Baca juga: Arti Boundaries dalam Hubungan Romantis, Contoh, Guna, Tanda-Tanda, Cara Menetapkan
Kata atau istilah boundaries ini sudah sering digunakan kaula muda dalam bahasa formal dan bahasa pergaulan di Riau, baik di media sosial maupun di dunia nyata.
Bagi para kaula muda Pekanbaru atau kaula muda Riau umumnya yang ingin menggunakan kata ini sebagai bahasa dalam pergaulan, simak penjelasannya agar paham artinya dan lawan bicara tidak salah paham.
Secara bahasa atau secara harfiah, boundaries merupakan bahasa inggris dan dalam bahasa Indonesia, arti kata boundaries atau boundaries artinya adalah batasan.
Dalam konteks hubungan interpersonal dan psikologi, arti kata boundaries atau boundaries artinya adalah garis batas yang kita tetapkan untuk memisahkan diri kita dari orang lain.
Batasan ini bisa bersifat fisik, emosional, mental, atau seksual, dan berfungsi untuk melindungi kesejahteraan kita, menjaga harga diri, serta menentukan bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain.
Secara bahasa, arti boundaries dalam Bahasa Gaul adalah batasan; atau aturan main; atau garis demarkasi; atau area pribadi; atau privasi; atau urusan gue; atau hak gue; atau batas wajar; atau jangan kelewatan.
Secara bahasa, arti boundaries dalam Bahasa Melayu Riau adalah sempadan atau batasan.
Secara istilah, arti boundaries dalam hubungan romantis adalah pedoman atau batasan yang ditetapkan oleh setiap individu dalam hubungan tersebut untuk menentukan perilaku apa yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.
Secara bahasa, arti boundaries di media sosial adalah batasan.
Secara istilah, arti boundaries di media sosial adalah aturan atau pedoman yang kita tetapkan untuk diri sendiri dan orang lain dalam berinteraksi di platform-platform media sosial.
Batasan ini bertujuan untuk melindungi kesehatan mental, emosional, dan privasi kita saat menggunakan media sosial.
Media sosial dapat memberikan banyak manfaat, seperti terhubung dengan teman dan keluarga, mendapatkan informasi, dan mengekspresikan diri.
Namun, media sosial juga dapat berdampak negatif jika kita tidak memiliki batasan yang jelas.
Berikut alasan boundaries penting di media sosial :
1. Melindungi Kesehatan Mental: Media sosial seringkali menjadi tempat perbandingan sosial, cyberbullying, dan informasi yang berlebihan ( information overload ), yang dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi.
2. Menjaga Privasi: Informasi pribadi yang kita bagikan di media sosial dapat disalahgunakan oleh orang lain untuk tujuan yang tidak baik, seperti pencurian identitas atau peretasan.
3. Mengelola Waktu: Media sosial dapat sangat adiktif dan menghabiskan banyak waktu. Batasan waktu penggunaan media sosial dapat membantu kita lebih produktif dan fokus pada hal-hal yang lebih penting.
4. Memelihara Hubungan Nyata: Terlalu fokus pada interaksi di media sosial dapat membuat kita mengabaikan hubungan dengan orang-orang di dunia nyata.
5. Menghindari Konflik: Batasan dalam berinteraksi dengan orang lain di media sosial dapat membantu kita menghindari perdebatan atau konflik yang tidak perlu.
Berikut jenis-jenis boundaries di media sosial :
1. Batasan Waktu: Menetapkan batasan waktu harian atau mingguan untuk penggunaan media sosial.
2. Batasan Konten: Memilih konten apa yang ingin kita lihat dan hindari. Misalnya, berhenti mengikuti akun-akun yang membuat kita merasa insecure atau memicu emosi negatif.
3. Batasan Interaksi: Menentukan dengan siapa kita ingin berinteraksi dan bagaimana cara kita berinteraksi. Misalnya, tidak menanggapi komentar negatif atau memblokir orang yang toxic.
4. Batasan Informasi Pribadi: Membatasi informasi pribadi apa yang kita bagikan di media sosial. Misalnya, tidak membagikan alamat rumah, nomor telepon, atau detail keuangan.
5. Batasan Ketersediaan: Menentukan kapan kita bersedia merespons pesan atau notifikasi dari media sosial. Misalnya, mematikan notifikasi di malam hari atau saat sedang bekerja.
6. Batasan Emosional: Menyadari dan mengelola emosi kita saat menggunakan media sosial. Misalnya, tidak terlalu terpancing emosi saat melihat postingan yang kontroversial atau provokatif.
Dengan menetapkan dan memelihara batasan yang sehat di media sosial, kita dapat menikmati manfaatnya tanpa mengorbankan kesehatan mental, emosional, dan privasi kita.
Berikut contoh boundaries di media sosial yang bisa diterapkan :
1. Batasan Waktu:
Contoh: Menetapkan waktu maksimal 1 jam per hari untuk menggunakan media sosial.
Penerapan: Menggunakan fitur timer di aplikasi atau smartphone untuk membatasi waktu penggunaan. Setelah 1 jam, berhenti menggunakan media sosial dan alihkan perhatian ke aktivitas lain.
Contoh: Tidak menggunakan media sosial setelah pukul 9 malam.
Penerapan: Mematikan notifikasi media sosial di malam hari untuk menghindari godaan membuka aplikasi.
