BANGKAPOS.COM--Harga daging ayam ras kembali menunjukkan tren kenaikan menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
Di sejumlah daerah, harga komoditas protein hewani ini bahkan telah melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) tertinggi yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp40.000 per kilogram.
Kenaikan paling terasa terjadi di pasar-pasar tradisional. Di Pasar Tradisional Serpong, misalnya, harga ayam potong kini menyentuh Rp48.000 per kilogram.
Angka tersebut naik signifikan dibanding pekan sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp40.000 per kilogram.
Hadi, salah satu pedagang ayam di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa lonjakan harga mulai terasa sejak akhir pekan lalu.
Menurutnya, kenaikan berlangsung cepat, yakni antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram hanya dalam beberapa hari.
“Akhir-akhir ini harga daging ayam Rp48.000 per kilo, sebelumnya masih Rp40.000,” ujar Hadi saat ditemui, Minggu (15/2/2026).
Ia memperkirakan tren kenaikan belum akan berhenti dalam waktu dekat. Berdasarkan pola tahun-tahun sebelumnya menjelang Ramadan, harga ayam biasanya merangkak naik secara bertahap seiring meningkatnya permintaan masyarakat.
“Kalau melihat tahun lalu, bisa naik Rp2.000 tiap dua hari. Kalau permintaan terus tinggi, bisa tembus Rp50.000 per kilo,” tambahnya.
Kenaikan harga ini diduga dipicu kombinasi meningkatnya permintaan menjelang bulan puasa dan potensi terbatasnya pasokan di tingkat peternak maupun distributor.
Meski harga naik cukup tajam, sebagian konsumen mengaku masih bisa mentoleransi kondisi tersebut.
Tyas, seorang ibu rumah tangga yang berbelanja di pasar itu, mengatakan harga di pasar tradisional masih relatif lebih murah dibandingkan di ritel modern atau supermarket.
“Menurut saya sih mending, enggak begitu naik ketimbang di supermarket yang justru mahal,” ujarnya.
Bagi banyak keluarga, ayam ras tetap menjadi pilihan utama karena harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan daging sapi.
Selain itu, ayam menjadi bahan pokok berbagai menu favorit saat Ramadan, mulai dari opor, ayam goreng, hingga aneka hidangan sahur dan berbuka.
Harga ayam potong di Pasar Induk Pembangunan Kota Pangkalpinang kembali merangkak naik.
Kini, harga ayam bersih menyentuh Rp45.000 per kilogram, sementara ayam bulat berada di kisaran Rp40.000 per kilogram.
Kenaikan harga dikeluhkan para pedagang karena berdampak langsung pada menurunnya daya beli masyarakat.
Iwan, seorang pedagang ayam di Pasar Induk Pembangunan Kota Pangkalpinang mengatakan lonjakan harga terjadi dalam beberapa waktu terakhir setelah sebelumnya sempat berada di angka normal.
"Sekarang ayam bersih Rp45.000, ayam bulat Rp40.000. Pembeli jadi sepi karena harga tinggi," ujar Iwan saat dijumpai Bangkapos.com, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, harga tersebut tergolong cukup tinggi dan memberatkan masyarakat.
Ia menyebut, saat momen libur sekolah beberapa waktu lalu, harga ayam sempat turun ke kisaran Rp38.000 per kilogram untuk ayam bersih dan Rp35.000 untuk ayam bulat. Kisaran itu dinilai sebagai harga normal yang lebih mampu dijangkau konsumen.
"Kalau di Rp35.000 sampai Rp38.000 itu masih normal. Sekarang Rp45.000 cukup berat bagi pembeli," katanya.
Iwan mengungkapkan para pedagang sebenarnya telah mencoba bernegosiasi dengan perusahaan atau pemasok tempat mereka mengambil stok ayam. Namun, harga dari distributor disebut belum bisa ditekan.
