Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Pagi itu matahari menyingsingkan sinarnya ketika seorang wanita sedang fokus menggoreskan pensil di atas kain membentuk gambar pola, Senin (16/2/2026) di Galeri House Tapis Citra.
Wanita tersebut adalah Desi Impiyani, pemilik dari House Tapis Citra. Kain yang sudah tergambar pola itulah yang nantinya akan disulam oleh Desi menjadi kain sulam usus.
Desi tidak sendirian mengerjakan karyanya tersebut di House Tapis Citra. Melainkan bersama empat perempuan lainnya. Mereka terampil menyulam kain tapis dengan motif khas Lampung.
Ternyata hasil produksinya bermacam-macam, mulai dari hijab hingga kain tapis bernilai jutaan rupiah. Jika di rata-rata omzet dari hasil produksi tersebut mencapai puluhan juta rupiah per bulan.
Namun untuk mencapai omzet tersebut banyak suka dan duka yang dialami Desi. Mengingat dia membuka rumah produksi tapis tersebut mulai dari nol.
Baca juga: Puluhan Tenan UMKM Kuliner hingga Souvenir Tapis Ramaikan Apeksi Outlook Bandar Lampung 2025
Ia mengawali usahanya itu sebagai pekerja tapis di Kampung Sawah selama 13 tahun, sejak masih gadis.
Pengalaman panjang itulah yang menjadi bekal kuat saat dirinya memutuskan untuk resign dan mencoba mendirikan usahanya sendiri pada 2015.
“Awalnya modal nekat saja, mulai menyulam sendiri sampai kurang lebih dua tahun” ujarnya Senin (16/2/2026).
Tahun 2015, Desi mulai menyulam sendiri di rumah sambil mengurus anak. Kesempatan datang saat ia diminta mengikuti pameran di Dekranas.
Tak disangka, karyanya terjual seharga Rp 1,5 juta pada masa kepemimpinan Gubernur Lampung saat itu.
Uang tersebut menjadi modal awal usahanya. Dari Rp 1,5 juta itu, Desi membuat banner untuk usahanya dan menyewa tempat kecil dekat flyover di Jalan Antasari. Tahun 2016, House of Citra resmi berdiri.
Dua tahun pertama, ia bekerja sendirian mengerjakan produksi sekaligus memasarkan produk ke berbagai bazar yang difasilitasi Dinas Koperasi dan Dekranas.
Baru pada 2017, ia merekrut satu karyawan. Kini, House Tapis Citra memiliki lima karyawan tetap dan menggandeng sekitar 32 pengrajin ibu rumah tangga yang bekerja secara freelance dari rumah.
Ia juga menceritakan bagaimana saat pandemi COVID-19 melanda, pesanan tapis menurun drastis. Namun Desi tak menyerah.
Ia mengalihkan produksi ke pembuatan masker kain bordir untuk menjaga arus kas tetap berjalan. “Kalau hanya mengandalkan tapis, waktu itu pasti berat sekali,” katanya.
Strategi adaptif ini membuat usahanya tetap bertahan hingga kondisi kembali normal.
House of Citra tak hanya memproduksi kain tapis tradisional, tetapi juga mengembangkan tapis modern dan berbagai produk turunan seperti:
Untuk kain tapis eksklusif, harga bisa mencapai Rp 12 juta per lembar, terutama untuk pesanan khusus dengan desain personal.
Dalam sehari, timnya mampu memproduksi sekitar 20 produk souvenir. Namun untuk kain tapis, prosesnya jauh lebih lama.
Tapis modern bisa selesai dalam satu bulan, sementara motif klasik seperti “mata kibau” membutuhkan waktu hingga tiga sampai empat bulan.
“Kalau sulam usus, dua hari biasanya sudah jadi, tapi kalau tapis memang lama,” ungkapnya.
Selain mengerjakan tapis di galeri miliknya, ia juga sering di undang untuk pelatihan membuat tapis di lapas ataupun di dinas lainnya.
“Kalau saya isi latihan itu, sulam usus biasanya 2 hari sudah bisa dipahami saat pelatihan. Tapi kalau tapis, seminggu pun masih terasa sulit karena teknik tusukannya lebih rumit,” jelasnya.
Tantangan terbesar datang saat House Tapis Citra menerima pesanan 97 busana dari desainer Jakarta dalam waktu dua bulan.
Awalnya Desi sempat menolak karena khawatir tak sanggup memenuhi tenggat. Namun akhirnya ia menerima tantangan tersebut.
Selama satu setengah bulan, seluruh tim bekerja lembur demi menyelesaikan pesanan dengan detail sempurna.
Tantangannya bukan hanya jumlah, tetapi juga motif khusus dari pihak desainer yang mengharuskan ketelitian tinggi dalam penyatuan warna benang.
“Setiap pengrajin harus kami beri contoh supaya hasilnya sama persis,” katanya.
Untuk souvenir berbasis mesin jahit, produksi massal lebih memungkinkan. Bahkan, mereka pernah menyelesaikan 2.000 pieces dalam tiga hari.
Namun tapis memerlukan tenaga manual yang harus dikerjakan dengan ketelitian penuh.
Dalam kondisi sepi, House Tapis Citra mencatat omzet sekitar Rp.20 juta per bulan.
Saat ramai pembeli dan pameran atau pelatihan, omzet bisa melonjak hingga Rp.80–100 juta.
Pasarnya tak hanya di Lampung. Produk House Tapis Citra pernah dikirim ke Medan, Bali, hingga Sulawesi Selatan yang kini menjadi pelanggan tetap.
Penjualan dilakukan melalui Instagram, Facebook, dan WhatsApp.
Desi mengaku belum maksimal di marketplace seperti TikTok Shop karena sistem produksi tapis yang membutuhkan waktu lama dan tidak memungkinkan stok besar dalam waktu singkat.
Lebih dari sekadar bisnis, House of Citra juga aktif melatih ibu-ibu rumah tangga hingga warga binaan lembaga pemasyarakatan setiap tahunnya.
Baginya, tapis bukan hanya kain, tetapi warisan budaya sekaligus sumber penghidupan.
Meski kerap harus menolak pesanan yang terlalu mendesak, Desi tetap berkomitmen menjaga kualitas.
“Yang penting detail dan kerapian. Karena tapis itu bukan cuma jahitan, tapi identitas,” tutupnya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/ Bintang Puji Anggraini)