POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Suasana Masjid Al-Ikhlas, Jalan Penghul, Sijuk sangat tenang dan cenderung sepi saat waktu sholat Dzuhur tiba pada Senin (16/2/2026), tepat dua hari menjelang Ramadan.
Hanya ada satu baris jemaah yang bahkan tidak penuh mengisi sejadah yang menutupi lantai kayu tersebut.
Kondisi sepi di tengah hari ini ternyata menjadi kelaziman sehari-hari masjid ini. Ketua Takmi Masjid, Imam Hambali (57) mengatakan hal ini disebabkan kondisi mayoritas profesi masyarakat di Desa Sijuk mengharuskan mereka bekerja cukup jauh dari rumah.
"Pekerjaan warga bermacam-macam, ada yang ke laut, ke hutan, bertani, hingga berdagang, jadi tidak ramai yang dilerkirakan," ujarnya.
Meski sepi, sholat berjamaah tetap dilaksanakan bagaimanapun keadaannya. Imam dan jemaah rutin selalu memastikan nafas ibadah di masjid berusia 209 tahun ini tidak terputus.
"Tapi alhamdulillah, lima waktu tetap jalan. Biasanya juga Maghrib dan Isya ramai karena orang sudah istirahat bekerja," ucapnya.
Selain itu, Imam mengatakan Masjid Al Ikhlas tetap memiliki marbot untuk menjaga kehormatan bangunan tua ini. Selayaknya marbot lain, ia bertugas dalam menjaga masjid, terutama kebersihan area bangunan.
"Ada marbot khusus yang ditugaskan, yang merupakan jemaah di sini juga, untuk mengurusi kebersihan," ujarnya.
Adapun menjelang ramadan 2026, Imam dan jemaah lain turut melakukan persiapan. Mereka selalu mempersiapkan fisik dan koordinasi lintas masjid untuk saling erat dalam peribadatan di Sijuk.
Imam mengungkapkan bahwa koordinasi telah dilakukan, baik bersama pemerintah desa ataupun pengurus masjid lain. Satu di antara agenda bersama mereka, yaitu Safari Ramadhan.
"Nanti ada Safari Ramadhan yang dikoordinasikan untuk lima masjid yang ada di Sijuk ini secara bergiliran," ucapnya.
Program ini diharapkan menjadi sarana mempererat silaturahmi, khususnya hubungan antar warga di tengah kesibukan mereka.
Bagi Imam, menjaga Masjid Al-Ikhlas adalah upaya merawat ingatan mengenai sejarah yang besar. Maka dari itu, Ia menitipkan pesan mendalam kepada masyarakat agar tidak membiarkan masjid bersejarah ini kehilangan fungsinya.
"Kami mengimbau masyarakat untuk mari kita lestarikan masjid bersejarah ini, dalam arti menghidupkan kembali Masjid Al Ikhlas ini seperti sedia kala," ujarnya.
Imam ingin agar nilai sejarah bangunan ini sebanding dengan semangat ibadah para jemaahnya. Karena jika tidak, bukan tidak mungkin masjid akan berhenti digunakan untuk peribadatan dan pada akhirnya terbengkalai.
Masjid Al Ikhlas sendiri bukan sekadar bangunan kayu yang kuno. Tempat ini adalah simbol keteguhan iman yang telah melewati berbagai zaman di Belitung.
Saat ini, Masjid Al Ikhlas siap menjadi saksi bisu masyarakat Sijuk. Tempat ini akan menjadi tempat dimana ribuan sujud terjadi selama bulan Ramadhan. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)