TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Bagi masyarakat di wilayah hulu Sungai Tubu, Kabupaten Malinau Kalimantan Utara, hutan adalah ruang hidup sekaligus sumber penghidupan utama. Selama bergenerasi, dikenal sebagai penjaga Rimba dan pencari gaharu ulung.
Namun, menyadari populasi gaharu alam yang kian menipis, warga Desa Long Pada dan Long Nyau di Kabupaten Malinau kini melakukan lompatan besar, mengubah pola dari pemburu menjadi pembudidaya, menyulap halaman rumah menjadi "bank" aset bernilai miliaran rupiah.
Memutus rantai ketidakpastian perubahan ini bukan sekadar tren, melainkan langkah strategis untuk keluar dari jerat ketidakpastian. Selama ini, mencari gaharu di pedalaman Rimba bukan hanya soal stamina, tapi juga pertaruhan nyawa dengan hasil yang sering kali nihil.
Suan Kirut, warga Desa Long Nyau, mengungkapkan betapa beratnya pola lama yang mereka jalani. Bagi Suan, budidaya adalah jawaban atas kerinduan warga untuk bekerja lebih dekat dengan keluarga tanpa kehilangan potensi penghasilan besar.
Baca juga: Dulu Terisolasi, Kini 5 Desa di Sungai Tubu Malinau Maju Pesat, Masyarakat Tekuni Usaha Gaharu
"Dulu kami harus masuk hutan berbulan-bulan. Taruhannya nyawa, tapi hasilnya tidak menentu. Kadang pulang hanya bawa lelah," kenang Suan Kirut.
"Sekarang dengan budidaya, kami bawa pohonnya ke dekat rumah. Kami bisa urus setiap hari, sambil tetap menjaga keluarga. Ini benar-benar jadi tabungan kami."
Langkah warga ini diperkuat dengan pendampingan teknis dari Dinas Kehutanan Provinsi Kaltara bersama Pemerintah Kecamatan Sungai Tubu,melalui pelatihan inokulasi atau penyuntikan pohon, Rabu (11/2).
Teknik ini krusial karena merupakan kunci untuk mengubah pohon gaharu biasa menjadi penghasil resin berkualitas tinggi.
Targetnya tidak main-main: kualitas premium. Di pasar dunia, jenis gaharu super seperti Kynam atau Kyara harganya sangat fantastis, bisa menembus Rp 1,5 miliar per kilogram.
Baca juga: Warga Laban Nyarit di Malinau Olah Kayu Gaharu Jadi Minyak Atsiri, Dijadikan Aroma Terapi
Dengan teknik inokulasi yang benar, warga tidak lagi menggantungkan nasib pada proses alami di hutan yang memakan waktu puluhan tahun.
Kemandirian Ekonomi di Garis Depan
Camat Sungai Tubu, Jimmy Sakay, menegaskan kemandirian teknis ini adalah cara warga di wilayah hulu untuk berdaulat secara ekonomi.
Dengan memahami proses produksi dari hulu ke hilir, warga tidak akan lagi mudah dipermainkan oleh spekulan harga atau tengkulak.
"Ini selaras dengan program PESAT (Pertanian Sehat) Kabupaten Malinau. Kita dorong masyarakat mengelola potensi lokal secara cerdas. Gaharu adalah aset masa depan yang sangat cocok dengan karakteristik wilayah kita," ujar Jimmy.
Kini, ribuan bibit yang mulai ditanam di Long Pada dan Long Nyau bukan sekadar penghijauan.
Aset hijau yang tumbuh diam-diam di tanah ulayat, siap menjadi penopang ekonomi keluarga tanpa harus lagi mempertaruhkan keselamatan jauh di jantung Rimba.
(*)
Penulis: Mohammad Supri