Oleh: Iksan Hidayah
(Dewan Etik Ikatan Jurnalis Sulawesi Barat)
Di panggung politik Indonesia, ada musim-musim tertentu yang datang tanpa perlu ramalan cuaca. Ada musim baliho, musim safari kebangsaan, dan kini musim primadona.
Di musim ini, satu nama disebut lebih sering dari doa pembuka rapat. Partai Gerakan Indonesia Raya, atau yang lebih akrab di lidah rakyat, Gerindra.
Sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) berdenyut di nadi kampung-kampung, politik tak lagi sekadar soal kursi dan koalisi.
Ia berubah menjadi pesta resepsi panjang, di mana Gerindra duduk di pelaminan, dan para tokoh politik berbaris rapi seperti tamu yang ingin foto bersama pengantin—tentunya dengan sudut terbaik.
Baca juga: Drama Jual Beli Titik MBG di Sulawesi Barat
Angin primadona itu terasa hingga ke barat Pulau Sulawesi. Di Sulawesi Barat, Gerindra sedang tumbuh dengan percaya diri, seperti pohon yang akarnya mulai mencengkeram tanah politik lokal.
Kantor-kantor partai yang dulu sekadar persinggahan kini menjadi ruang temu, ruang lobi, ruang negosiasi—bahkan ruang harapan baru.
Menjelang kontestasi, baik pemilihan gubernur, bupati, maupun legislatif, nama Gerindra kerap disebut dalam percakapan serius maupun setengah berbisik.
Ia menjadi semacam simpul strategis, bukan hanya soal tiket politik, tetapi juga soal akses, jaringan, dan kedekatan dengan kebijakan nasional yang sedang bergulir.
Menariknya, meski gubernur Sulawesi Barat bukan berasal dari Gerindra, denyut kebijakan nasional kerap disebut-sebut “bermuara” atau setidaknya “melewati beranda” para pengurus Gerindra.
Dalam bahasa warung kopi, anggaran pusat terasa lebih mudah dibicarakan jika pintu yang diketuk berwarna loreng merah-putih khas partai ini.
Di sinilah sastra politik menjadi jenaka. Para politisi lokal yang dulu mungkin menjaga jarak, kini rajin bersilaturahmi.
Pemuda-pemuda yang ingin naik panggung merasa lebih pede mendekat, membawa proposal, membawa ide, bahkan membawa mimpi.
Mereka percaya bahwa di ruang-ruang Gerindra, peluang bisa diracik seperti kopi hangat, pahitnya strategi, manisnya jaringan.
Di tingkat kabupaten, provinsi, hingga jalur khusus ke salah satu pengurus DPP Gerindra asal Sulawesi Barat di pusat, benang komunikasi terjalin rapat.
Politik lokal seakan menemukan poros baru, bukan untuk menggantikan yang lama, tetapi untuk menegaskan bahwa siapa yang dekat dengan arus kebijakan nasional, ia punya posisi tawar yang berbeda.
Gerindra di Sulawesi Barat kini bukan sekadar partai peserta pemilu. Ia menjadi ruang lobi-lobi partner politik, tempat perhitungan dibahas dengan kalkulasi matang.
Dalam setiap pertemuan, ada aroma koalisi. Dalam setiap senyum, ada peta elektoral yang disimpan rapi.
Namun seperti kisah klasik dalam panggung kekuasaan, menjadi pusat lobi berarti siap menjadi pusat harapan. Harapan itu kadang datang seperti ombak.
Indah dilihat, tapi kuat menghantam. Jika ekspektasi tak terkelola, primadona bisa berubah menjadi sasaran kritik.
Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa dinamika ini menandai satu hal, Gerindra sedang berada di titik percaya diri politik.
Ia memetik momentum dari program nasional yang berjalan, lalu menanamkannya dalam tanah lokal Sulawesi Barat.
Rakyat tentu berharap lebih dari sekadar lobi dan manuver.
Mereka ingin jalan diperbaiki, sekolah diperhatikan, desa diberdayakan. Jika kedekatan dengan kebijakan nasional benar-benar diterjemahkan menjadi kerja nyata, maka primadona ini tak hanya cantik di baliho, tetapi juga terasa manfaatnya di kampung.
Akhirnya, politik Sulawesi Barat hari ini seperti panggung sandiwara yang penuh dialog cerdas dan sedikit humor.
Semua ingin berada di sisi yang dianggap strategis. Dan untuk sementara waktu, lampu sorot itu tampak menyinari Gerindra—yang bukan hanya menjadi peserta permainan, tetapi sedang menjadi pusat percakapan. (*)