Ibadah Puasa Lebih Awal, Jemaah Ponpes Mahfilud Duror Jember Sudah Tarawih Malam Ini
Cak Sur February 16, 2026 10:32 PM

 

SURYA.CO.ID, JEMBER - Ratusan jemaah dan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mahfilud Duror di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim), melaksanakan salat tarawih pada Senin (16/2/2026) malam ini.

Umat muslim di kawasan Jember Utara ini, telah menetapkan pelaksanaan ibadah puasa mulai Selasa (17/2/2026) besok. Ketetapan ini tergolong lebih awal, dibandingkan dengan jadwal yang ditentukan pemerintah.

Berikut adalah beberapa fakta terkait pelaksanaan ibadah di Ponpes Mahfilud Duror:

  • Pelaksanaan salat tarawih dimulai pukul 19.30 WIB secara khusyuk.
  • Jumlah rakaat salat tarawih yang dijalankan adalah sebanyak 23 rakaat.
  • Penetapan awal Ramadan dilakukan secara mandiri oleh pihak pesantren.
  • Jemaah meyakini durasi puasa akan berlangsung selama 30 hari penuh.

Metode Penghitungan Khusus

Pengasuh Ponpes Mahfilud Duror, KH Ali Wafa Abdullah, mengakui bahwa penetapan awal Ramadan tersebut tidak menggunakan metode rukyatul hilal maupun hisab seperti yang digunakan Muhammadiyah.

Dia menjelaskan, bahwa penetapan awal puasa ini dihitung lima hari dari awal Ramadan tahun sebelumnya.

Selain itu, Kiai Ali Wafa menambahkan, bahwa hitungan juga bisa merujuk pada enam hari setelah penetapan wukuf.

"Tahun kemarin kami mengawali Ramadhan pada hari Jumat, saya hitung lima hari tepatnya sekarang ini, yang kedua kami melihat wuquf itu hari Kamis, jadi kalau Kamis dihitung pakai ruku iman enam," ujarnya.

Tradisi Kitab Kuning Sejak 1826

Menurut Kiai Ali Wafa, hitungan tersebut merupakan ajaran dari guru kiai sepuh Ponpes Mahfilud Duror yang bernama KH Abdul Hamid. Dasar hukumnya merujuk pada Kitab Nushatul Majaalis wa Muntohabul Nafaais, yang telah diterapkan secara turun-temurun sejak tahun 1826.

"Hitungannya lima hari dari Ramadan pertama, akan menjadi awal Ramadan selanjutnya," tutur Kiai Ali Wafa.

Ia menilai, perbedaan penetapan awal Ramadan merupakan bagian dari keragaman yang menjadi rahmat Tuhan. Kiai Ali Wafa menekankan pentingnya bagi setiap umat untuk saling menghargai perbedaan tersebut.

"Jadi saya mengawali sekarang, mungkin yang lain akan mulai besok atau lusa itu semua benar, tidak ada yang salah. Yang salah itu yang tidak puasa," ucap Kiai Ali Wafa.

Berdasarkan metode hitungannya, Kiai Ali Wafa menetapkan ibadah puasa bagi kaumnya tepat selama 30 hari. Ia pun menduga ada kemungkinan pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri nantinya juga akan dilakukan lebih awal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.