BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sore itu sepasang suami istri tampak sibuk di bawah pondok kayu berukuran 2x8 meter, tumpukkan buah kepala muda tersusun rapi di atas meja dan menjadi pemandangan yang biasa bagi Diah dan Awang.
Keduanya begitu cekatan, ketika orang datang langsung mengayunkan parang, membelah tempurung buah kelapa muda yang masih hijau segar dan dituangkan kedalam teko bewarna hijau.
Lalu, dengan kedua tangannya air kelapa itu dimasukkan ke dalam plastik bewarna putih beserta dengan isi buah kelapa yang tadi sudah dibelah dua.
Begitulah kegiatan keseharian Diah (44) dan sang suami Awang (42), pedagang kelapa muda yang sejak 2018 lalu berdagang kelapa muda di jalan Kampung Melintang Kecamatan Rangkui, Kota Pangkalpinang.
"Sudah kurang lebih 8 tahunan, sebelum Covid-19 kami jualan disini dan sudah banyak orang tahu," ucap Diah sembari duduk dikursi plastik menunggu pembeli.
Diakuinya, jualan kelapa muda ini sampai saat ini masih menjadi pilihan banyak orang di hari-hari biasa. Terutama, di bulan Suci Ramadhan banyak masyarakat memilih buah kelapa untuk menu berbuka puasa.
Apalagi, harga buah kelapa muda lebih terjangkau bagi semua kalangan. Ditambah kelapa muda menyegarkan dipercaya mampu mengembalikan stamina dan mengganti cairan tubuh yang hilang.
"Satu butir kita jual hari biasa Rp13.000, tapi kalau puasa begini kita jual jualnya Rp15 ribu karena kelapa ini kita ambil sama orang dan mereka yang naikkan harga," ucapnya.
Namun, kata Diah biasanya setelah bulan Suci Ramadhan harga kelapa muda kembali normal dengan harga Rp13 ribu dan banyak masyarakat yang mampir untuk membeli kelapa muda.
"Kalau cuaca bagus ramai, tapi ketika hari hujan ya beguyur saja. Hari biasa biasanya sehari habis 50 buah kelapa, kalau puasa gini bisa 200 butir kelapa tetapi tidak tentu," ungkapnya.
Mengingat ekonomi masyarakat di Provinsi Babel ini, sedang tidak baik dan beberapa tahun ini ia mengaku ada penurunan tapi karena sudah banyak langgan yang sudah tahu.
"Bismillah, Alhamdulillah beguyur saja sekarang ini. Kadang ramai, kadang sepi tapi setiap hari ada yang beli karena sudah banyak yang tahu kita jualan setiap hari disini," ucapnya.
Meski sudah banyak pedagang buah kelapa muda, bagi Diah dan Awang bertahan hidup dengan berjualan kelapa muda dan tetap mengutamakan pelanggan yang terkadang berhenti sejenak untuk minum air kepala muda.
"Hari biasa ada yang minum sini, tapi kalau puasa gini kita tidak bolehin karena orang kan puasa. Jadi, kita hargai yang puasa dan kami tetap mengutamakan pelanggan," ujarnya.
Sesekali keduanya beranjak dari tempat duduknya, kembali memegang buah kelapa untuk dibelah dan dimasukkan kembali ke dalam plastik hingga diberikan ke pembeli.
Hari-hari keduanya dihabiskan di bawah pondok di tepi jalan untuk berdagang buah kelapa muda yang sampai saat ini masih mereka pertahankan.
Meski persaingan usaha kepala muda sudah banyak atau menjamur, bagi Diah dan Awang bukan tantangan tapi tetap mempertahankan usaha yang sudah lama digeluti.
(Bangkapos.com/Adi Saputra)