BANGKAPOS.COM, BANGKA – Di bawah terik matahari sore yang menyengat, puluhan ibu-ibu tampak berderet rapi di pelataran Simpang Lima Habang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.
Sebagian menutup wajah dengan ujung kerudung, sebagian lagi mengusap peluh yang menetes di pelipis. Meski panas terasa menyengat kulit, langkah mereka tetap bertahan dalam antrean panjang.
Di tangan mereka tergenggam keranjang anyaman warna-warni dan goody bag yang sudah disiapkan dari rumah. Ada yang membawa keranjang plastik biru, tas belanja hijau terang, hingga bakul anyam tradisional yang dijunjung di atas kepala.
Beberapa ibu menggendong balita, sementara yang lain berdiri sambil sesekali berbincang ringan untuk mengusir lelah.
Wajah-wajah itu memancarkan harap, mereka sabar menunggu giliran untuk mendapatkan sayuran segar yang dibagikan gratis. Begitu pintu pembagian dibuka, antrean bergerak perlahan. Ibu-ibu maju satu per satu, menyodorkan tas belanja mereka untuk diisi kangkung, sawi, timun, tempe dan aneka sayuran hijau yang masih tampak segar.
Suasana sempat riuh ketika keranjang-keranjang mulai terisi. Tangan-tangan cekatan memilih dan merapikan sayur di dalam tas agar muat lebih banyak. Meski berdesakan, senyum mereka tetap merekah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangka Selatan, Agung Prasetyo Rahmadi mengatakan pembagian sayur gratis ini merupakan rangkaian dari peringatan hari peduli sampah nasional tahun 2026.
Pihaknya melaksanakan kegiatan Gamis Berkah atau akronim gerakan minim sampah bersama kantor DLH. Sekaligus dikaitkan dengan momentum Ramadan. Uniknya, sayuran tersebut tidak dikemas dengan plastik, melainkan menggunakan goody bag yang bisa dipakai berulang kali.
“Sayur yang dibagikan juga diberdayakan langsung dari petani lokal, sehingga tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat,” kata dia kepada Bangkapos.com, Jumat (20/2/2026).
Agung Prasetyo Rahmadi menjelaskan, Ramadan menjadi periode meningkatnya produksi sampah rumah tangga. Terutama sampah plastik dan anorganik dari kemasan makanan dan minuman.
Kondisi tersebut mendorong DLH untuk melakukan pendekatan edukatif kepada masyarakat, khususnya ibu rumah tangga sebagai pengelola utama kebutuhan rumah tangga.
Menurutnya, berdasarkan data Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SPSN), sampah rumah tangga menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah. Karena itu, peran ibu-ibu dinilai sangat penting dalam menekan volume sampah dari sumbernya. Targetnya ketika berbelanja ke pasar maupun swalayan, masyarakat tidak lagi menggunakan kantong plastik.
“Alangkah baiknya membawa goody bag sendiri sehingga bisa mengurangi sampah plastik di Bangka Selatan,” ujar Agung Prasetyo Rahmadi.
Selain pembagian sayur, DLH juga melakukan sosialisasi Peraturan Bupati Bangka Selatan Nomor 55 Tahun 2025 tentang P2PSP atau Pembatasan Penggunaan Plastik Sekali Pakai.
Regulasi tersebut menjadi dasar kebijakan daerah dalam mengendalikan penggunaan kantong plastik, wadah, dan kemasan makanan maupun minuman berbahan plastik. Penggunaan plastik sekali pakai menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan karena sifatnya yang sulit terurai secara alami.
Jika tidak dikendalikan, akumulasi sampah plastik berpotensi mencemari tanah, air, dan mengganggu ekosistem. Peraturan Bupati tersebut disusun sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan nasional dalam pengurangan sampah, khususnya plastik sekali pakai. Melalui kebijakan itu, pemerintah daerah menekankan pembatasan penggunaan plastik pada sektor perdagangan, perkantoran, hingga kegiatan masyarakat.
Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga menjadi fokus utama. Upaya pembatasan timbulan sampah dilakukan dari hulu, yakni dari sumber penghasil sampah itu sendiri.
Edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi langkah awal yang efektif sebelum penegakan aturan dilakukan secara lebih luas. Kegiatan Gamis Berkah menjadi simbol gerakan menjadikan Ramadan lebih bersih, sehat, dan penuh berkah dengan mengurangi timbulan sampah, terutama plastik sekali pakai.
“Semangat yang diusung adalah kurangi sampah, tingkatkan ibadah, Ramadan berkah,” ucapnya.
Dengan program ini Agung Prasetyo Rahmadi berharap perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci keberhasilan program pengurangan sampah.
Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa partisipasi aktif masyarakat. Melalui pembagian sayur dalam goody bag, DLH ingin memberi contoh konkret bahwa kebiasaan sederhana seperti membawa tas belanja sendiri dapat berdampak besar dalam jangka panjang.
“Jika kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten, maka volume sampah plastik di Bangka Selatan diyakini dapat ditekan secara signifikan,” pungkas Agung Prasetyo Rahmadi.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)