Seminar Internasional FIPP Bedah Masa Depan Pendidikan dan Psikologi di Era AI
khoirul muzaki February 20, 2026 11:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG- Bagaimana seorang mahasiswa asing menaklukkan culture shock di jantung kebudayaan Jawa? Bagaimana pula denyut nadi pendidikan tetap berdetak di tengah badai krisis politik? Dan benarkah kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) justru kerap menjebak mahasiswa dalam "ilusi pemahaman"?

Isu-isu krusial bin provokatif ini menjadi episentrum diskusi dalam seminar internasional yang menjadi rangkaian FIPP International Forum 2026. Perhelatan ini berlangsung khidmat di Aula Dekanat Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Kamis, 19 Februari 2026.

Meski digelar di tengah kebijakan Work From Anywhere (WFA) hari pertama Ramadan 1447 H, gairah intelektual para peserta tak meredup. Dekan FIPP UNNES, Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Si., menegaskan bahwa forum lintas negara ini adalah pengejawantahan visi UNNES sebagai pelopor kecemerlangan pendidikan yang bereputasi dunia.

"Kolaborasi internasional melalui student exchange dan temu akademik lintas negara adalah ikhtiar kita untuk terus meluaskan cakrawala mahasiswa," tuturnya.

Resiliensi dan Agensi Guru di Tengah Krisis

Seminar ini mempertemukan perspektif dari Kirgistan, Myanmar, Gambia, hingga Indonesia. Salah satu poin penting yang dibedah adalah bagaimana aktor pendidikan bertahan dalam keterbatasan. Jenyes Intan Sururoh, mahasiswi Bimbingan Konseling FIPP UNNES, memotret ketangguhan para guru BK di sekolah.

Dalam risetnya, ia menekankan bahwa inovasi layanan BK seringkali lahir bukan dari instruksi formal, melainkan dari "agensi profesional" para guru yang bergerak lincah menembus keterbatasan fasilitas demi merespons kebutuhan emosional siswa yang kian kompleks.

Senada dengan isu resiliensi, mahasiswi S2 Pengembangan Kurikulum asal Myanmar, Hsu Nandar Myint, membagikan kisah haru sekaligus heroik tentang transformasi kurikulum di negaranya pasca-krisis politik 2021. Penggunaan modul cetak dan radio pendidikan menjadi bukti bahwa ketika teknologi tinggi lumpuh, kreativitas komunitas tetap mampu menjaga nyala api pembelajaran.

Baca juga: Profil Prihati Pujowaskito, Eks Dokter Kopassus Jadi Dirut BPJS Kesehatan

Dari 'Culture Shock' Hingga Labirin AI

Mahasiswa S3 UNNES asal Kirgistan, Nurtilek Kadyrov, membuka tabir pengalaman 11 tahunnya di Indonesia melalui kacamata Cultural Intelligence. Baginya, beradaptasi di Jawa bukan sekadar fasih berbahasa, melainkan seni bernegosiasi psikologis. "Kecerdasan budaya adalah kunci yang mengubah tembok perbedaan menjadi jembatan kolaborasi," ujar pemenang Festival Handai Indonesia 2023 ini.

Di sisi lain, Shelma Rania Putri Nugroho dari prodi Psikologi menyuarakan nasib perempuan dalam status NEET (Not in Education, Employment, or Training). Ia membedah bagaimana norma gender seringkali menjadi jeruji yang memasung efikasi diri perempuan. Sementara itu, Mafu Ceesay, mahasiswa UIN Salatiga asal Gambia, mendorong agar literasi data dan coding dijadikan "bahasa ibu" baru dalam logika pendidikan abad ke-21.

Namun, forum ini juga memberikan peringatan keras. Annisa Denti Papita, mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah, menyoroti fenomena Illusion of Understanding akibat penggunaan AI. Ia memperingatkan bahwa kemudahan AI seringkali memberikan rasa paham palsu, yang jika tidak diantisipasi, akan mengikis kedalaman analisis kritis dan integritas intelektual mahasiswa.

Seminar internasional ini mempertegas posisi FIPP UNNES dalam mendukung SDGs, khususnya pendidikan inklusif dan kesetaraan gender, dengan memastikan diskursus akademik tetap berpijak pada realitas kemanusiaan di tengah gempuran teknologi masa depan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.