"Kami sudah coba nego ke PT tempat ambil ayam, tapi memang harga dari sana sudah segitu, jadi kami juga tidak bisa berbuat banyak," jelasnya.
Ia menduga kenaikan harga ayam kali ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan setelah kembali aktifnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program tersebut membutuhkan pasokan ayam dalam jumlah besar sehingga berpotensi mempengaruhi distribusi dan harga di tingkat pasar.
"Sekarang SPPG sudah aktif lagi untuk program MBG, mungkin kebutuhan ayam lebih banyak, jadi harga naik," ujarnya.
Para pedagang berharap harga ayam dapat segera kembali stabil agar aktivitas jual beli kembali normal dan daya beli masyarakat tidak semakin tertekan.
"Kalau harga terus tinggi, pembeli makin sepi. Kami tentu berharap harga bisa turun lagi," tutur Iwan.
Sementara itu, berdasarkan data panel harga konsumen dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Minggu (15/2/2026) pukul 15.00 WIB, rata-rata nasional harga daging ayam ras tercatat Rp40.572 per kilogram.
Angka ini turun tipis Rp40 atau 0,10 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Secara rata-rata nasional, harga memang masih berada di sekitar HAP.
Namun, disparitas harga di lapangan menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarwilayah.
Beberapa pasar tradisional tercatat sudah menjual jauh di atas harga acuan pemerintah.
Perbedaan ini menandakan bahwa tekanan harga lebih terasa di tingkat ritel, khususnya di pasar-pasar yang mengalami lonjakan permintaan tinggi menjelang Ramadan.
Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah terus mengawasi pergerakan harga bahan pangan strategis, termasuk daging ayam dan daging sapi.
Ia mengungkapkan bahwa Prabowo Subianto secara rutin memantau perkembangan harga pangan, terutama menjelang hari besar keagamaan seperti Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri.
“Setiap kami pertemuan, bahkan Bapak Presiden pernah tiga kali sehari menelpon menanyakan harga daging dan harga ayam,” ujar Amran dalam acara Gerakan Pangan Murah (GPM) di kantor Bapanas, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, pemerintah tidak ingin lonjakan harga yang tidak wajar membebani masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Amran juga mengingatkan para pelaku usaha, mulai dari pengusaha penggemukan sapi (feedloter), rumah pemotongan hewan (RPH), hingga peternak ayam, agar mematuhi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak segan memberikan sanksi tegas kepada produsen atau distributor yang menjual di atas ketentuan tanpa alasan yang dapat dibenarkan.
“Bila ada yang menjual di atas HET, cari produsennya. Kalau perlu kasih sanksi berat, cabut izinnya,” tegasnya.
Langkah pengawasan ini dilakukan untuk memastikan stabilitas pasokan dan harga tetap terjaga selama Ramadan, periode yang identik dengan lonjakan konsumsi pangan.
Pengamat menilai, tantangan utama pemerintah dalam beberapa pekan ke depan adalah menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Jika distribusi tidak berjalan lancar atau terjadi spekulasi di tingkat pedagang besar, harga berpotensi melonjak lebih tinggi.
Selain faktor permintaan, biaya pakan ternak dan distribusi juga dapat memengaruhi harga di tingkat konsumen.
Jika harga jagung atau bahan baku pakan naik, dampaknya akan terasa pada biaya produksi ayam pedaging.
Dengan Ramadan yang tinggal menghitung hari, masyarakat berharap pemerintah mampu menstabilkan harga agar tidak menembus level psikologis Rp50.000 per kilogram secara luas.
Untuk saat ini, meski rata-rata nasional masih terkendali, realitas di sejumlah pasar tradisional menunjukkan bahwa tekanan harga sudah mulai terasa.
Jika tren kenaikan berlanjut, daging ayam yang selama ini menjadi sumber protein paling terjangkau berpotensi menjadi komoditas yang semakin membebani anggaran rumah tangga menjelang bulan suci.
Sumber : Kontan.Co.id/Kompas.com/Bangkapos.com