Mengenal Joko Supratikto, Anak Guru yang Jadi Kepala Perwakilan BI, Tiap Hari Jalan Kaki ke Sekolah 
Chintya Rantung February 20, 2026 06:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara, Joko Supratikto membagikan sebagian kisah hidupnya kepada Tribun Manado. 

Joko menjadi narasumberPodcast Tribun Manado, Jumat (20/2/2026).

Dalam program yang dipandu host, Pemred Tribun Manado, Jumadi Mappanganro, Joko menceritakan ringkasan kisah masa kecil hingga menjadi pejabat di BI. 

Joko lahir di Kaliurang, Kelurahan Kali Genting Kecamatan Ampel, Boyolali Jawa Tengah pada 28 Desember 1968.

Ayah dan ibunya guru. Masa kecil Joko--hingga kelas tiga SD--dihabiskan di daerah yang merupakan lereng Gunung Merbabu. 

"Saya sekolah di SD Kali Gentong 1. Setiap hari ke sekolah jalan kaki empat sampai lima kilometer. Waktu itu, kebanyakan tidak bersepatu. Termasuk saya juga," kata Joko. 

Kenangan lainnya yang selalu membekas ialah setiap pulang sekolah, pasti menyusuri persawahan, sungai dan kebun tembakau. Kadang, Joko dan kawan-kawan mampir bermain dan cari ikan. 

Kelas empat SD, Joko pindah ke Salatiga. Mereka ikut sang bapak yang setelah lulus kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mendapatkan pekerjaan di kota berpredikat sangat toleransi itu. 

Joko menghabiskan waktu sebagai pelajar hingga SMA di Salatiga. Ia alumnus SMA Negeri 1 Salatiga. 

Ia lalu lanjut kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Mengambil jurusan Akuntansi, Joko menuntaskan kuliah lima tahun. Ia lulus tahun 1992.

Lulus kuliah, tantangan mencari kerja menanti. Ia mencoba peruntungan dengan merantau ke Jakarta. Melamar sana-sini. 

"Saya pertama kali bekerja di perusahaan swasta. Sempat pindah di beberapa perusahaan," katanya. 

Bagaimana ceritanya bisa masuk BI? Pria yang hobi bersepeda ini bilang, ia dan beberapa teman mencoba ikut seleksi pegawai BI tahun 1994. Ia lolos. 

Masuk pendidikan calon pegawai dan lulus 1995. Berarti, sudah 31 tahun Joko mengabdi sebagai pegawai Bank Sentral Indonesia. 

Ia mengungkapkan, sejatinya kedua orangtuanya berharap Joko bisa jadi dosen.

"Kami memang keluarga pengajar. Ibu dan bapak guru. Kakak saya guru, ada kakak juga PNS dan dosen, adik juga dosen," katanya. 

Ia bercerita, ada filosofi dan pengajaran yang selalu jadi pegangannya. Hidup dalam keluarga sederhana, Joko diajari makna dari apa kata cukup.

"Kami enam kakak beradik. Dulu, makan telur itu sudah sangat mewah. Ajaran orangtua saya, gunakan apa yang kami miliki. Jadi misalnya diberi 200 perak, ya gunakan untuk mencukupi. Jangan sampai kurang," katanya. 

Filosofi lainnya ialah pentingnya rukun dengan saudara. Keluarga Joko sejak dulu terbiasa dalam keberagaman. 

"Paman dan kakek saya Muslim. Lebaran kami berkunjung cari ketupat. Pas Natal kami dikunjungi," katanya lagi. 

Selanjutnya, orangtua mendidik Joko dan saudara-saudaranya tentang pentingnya bersekolah. "Pentingnya menimba ilmu dan kami terbiasa hidup mandiri. Kakak saya, sejak SMP sudah tinggal sendiri di Salatiga," katanya. 

Berawal dari Pengawas Bank

Joko mengawali karir di BI sebagai Pengawas BI. Ia mengawasi bank pelat merah. Bersamaan dengan itu, ia menjadi peneriksa bank pemerintah dan bank swasta. 

Joko menjadi bagian dari tim yang membidani lahirnya Bank Mandiri. Joko bagian dari Tim Likuidasi Perbankan dan Pembekuan Bank pada tahun 1997. Katanya, kerja tim ini tidak mudah di tengah krisis moneter waktu itu. 

Sengkarut ekonomi dan berimbas ke politik memukul sektor perbankan. "Bank Mandiri itu lahir dari merger Bapindo, BDN, Bank Exim dan BBD," ungkapnya. 

Setelah krisis selesai, tahun 2001 Joko dapat beasiswa dari BI untuk studi lanjut ke Filipina. Pulang dari Filipina, wacana pemisahan pengawasan bank sudah mengemuka. 

Joko kemudian masuk ke Departemen Manajemen Riski Keuangan Bank. Ia berasa di sana cukup lama, selang 2002-2011. 

Selanjutnya ia berkutat dengan pengelolaan cadangan devisa. Dari situ Joko ditugaskan ke Departemen pengembangan UMKM.

"Saat itulah saya bersentuhan dengan sektor riil. Bagaimana UMKM, pertanian, sektor riil," jelasnya.

Pada tahun 2015, Joko ditugaskan ke daerah. Penugasan pertamanya sebagai Kepala Perwakilan BI Papua.

"Tantangannya luar biasa. empat tahun di sana, saya menikmati," katanya. 

Joko punya legacy di Papua. Ia berhasil menggagas Festival Kopi Papua yang kini jadi agenda rutin. 

Festival ini digelar pertama kali pada 2018. Pada saat itu, digelar lelang kopi. Pernah tercipta rekor, Arabica Tiom laku Rp 5,3 juta per kilogram. 

Lebih tinggi dari rekor yang pernah dicatat MURI. "Sayang waktu itu kami tidak mengundang MURI," kata Joko sambil tertawa. 

Ada cerita menarik di Papua. Karena akses transportasi yang sulit, satu-satunya pilihan bepergian antar daerah ialah angkutan udara. Itu yang mmbuat harga-harga serba mahal. 

"Karena semua diangkut dengan pesawat. Harga BBM sebelum ada kebijakan BBM Satu Harga luar biasa. Bensin di Jayapura 8 ribu, di Papua Pegunungan bisa jadi 100 ribu," ungkapnya. 

Dari Papua, Joko kembali ke Jakarta di Departemen Manajemen Risiko. Lalu ke Bidang Perizinan dan Operasional Treasury. 

Setelah itu, per Juni 2025, Joko ditugaskan sebagai Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara. Ia mengungkapkan, kesan pertamanya ialah Manado itu daerah yang kaya kuliner dan pariwisata. 

"Daerah ini sudah sangat terkenal, Bunaken dengan taman lautnya yang indah," katanya. 

Katanya begitu banyak potensi yang ada di daerah ini. Satu di antaranya industri rumah kayu Woloan. 

"Saya dulu sempat tugas ke Manado, tertarik dengan rumah panggung Woloan. Tapi waktu itu tertarik saja. Tahun 2012, tugas lagi ke sini, saya putuskan beli. Sekarang rumah itu kami tinggali di Bekasi," kata Joko.(ndo) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.