TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Deforestasi di sekitar Kaligua, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, diduga memicu banjir bandang dan longsor di wilayah Kabupaten Banyumas di Kecamatan Cilongok bagian barat, Pekuncen, hingga Ajibarang.
Kawasan Kaligua merupakan satu di antara hulu sungai yang mengarah ke lereng selatan Gunung Slamet, yaitu wilayah Banyumas.
Itu sebabnya, banyak aktivis menyerukan pengembalian kawasan Kaligua ke wilayah administratif Banyumas lewat gerakan "Save Slamet".
Para aktivis menilai, pengelolaan hulu sungai di kawasan Kaligua berdampak langsung terhadap banjir dan longsor di wilayah Banyumas.
Baca juga: Temukan 5000 Hektare Hutan Jadi Pertanian, Pemkab Banyumas Dukung Gunung Slamet Jadi Taman Nasional
Aktivitas pertanian sayur yang masif di kawasan tersebut dinilai memperparah kerusakan hutan lindung.
Praktik pembabatan hutan bukan hanya merusak ekosistem tetapi juga memicu ketimpangan wilayah.
"Keuntungan disebut dinikmati pelaku dari luar daerah, sementara warga di hilir, terutama Banyumas, harus menanggung dampak bencana."
"Gerakan ini juga mengutip pembagian wilayah pada masa kolonial Belanda."
"Saat itu, batas administratif di Jawa Tengah disebut mengikuti alur sungai atau catchment area untuk mencegah konflik sumber daya," kata pegiat Save Slamet, Hendy Tr kepada Tribunbanyumas.com, Senin (16/2/2026).
Gunung Slamet yang memiliki ketinggian 3.428 meter menjadi pusat daerah tangkapan air yang mengalir ke sejumlah sungai, termasuk menuju Banyumas.
Dalam catatan sejarah, Residentie Banyumas mencakup wilayah Banyumas, Purwokerto, Cilacap, dan Banjarnegara.
Sementara, Residentie Pekalongan meliputi Pekalongan, Batang, Pemalang, Tegal, dan Brebes.
Kaligua, yang merupakan perkebunan teh peninggalan Belanda sejak akhir abad ke-19, berada di wilayah perbatasan tersebut.
"Bagian selatan kawasan itu disebut berada dalam pengaruh Banyumas, dengan akses utama melalui Purwokerto yang kala itu menjadi ibu kota karesidenan."
"Dokumen kolonial menunjukkan bahwa batas wilayah dirancang mengikuti sistem drainase alami agar pengelolaan air hujan lebih efisien dan mencegah banjir di wilayah hilir," terangnya.
Baca juga: Aktivitas Kegempaan Gunung Slamet Meningkat, Warga Dilarang Beraktivitas Radius 1 Km dari Kawah
Dalam peta administrasi era Hindia Belanda, wilayah lereng selatan Gunung Slamet, termasuk area yang kini dikenal sebagai Kaligua di Paguyangan, Brebes, disebut pernah berada dalam pengaruh Banyumas sebelum terjadi perubahan batas wilayah setelah kemerdekaan.
Ia menilai, kondisi saat ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap deforestasi di wilayah hulu.
Akibatnya, air hujan yang semestinya tertahan oleh hutan lindung justru mengalir deras ke wilayah hilir dan memperparah bencana.
Karena itu, pihaknya mengusulkan dua langkah.
"Pertama, pengembalian wilayah Kaligua ke Banyumas agar pengelolaan dilakukan secara terpadu berbasis daerah tangkapan air."
"Kedua, jika perubahan batas wilayah tidak memungkinkan maka diperlukan kerja sama lintas kabupaten yang ketat," katanya.
Langkah konkret yang diusulkan meliputi pengendalian pertanian liar, reboisasi hutan, pembangunan infrastruktur pengendalian air, serta campur tangan pemerintah pusat dalam pengelolaan kawasan lereng Gunung Slamet.
Ia mengajak semua pihak melakukan penyelamatan kawasan hulu Gunung Slamet demi mencegah bencana di wilayah hilir dan menjaga keselamatan warga. (*)