Kisah Inspiratif dari Sebatik, Berawal 8 Buku, TBM Padu Kini Jadi Harapan Literasi Anak Perbatasan
Amelia Mutia Rachmah February 16, 2026 09:19 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Siapa sangka, delapan buku dan sebuah ruang terbuka di sudut desa mampu menjadi titik awal lahirnya Taman Baca Masyarakat (TBM) yang kini memberi dampak nyata bagi anak-anak di wilayah perbatasan Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

TBM tersebut didirikan oleh Amran dan Nurul Afiqah sebagai founder, dengan Abdul Wahid sebagai pembina. TBM Patok Dua atau TBM Padu ini berada di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, tidak jauh dari patok perbatasan Indonesia-Malaysia.

Inisiatif ini bermula dari pelatihan pemanfaatan buku bermutu yang diselenggarakan Inovasi dan Litara Foundation. Berbekal semangat literasi, Amran dan Nurul mulai mengajak anak-anak belajar membaca dan bermain dengan buku di ruang terbuka desa.

“Buku bermodalkan dari pelatihan saja, jumlahnya ada 8 buku dan 2 buku besar dari Litara,” ujar Ketua TBM Padu, Amran, Senin (16/2/2026).

Tiga bulan pertama, kegiatan TBM Padu mendapat dukungan warga yang meminjamkan ruangan untuk aktivitas belajar.

Baca juga: Atasi Krisis Buku di 3T, Badan Bahasa Beri 700 Judul Buku Digital ke Pemkab Malinau

Dukungan terus mengalir hingga tujuh bulan kemudian TBM memperoleh bantuan Program Sosial Bank Indonesia berupa sarana pendukung seperti meja belajar dan rak buku.

Kolaborasi semakin luas dengan berbagai instansi dan lembaga. TBM Padu menjalankan program literasi melalui pemanfaatan 1.000 buku bantuan Perpustakaan Nasional dalam program Goes to School, Kelas Ceria bersama Universitas Borneo Tarakan, hingga kegiatan bersama Komunitas Penggerak Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBP) dari Bank Indonesia.

Selain itu, TBM juga memanfaatkan laman Penjaring milik Badan Bahasa, Sekolah Enuma dari Litara Foundation, serta advokasi perubahan iklim bersama Inovasi.

Tetap Bergerak Meski Berpindah Lokasi

Perjalanan TBM Padu tidak selalu mulus. Relokasi pemukiman di wilayah perbatasan membuat TBM harus berpindah lokasi. Saat ini kegiatan belajar sementara dilakukan di kediaman Ketua RT setempat, yang juga Ketua TBM Padu, Amran.

Meski menghadapi keterbatasan, semangat para penggiat literasi tidak surut. TBM kini digerakkan oleh 13 anggota, mulai dari pelajar SMA hingga ibu rumah tangga yang terlibat secara sukarela.

Baca juga: Warga Sungai Tubu Beralih ke Budidaya Gaharu, Halaman Rumah Jadi Aset Bernilai Miliaran

Jumlah anak yang aktif mengikuti kegiatan literasi berkisar 40 hingga 60 orang. Mereka rutin mengikuti berbagai aktivitas membaca, bermain edukatif, hingga kelas keterampilan.

Berbagai pencapaian berhasil diraih TBM Padu. Komunitas ini kerap mengisi kegiatan literasi di dalam dan luar Kabupaten Nunukan, bahkan mengikuti pertemuan pemangku kepentingan tingkat nasional serta Diseminasi Nasional Badan Bahasa.

Para penggiat juga terlibat dalam Kampanye Book for All di Bogor, kegiatan WWF Indonesia, hingga menjadi finalis Duta Baca Kabupaten Nunukan dan finalis Komunitas Penggerak CBP Rupiah.

Belum lama ini, TBM Padu mendapat bantuan keramik untuk ruang belajar dari Ketua TP PKK Kabupaten Nunukan, Ny Andi Annisa Muthia Irwan Sabri.

Dari delapan buku sederhana, TBM Patok Dua kini menjelma menjadi ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang harapan bagi anak-anak di perbatasan. Kisah ini membuktikan bahwa literasi dapat tumbuh dan bertahan dari semangat gotong royong masyarakat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.