Opini: Bergerak dari Fall in Love Menuju Standing in Love
Dion DB Putra February 16, 2026 09:19 PM

Oleh: Afrianus Juang
Mahasiswa IFTK Ledalero Maumere, Flores - Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Cinta adalah bagian penting dalam kehidupan manusia. Banyak orang mengejar cinta, bejuang dengan sekuat tenaga bahkan merelakan nyawa atas nama cinta. 

Kehidupan remaja sering dikaitkan dengan cinta. Jatuh cinta adalah frase yang sering kita dengar ketika berhadapan dengan remaja. Membangun relasi (berpacaran) menjadi bagain terpenting dalam masa remaja. 

Dalam kehidupan berkeluarga juga demikian, dua orang manusia menyatu membangun keluarga baru atas nama cinta. 

Jika kita bertanya, kedua orangtua kita atau siapa saja yang sudah menyatu menjadi sebuah keluarga tentang alasan mereka bersatu dan membangun keluarga, maka alasannya adalah cinta. 

Cinta begitu dahsyat, sehingga menyatukan perbedaan, kekurangan dan kelebihan masing-masing individu. 

Baca juga: Opini: Pariwisata NTT dan Ilusi Keramaian

Hal ini mengamini apa yang pernah disampaikan seorang filsuf berkebangsaan Austria, Martin Buber “engkau tidak lain adalah aku yang lain”

Namun, di zaman ini cinta seakan kehilangan daya magisnya. Kenyataan akan ada banyak kasus perceraian, kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya, telah memunculkan pertanyaan tentang nilai cinta yang berkurang ataukah orang yang salah memaknai cinta. 

Lantas, masihkah cinta mempunyai kekuatan yang dasyat? yang mampu mengikat satukan dua insan dengan latar belakang dan perbedaan-perbedaan yang ada.

Tentunya, tidak mudah menjawab persoalan ini. Pada tulisan sederhana ini, saya akan menggunakan salah satu konsep dar Erich Fromm tentang cinta. 

Seperti pada judul tulisan ini, Dari Fallin in love menuju standing in love. Erich Fromm memperlihatkan perbedaan dua konsep ini dalam bukunya yang berjudul The Art of Loving (1956). 

Kita tidak berhenti pada tingkatan jatuh cinta saja, melainkan bergerak menuju tingkatan berdiri dalam cinta.

Fallin in Love (jatuh cinta), Fromm sangat menentang istilah ini, Saat kedua orang jatuh cinta keduanya akan meruntuhkan tembok diri mereka masing- masing dan berusaha menjadi satu, mereka merasakan kegembiraan yang begitu luar biasa dan perlahan menjadi antusias menjalani hidup secara bersama-sama. 

Bagi Fromm, ini adalah hal yang alamiah dan dapat dialami oleh siapapu. Selanjutnya Fromm menjelaskan bahwa ketika keduanya sudah saling mengenal dan mengerti satu sama lain perlahan rasa itu mulai hilang dan bisa jadi berahkir pada hubungan yang rengang dan perceraian bagi mereka yang telah menikah. 

Fallin in love, dalam perspektif Fromm tidak menyentuh makna terdalam dari hakikat cinta yang sesungguhnya. 

Cinta pada tingkatan fallin in love hanya berkutat pada mengenal, merasakan dan memuaskan rasa ingin tahu ketika keduanya saling mengenal, maka semuanya kembali berjalan seperti biasa. 

Kita perlu ingat bahwa cinta yang dibangun di atas rasa penasaran akan kehilangan magisnya saat rasa penasaran itu terpuaskan, setelah dua insan sudah saling mengenal.

Konsep cinta, Standing in love menurut Fromm, lebih matang dan bertahan lama, karena kedua insan tidak hanya mengenal dan menyatu, melainkan teguh berdiri dalam cinta. 

Konsep Standing in love, lebih dalam dan menyentuh komitmen dasar manusia untuk hidup dan berdiri dan bertahan dalam cinta. 

Fromm menganggap standing in love, mampu membangun cinta yang bertahan lama atau tidak lekang oleh waktu dan keadaan apapun. 

Setiap individu, mesti memiliki konsep cinta seperti ini, sehingga cinta yang dibangun dan dihidupi dapat bertahan lama dalam keadaan apapun juga. 

Konsep cinta seperti ini, sangat cocok jika kedua insan ingin membangun hubungan yang lebih serius (menikah).

Empat elemen dasar dalam konsep Standing in love

Lebih lanjut Erich Fromm menjelaskan tentang cinta yang otentik dalam bukunya The Art of Loving, cinta yang otentik mesti dibangun di atas empat dasar yakni: perhatian (care), tanggung jawab (responsibility), penghormatan (respect) dan pemahaman (knowladge).

Pertama, perhatian (care), adalah bagian dasar dari cinta sejati. Fromm, medefinisikan cinta sebagai perhatian aktif terhadap kehidupan dan pertumbuhan dari orang yang kita cintai (Fromm, 1956). 

Cinta bukan hanya tentang kata-kata yang indah dan menenangkan. Cinta menurut Fromm mesti menyentuh aspek perhatian yang aktif dari perkembangan orang yang dicintai. 

Perhatian ini meligkupi keseluruhan perkembangan dan pertumbuhan orang yang kita cintai itu. 

Memberi perhatian pada orang yang kita cintai, akan memberi dampak yang sangat berarti bagi orang tersebut. 

Ketika seluruh perkembangan hidup seseorang dipenuhi dengan cinta, maka ia akan bertumbuh dan berkembang dengan baik serta dipenuhi cinta dalam hidupnya. 

Kedua, tanggung jawab (responsibility), bagian dasar kedua dari cinta adalah tanggung jawab. 

Bagian dasar kedua ini, bukan tanggung jawab dalam arti terhadap kebutuhan hidup atau materi semata. 

Fromm, menjelaskan bahwa cinta sejati harus melibatkan tanggung jawab terhadap orang lain tanpa ada perasaan terbebani (Fromm, 1956). Tangggung jawab ini mesti diambil secara bebas dan penuh kesadaran. 

Kehadiran kita dalam keadaan sulit merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap orang yang kita cintai. 

Hal ini juga menggarisbawahi pepatah Latin “cintaku adalah bebanku” (beban dalam artian positif).

Ketiga, penghormatan, Fromm meelihat cinta sebagai “kemampuan untuk melihat orang yang kita cintai sebagaimana adanya, dan berusaha menyediahkan ruang baginya untuk mengembangkan diri” (Fromm, 1956). 

Cinta sejati mesti lahir dari penerimaan terhadap diri dan karakter orang yang kita cintai. 

Keterbukaan ini mengandaikan kita menaruh rasa hormat terhadap sesama dan menerima orang lain secara penuh. 

Hal yang sering terjadi dalam kehidupan cinta yang kita alami adalah “obsesi” kita ingin menjadikan orang yang kita cintai sebagai objek dan mereka berkembang seturut keinginan kita. 

Cinta yang demikian tidak akan bertahan lama karena secara perlahan orang yang kita cintai merasa tidak nyaman dan kita sendiri akan mengalami kejenuhan dalam hubungan cinta.

Keempat, pengetahuan (knowladge), bagian ini mengarah pada kemampuan kita memahami orang yang kita cintai. 

Kemampuan memahami sangat penting dalam hubungan cinta, dengan memahami kita akan mengerti situasi dan keadaan dari orang yang kita cintai. 

Bagian ini, tidak hanya terbatas dalam memahami belaka, melainka kita mestinya menempatkan diri kita pada tempatnya dalam hubungan cinta dengan orang lain. 

Pengetahuan juga akan membantu kita membaca kebutuhan dari orang yang kita cinta. 

Hubungan yang dibangun atas dasar pengetahuan akan sangat membantu kita untuk mengetahui penyebab-penyebab jika pada saat tertentu hubungan kita menjadi tidak baik atau renggang.

Erich Fromm berargumen bahwa cinta adalah sebuah seni (Art). Seni yang dimaksudkan dadalah seni bertahan dalam cinta (standing in love), dengan seni memadukan perhatian, tanggung jawab, penghormatan dan pemahaman, demi menghasilkan cinta yang otentik. Cinta yang otentik tidak bisa terwujud tanpa empat elemen dasar di atas. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.