TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Pemkab Tegal menggelar rapat koordinasi mitigasi bencana menyikapi potensi puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga pertengahan Maret 2026.
Rapat berlangsung di Ruang Rapat Sekda Kabupaten Tegal, Rabu (18/2/2026).
Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman memimpin rapat untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi ancaman banjir dan longsor.
Baca juga: Pemkab Tegal dan BNPB RI Percepat Pembangunan 456 Huntara di Padasari
Dalam forum tersebut dibahas pula dukungan dari berbagai pihak, termasuk distribusi paket sembako dan relokasi lahan terdampak, guna menjamin pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di tengah potensi cuaca ekstrem.
Bupati Ischak menjelaskan, sedimentasi sungai dan penyempitan jembatan menjadi penyebab utama banjir di sejumlah wilayah.
Dia menegaskan, penanganan harus dilakukan melalui skema darurat tanpa terhambat persoalan kewenangan.
“Kami tidak bisa menunggu terlalu lama. Jika menunggu kewenangan PSDA penanganan akan terhambat."
"Ini bencana banjir, sehingga langkah darurat harus diambil dengan normalisasi segera."
"Datangkan alat berat dalam satu hingga dua hari ke depan, baik melalui BTT maupun mekanisme lain yang penting segera ditangani,” tegas Bupati Ischak, Jumat (20/2/2026).
Selain normalisasi, Bupati Ischak meminta percepatan inventarisasi pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana tanah bergerak, baik secara komunal maupun mandiri.
“Segera inventarisasi pengajuan huntara, termasuk huntara mandiri agar tidak ada warga terdampak yang luput dari perhatian,” ujar Bupati Ischak.
Baca juga: 15 Desa di Jateng Berstatus Tertinggal, Terbanyak di Kabupaten Tegal, Ini Data Rincinya
Dia juga menyoroti pentingnya koordinasi lanjutan dengan Pemerintah Pusat terkait perpanjangan masa tanggap darurat, seraya menyampaikan surat pengajuan perpanjangan telah diajukan.
“Terpenting masyarakat dalam kondisi darurat tidak boleh kekurangan layanan,” tekan Bupati Ischak.
Pada kesempatan yang sama, Kalakhar BPBD Kabupaten Tegal, Muhammad Afifudin melaporkan sejumlah titik rawan seperti Desa Sidaharja dan Jembatan Cenang masih dalam tahap verifikasi teknis.
“Kami memastikan kelayakan lokasi dalam program Jembatan Merah Putih serta segera mengajukan BTT untuk penyewaan alat berat,” jelas Afifudin.
Afifudin menambahkan, kendala cuaca sempat menghambat penurunan alat berat di sejumlah titik sungai.
Terkait dukungan logistik, dia menyebut stok sembako masih mencukupi meskipun terdapat kekurangan bahan pelengkap dan tenaga relawan.
“Hujan lebat menyebabkan alat berat belum dapat diturunkan. Jika cuaca memungkinkan, proses akan dilanjutkan,” tandas Afifudin. (*)
Baca juga: Public Speaking Kunci Pelayanan Publik, Ilkom Harkat Negeri Gelar Pelatihan bagi ASN Dishub Tegal