Polresta Denpasar Minta Waspada Perekrutan Kelompok Radikal Lewat Fitur Game Online
Ida Ayu Suryantini Putri February 16, 2026 03:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Medan perang kelompok radikal kini bukan lagi sekadar di dunia nyata, melainkan telah merambah ke dalam genggaman tangan anak-anak muda melalui fitur chat pada permainan daring atau game online.

Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam sosialisasi pencegahan radikalisme yang digelar Polsek Denpasar Selatan di Musala Fastabiqul Khoirot, Sanur, Denpasar Selatan, Denpasar, Bali pada akhir pekan kemarin.

Kegiatan ini menggandeng langsung Unit Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88 AT) Mabes Polri sebagai narasumber utama untuk membedah modus operandi terbaru jaringan terorisme.

Baca juga: Antisipasi Maut di Bahu Jalan, Satlantas Polresta Denpasar Edukasi Sopir Truk Soal Parkir Darurat

Terungkap pola rekrutmen saat ini sudah sangat adaptif. Jika dulu doktrin dilakukan secara tertutup di tempat tersembunyi, kini paham radikal disusupkan melalui obrolan santai saat bermain game online.

Sehingga salah satu penekanan dalam kegiatan ini yang menarik adalah pembahasan mengenai bahaya game online. 

Anak-anak sering kali merasa aman saat bermain game di rumah.

Baca juga: Hari Kedua Operasi Keselamatan Agung 2026, Polresta Denpasar Tindak Pelanggar di TL Buagan

Padahal, melalui fitur chat game online, oknum penyebar paham radikal bisa masuk, menjalin pertemanan, lalu perlahan menyisipkan ideologi kekerasan dan intoleransi. 

Peringatan ini sejalan dengan atensi dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang sejak tahun 2025 lalu telah memberikan peringatan keras mengenai kerentanan platform permainan daring terhadap penyebaran konten ekstremisme.

Dalam kesempatan tersebut, Aiptu Darto, S.H. dari Unit Densus 88 AT Mabes Polri memaparkan betapa pentingnya bagi remaja untuk memiliki pemahaman agama yang inklusif dan berpikir terbuka. 

Baca juga: IPTU Adi Saputra Jaya Gantikan Kompol Sukadi Yang Purna Tugas, Jabat Kasi Humas Polresta Denpasar

Ia mengingatkan agar para jemaah dan remaja tidak mudah tergiur oleh ajakan-ajakan yang menjanjikan kejayaan melalui jalan kekerasan.

"Jangan mudah percaya pada orang asing yang baru dikenal di lobi permainan, orang tua harus membatasi durasi bermain dan sesekali memantau isi percakapan anak di ponsel," bebernya kepada Tribun Bali, pada Senin 16 Februari 2026.

"Segera melaporkan jika menemukan konten atau ajakan yang mencurigakan ke pihak berwajib," imbuhnya. 

Sementara itu, Kapolsek Denpasar Selatan, AKP Agus Adi Apriyoga, S.I.K., M.H menegaskan bahwa komitmen Polsek Denpasar Selatan adalah terus hadir di tengah masyarakat, terutama di tempat ibadah dan lingkungan keluarga.

"Pencegahan radikalisme harus dimulai dari rumah. Sinergi antara kepolisian, tokoh agama, dan orang tua adalah kunci utama agar tetap aman dan generasi muda kita tidak salah melangkah," ungkap AKP Agus. 

Ketua Musala Fastabiqul Khoirot, Winarno, menyambut baik langkah preventif ini. Menurutnya, edukasi seperti ini sangat dibutuhkan agar para orang tua tidak gagap dalam mengawasi aktivitas digital anak-anak mereka.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 40 jemaah ini diakhiri dengan doa bersama, membawa harapan besar agar keamanan Kamtibmas di Denpasar tetap kondusif di tengah gempuran tantangan zaman digital. (*) 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.