POSBELITUNG,CO, BELITUNG - Aroma kayu menyeruak di antara pilar-pilar cokelat yang kokoh. Sementara cahaya matahari menyelinap melalui sela jendela tanpa pengait.
Tiang-tiang utama menawan tanpa ada guratan. Membuat telapak tangan bersentuhan halus dengan permukaannya.
Cat putih cerah berpadu biru membuat bangunan tampak baru meskipun desain yang sudah tidak sesuai zamannya. Lantai yang tertutupi sejadah membuat kaki yang menapak tidak perlu bergesekan dengan kayu pijaka.
Suara motor jemaah yang masuk ke pekarangan bangunan satu per satu terdengar. Menendakan waktu sholat didirikan tinggal beberapa waktu lagi.
Di depannya, mereka yang mendatangi masjid langsung ditampakkan infografis mengenai sejarah bangunan tua ini. Begitulah gambaran Masjid Al Ikhlas atau Masjid Sijuk saat Senin (16/2/2026) siang, tepatnya waktu dzuhur.
Masjid Al Ikhlas merupakan masjid yang bediri sejak 1817. Masjid ini dibangun oleh sosok bernama Tuk Dong yang mana juga sempat membangun tiga masjid bersejarah lainnya.
Karena satu dan lain hal, Masjid Sijuk menjadi satu-satunya penyintas dari empat masjid berejarah di Belitung ini. Hal ini disampaikan oleh Imam Hambali (57) selaku Ketya Takmir Masjid Al Ikhlas Sijuk.
"Menurut sejarah, sebelumnya ada empat masjid (serupa) di pulau Belitung ini, di Membalong, Kampit, Badau, dan Sijuk ini," ujarnya
Imam menjelaskan bahwa Masjid Al Ikhlas memiliki keunikan tersendiri. Dari keempat bangunan tersebut, hanya Masjid Al Ikhlas yang struktur utamanya masih asli dan berdiri tegak hingga saat ini.
Sosok Tuk Dong masih menjadi teka-teki, di mana sebagian meyakini beliau adalah ulama Kalimantan. Adapun versi lain menyebut bahwa sang arsitek merupakan pendatang asal Cina.
Sebagai tambahan informasi, Imam mengatakan tak jauh dari sini terdapat Kelenteng Sijuk yang berjarak hanya 200 meter. Klenteng ini dibangun lebih awal, yaitu pada 1815.
Bukan tanpa alasan Imam menjelaskan kehadiran klenteng tersebut. Ia berpendapat bahwa pembangunan itu menunjukkan harmoni antara etnis Melayu dan Tionghoa sudah terjalin sangat lama di sana.
Kembali ke sejarah masjid, Imam mengatakan kekuatan Masjid Al Ikhlas bertumpu pada empat pilar utama. Empat pilar ini terbentuk dari kayu yang diambil dari hutan Mengguru, Desa Sungai Padang.
"Kayu ini dibawa dengan rakit di sungai selama berbulan-bulan, mengingat waktu itu belum ada alat transportasi seperti sekarang," ucapnya.
Masjid Al Ikhlas juga sedari dulu memiliki fungsi sosial lain. Selain menjadi tempat ibadah, bangunan kayu ini juga memegang peran krusial sebagai tempat musyawarah warga untuk mengatur strategi melawan penjajah pada masa lampau.
"Masjid ini digunakan bukan untuk jemaah salat saja, karena zaman sebelum kemerdekaan digunakan untuk musyawarah melawan penjajah," ujarnya.
Imam mengatakan perjalanan masjid ini mencapai titik seperti sekarang tidak selalu mulus. Hal ini karena pada tahun 1980-an fungsinya sempat terlantar setelah kegiatan ibadah dipindahkan ke Masjid Al Muhajirin yang lebih besar.
Namun, pada 1999 masyarakat Dusun Ulu bersepakat untuk memakmurkan masjid yang berada di daerah mereka ini. Para warga pun melakukan "Berehun" atau gotong royong swadaya untuk menghidupkan kembali masjid tua ini.
Imam menjelaskan saat ini Masjid Al Ikhlas sudah melakukan pembaruan, terutama bagian plafon dan lantai. Meski begitu, seluruh proses renovasi dilakukan tanpa merubah bentuk asli bangunan.
Imam mengatakan bentuk asli tetap dipertahankan dengan tujuan menjaga amanah sejarah dari para leluhur.
Saat ini, Masjid Al-Ikhlas tetap berdiri tegak sebagai warisan sejarah yang akan terus diingat. Tempat ini menghubungkan generasi masa kini dengan akar peradaban Islam di tanah Sijuk.
Terakhir, Imam mengatakan bahwa Masjid Al Ikhlas akan bersiap menyambut jemaah yang banyak di bulan Ramadhan. Ia berharap para jemaah tetap membawa kedamaian yang telah terjaga selama lebih dari 200 tahun.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)