2. Batasan Konten:
- Contoh: Berhenti mengikuti akun-akun yang membuat merasa insecure atau memicu emosi negatif.
Penerapan: Melakukan unfollow atau mute akun-akun yang sering menampilkan konten yang tidak sesuai dengan minat atau nilai-nilai pribadi.
- Contoh: Menghindari konten yang mengandung kekerasan, pornografi, atau ujaran kebencian.
Penerapan: Menggunakan fitur report atau block untuk melaporkan konten-konten yang melanggar aturan platform media sosial.
3. Batasan Interaksi:
- Contoh: Tidak menanggapi komentar negatif atau provokatif dari orang yang tidak dikenal.
Penerapan: Mengabaikan komentar-komentar yang tidak membangun atau memicu perdebatan yang tidak perlu. Jika komentar tersebut mengandung cyberbullying atau ujaran kebencian, segera laporkan.
- Contoh: Memblokir orang yang toxic atau sering mengirimkan pesan yang tidak menyenangkan.
Penerapan: Menggunakan fitur block untuk mencegah orang tersebut berinteraksi dengan akun media sosial kita.
4. Batasan Informasi Pribadi:
- Contoh: Tidak membagikan alamat rumah, nomor telepon, atau detail keuangan di media sosial.
Penerapan: Berhati-hati dalam mengisi profil media sosial dan memastikan bahwa informasi pribadi yang sensitif tidak ditampilkan secara publik.
- Contoh: Tidak memposting foto atau video yang terlalu pribadi atau memperlihatkan aktivitas yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.
Penerapan: Mempertimbangkan dengan cermat sebelum memposting sesuatu di media sosial dan memastikan bahwa konten tersebut tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
5. Batasan Ketersediaan:
- Contoh: Mematikan notifikasi media sosial saat sedang bekerja atau beristirahat.
Penerapan: Mengatur notifikasi media sosial agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Hanya aktifkan notifikasi untuk hal-hal yang penting atau mendesak.
- Contoh: Tidak selalu harus merespons pesan atau komentar di media sosial dengan cepat.
Penerapan: Memberi diri sendiri waktu untuk memproses informasi dan merespons pesan atau komentar ketika sudah siap. Tidak perlu merasa tertekan untuk selalu online dan available.
6. Batasan Emosional:
- Contoh: Menyadari bahwa apa yang dilihat di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas yang sebenarnya.
Penerapan: Tidak mudah terpengaruh oleh image sempurna yang ditampilkan oleh orang lain di media sosial. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki masalah dan tantangan masing-masing.
- Contoh: Tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain di media sosial.
Penerapan: Fokus pada kelebihan dan pencapaian diri sendiri. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda.
Dengan menerapkan batasan-batasan ini, kita dapat menggunakan media sosial dengan lebih bijak dan sehat, serta melindungi diri dari dampak negatifnya.
Secara istilah, arti boundaries konten di media sosial adalah batasan atau aturan yang ditetapkan terkait jenis dan jumlah konten yang kita konsumsi atau bagikan di platform media sosial.
Melibatkan penyaringan informasi yang masuk dan keluar untuk menjaga kesehatan mental, emosional, dan citra diri.
Berikut penjelasannya :
- Konten yang Dibagikan: Menentukan batasan tentang apa yang dibagikan secara publik, termasuk informasi pribadi dan opini.
- Kurasi Konten: Memastikan bahwa konten yang dibagikan sudah dikurasi dengan baik agar tidak menimbulkan masalah atau penyesalan di kemudian hari.
Alasan pentingnya boundaries konten di media sosial :
- Kesehatan Mental: Membantu mengurangi paparan terhadap konten negatif yang dapat menyebabkan stres, kecemasan, atau depresi.
- Citra Diri: Melindungi citra diri dengan memastikan bahwa konten yang dibagikan mencerminkan nilai-nilai dan identitas yang diinginkan.
- Privasi: Menjaga informasi pribadi agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Berikut contoh penerapan boundaries konten di media sosial :
- Berhenti mengikuti ( unfollow ) akun yang sering memposting konten yang membuat merasa tidak nyaman.
- Menggunakan fitur mute untuk menyembunyikan postingan dari teman atau halaman tertentu tanpa harus berhenti mengikuti mereka.
- Menghindari membaca komentar negatif atau berdebat dengan orang asing di media sosial.
- Tidak membagikan informasi pribadi seperti alamat rumah, nomor telepon, atau detail keuangan di media sosial.
- Memastikan bahwa foto atau video yang diunggah tidak melanggar norma sosial atau berpotensi merugikan diri sendiri atau orang lain.
- Melaporkan ( report ) konten yang melanggar aturan platform media sosial, seperti ujaran kebencian atau cyberbullying.
Dengan menetapkan boundaries konten yang tepat, pengguna media sosial dapat menciptakan pengalaman yang lebih positif dan sehat secara mental.
Sumber: tribunpekabaru.com, kbbi.web.id, kbbi.co.id, yourdictionary.com, Kamus Bahasa Indonesia - Bahasa Melayu Riau
Demikian penjelasan tentang arti boundaries di media sosial dan jenis-jenis boundaries di media sosial serta contoh boundaries di media sosial hingga arti boundaries konten di media sosial dan contoh penerapan boundaries konten di media sosial .
( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )