SURYA.CO.ID, SURABAYA - Fenomena mencurahkan isi hati atau 'curhat' di media sosial kini bisa menjadi data berharga untuk memantau kesehatan mental.
Dr Gede Aditra Pradnyana, lulusan program doktoral Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), berhasil mengembangkan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mendeteksi depresi melalui riwayat penggunaan media sosial (medsos).
Inovasi ini memanfaatkan data jejak digital pengguna, baik berupa teks maupun gambar, untuk mengenali indikasi depresi secara lebih cepat dan non-intrusif. Sistem ini dirancang sebagai langkah awal deteksi dini, sebelum individu melakukan pemeriksaan klinis lebih lanjut ke profesional.
Aditra mengungkapkan, inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap kasus bunuh diri akibat depresi yang masih menjadi isu kemanusiaan serius. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang enggan berkonsultasi ke psikolog atau psikiater.
“Sebagian orang justru lebih sering mengekspresikan perasaan gelisah atau persoalan hidup melalui media sosial,” kata Aditra, Jumat (20/2/2026).
Dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) ini menjelaskan, model yang dikembangkannya bernama DeXMAG. Sistem ini merupakan gabungan metode Cross-Modal Attention dan Adaptive Gated Fusion dengan fitur Myers Briggs Type Indicator (MBTI).
Berikut adalah komponen canggih dan cara kerja sistem pendeteksi depresi tersebut:
Aditra menekankan, bahwa pendekatan multimodal yang menggabungkan berbagai jenis data terbukti lebih efektif dibandingkan metode konvensional.
"Studi yang dilakukan menunjukkan setiap data linguistik dan visual memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja sistem," lanjut alumnus Universitas Udayana tersebut.
Integrasi teknologi ini, diharapkan dapat dimanfaatkan secara luas melalui fitur aplikasi. Tujuannya jelas, yakni membantu masyarakat mendeteksi kerentanan depresi sejak dini tanpa rasa takut.
“Harapannya, pendekatan ini dapat membantu banyak orang dalam mengambil langkah awal mengenali kondisi kesehatan mental mereka,” tuturnya.
Penelitian disertasi ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera, serta tujuan kesembilan mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur.
Aditra menilai, kolaborasi antara teknologi AI dan kesehatan mental digital adalah kunci solusi inovatif untuk kesejahteraan psikologis masa depan.