TRIBUNNEWSMAKER.COM - Tragedi yang terungkap di kawasan bekas tempat wisata Kampung Gajah menghadirkan gambaran kejahatan yang bukan hanya kejam, tetapi juga penuh ironi.
Setelah menghabisi nyawa korban, pelaku justru tega mengambil kembali barang yang sebelumnya pernah ia berikan, seolah ingin menghapus jejak keterikatan apa pun.
Tak hanya itu, handphone milik korban pun dirampas, memperlihatkan motif yang tak sekadar emosional, tetapi juga disertai tindakan pencurian.
Penemuan jenazah tersebut pertama kali menghebohkan publik setelah seorang konten kreator membagikan temuannya di lokasi terbengkalai di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Belakangan diketahui bahwa korban adalah ZAAQ, seorang pelajar dari SMP Negeri 26 Kota Bandung.
Fakta ini membuat peristiwa tersebut semakin mengguncang, mengingat usia korban yang masih sangat muda.
Kapolres Cimahi, Niko N Adi Putra, memaparkan kondisi jasad korban yang mengalami luka tragis di sejumlah bagian tubuh.
Benturan keras di kepala dan luka tusuk menjadi bukti kekerasan yang dialami korban sebelum mengembuskan napas terakhir.
"Ada beberapa luka, di bagian kepala akibat robek hantaman benda tumpul dan luka terbuka atau benda tajam di bagian perut kurang lebih ada 8 tusukan," katanya.
Pernyataan itu menegaskan betapa brutal serangan yang terjadi.
Baca juga: Postingan Aneh Remaja Pelaku Pembunuh Siswa SMP di Kampung Gajah, Kesal Korban Memutus Pertemanan
Dari hasil penyelidikan intensif, aparat kepolisian akhirnya mengerucutkan kecurigaan kepada dua remaja pria.
Mereka adalah YA (16) dan AP (17), yang diduga terlibat langsung dalam aksi tersebut.
Pelarian keduanya berakhir setelah ditangkap di Desa Banyuresmi, Kabupaten Garut, pada Sabtu (14/2/2026).
"2 pelaku berhasil diamankan daerah Garut, Banyuresmi, YA (16) dan AP (17)," katanya.
Penangkapan itu sekaligus membuka babak baru pengungkapan kasus yang sempat membuat masyarakat resah.
Saat penangkapan, polisi menemukan sejumlah barang bukti.
Termasuk jaket milik korban yang merupakan hasil pemberian dari YA.
Baca juga: Latar Belakang Bocah SMP di Kalimantan Barat Nekat Bom Sekolah hingga Timbulkan Korban Luka Berat
"Ditemeukan beberapa barang milik korban pada saat itu, jaket milik korban yang dulunya pemberian dari pelaku kemudian diambil kembali," katanya.
Selain itu ada pula sepatu dan handphone korban yang diambil pelaku.
Berdasarkan pengakuannya, YA merasa sakit hati karena ZA sudah tak mau berteman lagi dengannya.
"Ya sakit hati sehingga mengakibatkan sakit hati. Korban ini memberi pernyataan sikap untuk menghentikan pertemanan pada pelaku, sehingga pelaku sakit hati," katanya.
Tindakan sadis YA terhadap ZA rupanya bukan kali ini saja terjadi.
Paman korban, Undang Supriatna mengungkap tahun lalu ZA pernah dipukul oleh YA.
"Sebenarnya pernah dulu hampir setahun pernah ketemuan sama keluarga, dulu pernah terjadi pemukulan pelaku terhadap korban. Yang dipukul matanya. Sampai ngumpul di rumah ini dimusyawarahkan keluarga sana juga hadir sama RTnya," katanya.
Saat itu ZA masih kelas 6 SD di Garut, satu sekolah dengan YA.
Namun Undang menganggap bahwa ZA dan YA bukan sebagai teman.
Sebagi dari cerita ZA, ia sering kali dibully YA.
"Sebetulnya kedekatannya dianggap teman juga bukan teman, karena yang saya dengar dari cucu saya sering dipalakin, kan satu sekolah. Kedekatannya bukan sebagai teman, tapi kayak dibully lah," katanya.
Keluarga ZA bahkan sudah mengultimatum YA untuk tidak lagi menemui.
"Dulu udah langsung sama orang tuanya, kita komunikasi. Malah kita intruksikan jangan sampai pelaku ini menghubungi atau mendatangi atau ketemu sama korban, kita udah kasih ketegasan sama pelaku," katanya.
Atas kejadian itulah keluarga memutuskan untuk memindahkan ZA dari Garut ke Bandung.
"Makanya kita pindahkan ke Bandung untuk menghindari dari pelaku," katanya.
Upaya tersebut juga atas pertimbangan kelakuan YA yang diduga mengalami penyimpangan seksual.
Informasi yang diterima keluarga ZA, YA merupakan penyuka sesama jenis.
"Diduga dari hasil informasi, pelaku ada kelainan kayak laki-laki suka laki-laki, dari informasi dari guru di sekolah. Makanya kita menghindarkan korban tersebut, tadinya niat sekolah di Garut tapi karena ada kejadian seperti itu makanya kita pindahkan ke Bandung, ke bapaknya," kata Undang.
Dalam media sosialnya, YA sering membuat postingan sindiran.
"Ku tunggu susahmu kawan, di saat kau senang sombongmu melebihi iblis," tulisnya.
(TribunNewsmaker.com/ TribunnewsBogor)