, 24 November 2024, setidaknya ada 640 pilkada daerah. Ada 37 provinsi, 93 kota dan 415 kabupaten.
Calon kepala daerah yang melawan Kotak Kosong, ada 37 daerah. Rinciannya, 1 provinsi (papua Barat),
5 kota, 31 kabupaten. Dan, Pilkada ‘Kotak Kosong” Maros satu-satunya di Sulsel.
Chaidir dalam paparan sidang, mengungkap latar belakang disertasinya dari rangkaian drama dan cerita politik praktis saat tahapan Pilkada Maros, 2024 lalu.
Kebetulan, beberapa detail dramaturgi politik itu, juga sempat disinggung Chaidir, dua hari sebelumnya, Senin (9/2/2026) malam di Newsroom Tribun Timur.
Secara terbatas. Sekitar 2 jam. Saat menjadi tamu Hari Ulang Tahun (HUT) 22 Tribun Timur, Chaidir runtut memaparkan cerita politik lokal itu.
“Bayangkan, ada 25 calon wakil bupati yang disodorkan elite 16 partai pengusung kami, saat ada pengumuman BNN (badan narkotika nasional),” ujar Chaidir memulai ceritanya.
Pimpinan Umum Tribun Timur Andi Suruji, Pemimpin Redaksi Thamzil Thahir, dan Wapemred AS Kambie, jadi pendengar aktif.
Dua pejabat eselon II dari Kota Makassar, Moh Rum, Kadis Kominfo Makassar, dan seorang kabidnya, juga jadi penyimak pasif.
Konteks drama dimulai saat ia ditanya soal ketegangan di akhir masa verifikasi faktual dan tes kesehatan Pilkada Serentak 2024 lalu.
Bayangkan, siapa gerangan tak tegang. Batas akhir penetapan calon pilkada serentak hari Minggu (22 September 2024).
Tapi tiba-tiba BNN, hari Jumatnya (20 September 2024), umumkan calon wakil bupati (Suhartina Bohari, 44), punya kendala kesehatan dan tak bisa ikut pilkada.
“Kalau saya ada riwayat (penyakit) jantung, mungkin (rilis) BNN itu saya langsung koma,” ujar Chaidir dengan tawa mengguncang tubuh tambun Chaidir.
Dan, pengumuman BNN itu ternyata baru awal. Ketegangan panjang dalam periode 48 jam baru saja dimulai.
Bukannya meredakan, panggilan telepon Ketua KPU Sulsel Hasbullah, justru menambah tensi ketegangan.
“Pokoknya Pak Bupati, kapan ada satu dari 16 partai tak setuju dan tarik dukungan, Pilkada Maros baru digelar tahun 2027.” kata Chaidir mengulang warning penyelenggara demokrasi.
Ayah 8 anak berkejaran dengan waktu.
Deringan telepon, pesan WhatsApp, langsung bertubi-tubi masuk ke gadgetnya.
Power bank 60 ribu MHA sampai harus berkali-kali dicharger untuk keperluan koordinasi, konsolidasi, dan eksekusi keputusan.
Tahu ada peluang, elite politisi dari 16 parpol pengusung, langsung menawarkan para calon pengganti Suhartina.
Ke-16 partai tersebut yakni Golkar, PAN, PDIP, Nasdem, Gelora, Hanura, PPP, PKS, Perindo, Gerindra PBB, PKB, Demokrat, PSI, Partai Buruh dan PKN.
Dan, dalam periode kurang dari 24 jam, para elite parpol, akademisi, kerabat, sahabat, dan hingga dosennya, langsung tawarkan calon unggulan.
“Pokoknya, ada 25 kalau saya hitung-hitung.”
Apakah drama sudah berhenti? Belum.
Di kubu, Suhartina kepanikan, cemas, curiga, sudah bercampur dengan kalkulasi politik.
Bukan lokal semata, regional, hingga elite nasional pun jadi pertimbangan. (nurul/anc/zil)