Waspadai! Ada Pedagang Menggunakan Bahan Ikan Sapu-Sapu di dalam Siomay, Berikut Cara Mengenalinya 
Misran Asri February 20, 2026 11:54 PM

Isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan campuran siomay kembali mencuat dan memicu keresahan di masyarakat

PROHABA.CO, JAKARTA - Tanpa kita sadari, ternyata ada pedagang siomay yang menjadikan ikan sapu-sapu sebagai salah satu bahan yang dicampur dalam siomay.

Karena itu waspadalah, khususnya bagi pencinta makanan siomay.

Tampaknya hal itu menjadi hal yang wajib diketahui belakangan ini. 

Isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan campuran siomay kembali mencuat dan memicu keresahan di masyarakat. 

Alasannya sederhana, harga daging ikan sapu-sapu jauh lebih murah dibandingkan daging ikan tenggiri. 

Dengan memakai bahan lebih murah, pedagang bisa meraup untung lebih besar. 

Padahal, praktik ini jelas merugikan dan berpotensi membahayakan konsumen. 

Karena itu, penting bagi kita untuk mengenali ciri-ciri siomay yang dicampur ikan sapu-sapu. 

IKAN SAPU_SAPU_1
IKAN SAPU-SAPU - Ilustrasi Ikan sapu-sapu.(Dok Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau  Maros)

Ciri-ciri siomay yang diduga menggunakan ikan sapu-sapu. 

Berikut ini adalah ciri-ciri siomay yang diduga menggunakan ikan sapu-sapu: 

1. Warna daging kusam dan abu-abu gelap 

Daging ikan sapu-sapu umumnya berwarna lebih gelap ketimbang daging tenggiri. 

Akibatnya, siomay yang dibuat dari ikan tersebut tampak lebih kusam dengan warna abu-abu kehitaman. 

Namun jangan pula terkecoh dengan siomay berwarna putih bersih, karena bisa saja warna tersebut berasal dari pemutih atau bahan tambahan berbahaya lain. 

Siomay berbahan tenggiri yang sehat biasanya memiliki warna putih pucat dengan sedikit semburat abu-abu natural. 

2. Aroma janggal dan amis berlebihan 

Siomay dari daging ikan yang baik umumnya memiliki aroma khas ikan yang tidak terlalu menyengat. 

Sebaliknya, siomay dari daging ikan sapu-sapu—terutama yang tercemar—biasanya memiliki aroma amis kuat disertai bau janggal yang tidak wajar untuk produk berbahan ikan segar. 

3. Harga terlalu murah 

Pepatah “ada harga, ada kualitas” berlaku pada kasus ini. 

Jika kamu menemukan siomay dengan harga yang terlalu murah, patut dicurigai bahan bakunya menggunakan ikan sapu-sapu. 

Sebagai gambaran, harga ikan sapu-sapu hanya sekitar Rp 17.000 per kilogram, jauh lebih murah dibandingkan ikan tenggiri segar yang mencapai Rp135.000 per kilogram. 

Kenapa ikan sapu-sapu berbahaya jika dimakan? Pada dasarnya, ikan sapu-sapu bukanlah ikan yang beracun. 

Tapi, masalah utamanya terletak pada habitatnya. 

Ikan ini banyak hidup di sungai-sungai tercemar di Jakarta, termasuk Kali Ciliwung. 

Sungai-sungai tersebut terbukti mengandung polutan berat seperti merkuri. 

Ikan sapu-sapu dari Kali Ciliwung memiliki kandungan merkuri yang melampaui batas aman. 

Kandungan logam berat semacam ini berpotensi menyebabkan gangguan fungsi hati hingga kanker. 

Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta juga menemukan setidaknya delapan sungai di Jakarta yang tercemar logam berat. 

Artinya, ikan yang hidup di dalamnya otomatis berisiko tinggi tidak layak konsumsi. 

Menurut Irma Rumondang, Kepala Laboratorium Instrumen BBKK, masalahnya bukan pada jenis ikannya, tetapi pada lingkungan tempat ikan tersebut hidup. 

Ikan sapu-sapu dari habitat tercemar otomatis akan mengandung racun berbahaya yang dapat masuk ke tubuh manusia melalui makanan. 

Kasus siomay ikan sapu-sapu ini menjadi pengingat penting bagi kita untuk lebih selektif dalam membeli makanan. 

Pilihlah pedagang yang jelas kualitasnya, perhatikan warna dan aroma makanan, serta jangan tergiur harga yang terlalu murah.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.