Kronologi Keracunan Massal di Purworejo, Terjadi Setelah Makan Bersama
rival al manaf February 17, 2026 12:14 AM

TRIBUNJATENG.COM - Peristiwa keracunan masal terjadi di Desa Trirejo, Kecamatan Loano, Purworejo Jawa Tengah pada Senin (16/2/2026).

Sebanyak 68 warga desa tersebut mengalami muntah, diare, sakit perut, dan pusing.

Sebelumnya, mereka menghadiri sebuah acara yang digelar pada Minggu (15/2/2026) malam. 

Baca juga: Geger Warga Satu Keluarga Keracunan Jamur: Ayah Meninggal, Dua Masih Dirawat di RS

Baca juga: Pelajar Opname Akibat Keracunan di Jepara Bertambah, Pedagang Sudah Temui Orangtua dan Guru

Saat itu tuan rumah membagikan menu katering yang berisi ayam dan olahan ati ampela.

Diketahui, acara tersebut digelar pada Minggu (15/2/2026) malam.

Sekretaris Desa Trirejo, Fabrian Mahendra mengatakan, dalam kegiatan tersebut, tuan rumah membagikan konsumsi kepada sekitar 64 undangan.

Meski undangan resmi tercatat sekitar 64 orang, makanan tersebut juga dikonsumsi bersama anggota keluarga di rumah masing-masing sehingga jumlah warga yang mengalami gejala bertambah.

“Memang sebelumnya ada acara ruwahan dan menyediakan hidangan bagi para undangan.

Setelah itu muncul keluhan dari warga yang mengonsumsi makanan tersebut,” kata Fabrian saat ditemui di Posko desa setempat, Senin (16/2/2026).

Ia menjelaskan, hidangan yang dibagikan berupa nasi dengan lauk ayam dan olahan ati ampela.

Makanan tersebut dipesan dari jasa katering di wilayah Kabupaten Purworejo yang sebelumnya juga beberapa kali melayani pesanan warga Desa Trirejo.

Menurut keterangan warga, saat makanan diterima dari pihak katering, kondisinya masih hangat.

Namun, gejala mulai dirasakan secara bertahap oleh para penerima makanan.

“Informasi dari warga, makanan saat diterima masih hangat. Tetapi gejala yang muncul hampir sama, yakni muntah dan diare,” ujarnya.

Fabrian menambahkan, waktu munculnya keluhan bervariasi.

Ada warga yang mulai merasakan gejala sejak malam hari setelah menyantap hidangan, sementara lainnya baru mengeluh pada dini hari hingga pagi.

“Rata-rata sebelum subuh sudah merasa mual dan diare. Ada yang malam, ada yang pagi. Variatif, tetapi keluhannya hampir sama,” kata dia.

Menindaklanjuti kejadian itu, Pemerintah Desa Trirejo langsung melakukan pendataan serta membuka posko pelayanan kesehatan.

Koordinasi juga dilakukan dengan Puskesmas Loano dan tim medis dari rumah sakit setempat untuk membantu pemeriksaan warga.

Jatmiko, salah satu warga mengatakan, sejumlah sampel makanan dilaporkan akan ditelusuri lebih lanjut oleh instansi kesehatan guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Hingga kini, belum ada kesimpulan resmi terkait sumber kontaminasi atau faktor lain yang memicu dugaan keracunan massal tersebut.

Jatmiko menegaskan, pemerintah desa dan warga masih menunggu hasil pemeriksaan dari dinas kesehatan untuk memastikan apakah makanan yang disajikan dalam acara benar menjadi penyebab utama.

“Kami belum bisa menyimpulkan. Masih menunggu hasil pemeriksaan dari pihak berwenang. Yang jelas, kami fokus memastikan warga mendapatkan penanganan,” ujarnya.

Pemerintah desa juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi.

Sementara itu, penelusuran lebih lanjut terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan masih dilakukan oleh pihak terkait.

Sumber: kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.