TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Era digital yang semakin terhubung, kebocoran nomor telepon kerap terjadi tanpa disadari pengguna.
Nomor yang tersimpan di aplikasi, media sosial, hingga layanan finansial berpotensi diakses dan dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab.
Kondisi ini membuka risiko lanjutan, mulai dari spam, penipuan, hingga pembajakan akun, sehingga memahami cara kebocoran terjadi menjadi langkah awal untuk melindungi privasi dan keamanan digital.
Lantas, bagaimana sebenarnya nomor telepon bisa bocor lewat aplikasi dan layanan online, serta apa saja celah yang kerap dimanfaatkan pelaku?
Dilansir dari laman Global Security Network, kebocoran nomor ponsel bisa terjadi melalui berbagai celah yang sering tidak disadari pengguna.
Salah satu yang paling umum adalah oversharing di media sosial, misalnya mencantumkan nomor telepon di profil publik atau unggahan terbuka.
Selain itu, kebocoran data (data breach) dari situs dan aplikasi juga menjadi sumber utama.
Platform yang menyimpan nomor ponsel pengguna berisiko diretas jika sistem keamanannya lemah.
Penipuan phishing turut berperan, di mana pelaku menyamar sebagai pihak resmi untuk mengelabui korban agar memberikan nomor telepon.
Faktor lain yang kerap diabaikan adalah izin aplikasi, karena sebagian aplikasi meminta akses nomor ponsel tanpa alasan yang benar-benar diperlukan dan berpotensi membagikannya ke pihak ketiga.
Baca juga: Akun WhatsApp Bisa Diambil Alih Hacker! Ini 28 Aplikasi Pemicu Malware dan Cara Mengatasinya
Ketika nomor ponsel jatuh ke tangan yang salah, risiko yang muncul tidak sekadar spam.
Penjahat siber dapat memanfaatkannya untuk phishing, pencurian identitas, hingga SIM swapping yaitu metode pengambilalihan nomor untuk membobol akun penting melalui kode OTP.
Dampaknya bisa berupa kerugian finansial, pengambilalihan akun digital, hingga tekanan psikologis akibat pelanggaran privasi.
Untuk mengurangi risiko, pengguna disarankan membatasi pembagian nomor ponsel secara online, meninjau ulang izin aplikasi, serta menggunakan autentikasi dua faktor berbasis aplikasi, bukan SMS.
Menggunakan nomor virtual untuk kebutuhan non-prioritas juga bisa menjadi solusi agar nomor utama tetap aman.
Pentingnya perlindungan dari SIM swapping SIM swapping merupakan ancaman serius karena memungkinkan pelaku mengambil alih akun e-mail, media sosial, hingga perbankan.
Salah satu langkah pencegahan utama adalah mengaktifkan PIN atau password khusus di operator seluler, serta waspada terhadap panggilan atau pesan mencurigakan yang mengatasnamakan operator.
Jika menduga nomor ponsel telah bocor, segera ganti kata sandi akun terkait, aktifkan keamanan tambahan, pantau aktivitas mencurigakan, dan laporkan spam ke operator.
Dalam kondisi tertentu, mengganti nomor bisa menjadi langkah terakhir untuk memutus risiko lanjutan.
Ke depan, teknologi seperti decentralized identity, AI, dan sistem keamanan berbasis perilaku diperkirakan akan membantu mengurangi ketergantungan pada nomor ponsel sebagai identitas utama.
Namun, kesadaran dan kebiasaan aman pengguna tetap menjadi kunci utama perlindungan data pribadi.
Sumber: Kompas.com