WARTAKOTALIVECOM — Duka dan harapan disuarakan bersamaan dari Takhta Suci.
Dalam pernyataannya di Vatikan, Paus Leo XIV menyampaikan simpati mendalam kepada rakyat Madagaskar yang terdampak Topan Gezani.
Bencana alam yang menerjang negara kepulauan di Afrika bagian timur itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 36 orang dan melukai lebih dari 370 lainnya.
Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal setelah hampir 18.000 rumah hancur diterjang angin kencang dan hujan deras.
Dalam doa dan pesannya, Paus Leo XIV menyatakan kedekatan spiritualnya dengan para korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Ia juga mendoakan para petugas penyelamat serta relawan yang bekerja di tengah keterbatasan untuk mengevakuasi warga dan menyalurkan bantuan.
“Semoga mereka yang berduka memperoleh kekuatan dan penghiburan,” demikian pesan yang disampaikan dari Vatikan.
Topan Gezani disebut sebagai salah satu badai paling merusak yang melanda Madagaskar dalam beberapa tahun terakhir.
Infrastruktur dasar, termasuk jaringan listrik dan akses jalan di sejumlah wilayah, dilaporkan lumpuh.
Pemerintah setempat bergerak cepat dengan menetapkan status bencana nasional guna mempercepat mobilisasi sumber daya dan bantuan.
Presiden Madagaskar bahkan telah menyerukan solidaritas internasional dan meminta dukungan dari para pemimpin dunia untuk membantu pemulihan pascabencana.
Di tengah keprihatinan atas tragedi tersebut, Paus Leo XIV juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat dan masyarakat yang merayakan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 17 Februari.
Ia berharap momentum pergantian tahun dalam penanggalan lunar itu menjadi kesempatan mempererat keharmonisan keluarga serta menumbuhkan semangat perdamaian dan kemakmuran bagi semua orang.
Pesan ganda yang disampaikan Paus mencerminkan dua wajah dunia hari ini: duka akibat bencana dan harapan akan awal yang baru.
Dari Vatikan, suara solidaritas dan doa itu ditujukan bukan hanya bagi Madagaskar, tetapi juga bagi komunitas global yang tengah menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan.
Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika global, kehadiran pesan moral dari pemimpin spiritual dunia menjadi pengingat pentingnya empati lintas batas.
Solidaritas internasional, sebagaimana diserukan pemerintah Madagaskar, menjadi kunci untuk mempercepat pemulihan dan memastikan para korban tidak berjalan sendiri dalam menghadapi dampak bencana.