Ngabuburit, Asal-Usul dan Sebutan Lainnya di Berbagai Daerah
GH News February 21, 2026 04:09 AM
Jakarta -

Detikers, tak terasa kita sudah memasuki bulan Ramadan nih! Pasti lagi menunggu waktu berbuka puasa, kan? Ada yang memilih jalan santai, berburu takjil, atau menyiapkan menu berbuka sambil menunggu azan Magrib.

Nah, kegiatan ini dikenal dengan istilah ngabuburit. Tradisi ini sudah lama melekat dalam budaya masyarakat Indonesia.

Tahukah kamu kalau istilah ngabuburit punya asal-usul dan di setiap daerah punya sebutannya berbeda? Yuk, kita telusuri sejarah dan kenali sebutannya di berbagai daerah!

Asal-Usul Ngabuburit

Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda. Menurut Kamus Bahasa Sunda terbitan Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), kata ini berasal dari frasa 'ngalantung ngadagoan burit', yang berarti bersantai menunggu sore, demikian dilansir dari laman Universitas Pasundan (Unpas) dikutip dan ditulis Kamis (19/2/2026).

Istilah ini pun sudah identik dengan bulan Ramadan. Ngabuburit merujuk pada kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu menjelang tibanya sore, sebagaimana tercantum di Kamus Bahasa Sunda LBSS.

Secara linguistik, kata ngabuburit terdiri dari dua unsur. 'Nga' merupakan imbuhan dalam bahasa Sunda yang membentuk kata kerja, sedangkan 'burit' berarti waktu sore atau menjelang magrib.

Ketua Lembaga Budaya Sunda Unpas, Hawe Setiawan, menjelaskan bahwa istilah ini unik karena keterangan waktu seperti 'burit' bisa berubah menjadi kata kerja setelah mendapat imbuhan. Dari proses itulah muncul kata 'ngabuburit', yang maknanya terus digunakan hingga sekarang.

Menurutnya, istilah ngabuburit menunjukkan keunikan bahasa Sunda. Pasalnya, keterangan waktu seperti 'burit' dapat berubah menjadi kata kerja setelah mendapat imbuhan awalan 'nga'

"Istilah ngabuburit merujuk pada kata kerja, yaitu melakukan kegiatan untuk mengisi waktu seraya menyongsong tibanya sore hari," kata Hawe.

Sejarah Ngabuburit

Detikers, kalau ditelusuri lebih jauh, ternyata ngabuburit bukan tradisi baru. Istilah ini sudah dikenal sejak lama, seiring nilai-nilai Islam yang menyatu dengan budaya Sunda. Tidak ada catatan pasti kapan kebiasaan ini mulai muncul karena berkembang secara alami melalui tradisi lisan masyarakat.

Menurut Hawe, istilah ngabuburit telah dikenal sejak lama, seiring masuknya kebudayaan Islam ke tanah Sunda.

"Seingat saya sudah lama (muncul istilah ngabuburit). Saya kira sejak nilai-nilai Islam masuk dalam wilayah budaya Sunda," ujarnya.

Sejak Islam mulai menyatu dengan kehidupan masyarakat Sunda, kebiasaan mengisi waktu sore menjelang berbuka sudah dilakukan. Anak-anak bermain layang-layang, sementara yang lain menyalakan meriam bambu.

"Kegiatan ngabuburit kini kian berkembang dan beragam dibanding awal kemunculannnya. Zaman dulu, anak-anak mengisi kegiatan ngabuburit dengan bermain permainan tradisional Jawa Barat seperti bebeledugan atau meriam bambu," kata Hawe.

Tradisi ini berkembang pesat, terutama pada era 1980-an, ketika para pemuda di Bandung mulai mengadakan acara musik nuansa Islami untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa.

"Sekarang, kegiatan ngabuburit disesuaikan dengan kebudayaan daerah masing-masing, tentunya diarahkan pada kegiatan yang lebih kreatif dan berharga, bukan hanya untuk mengisi waktu, tapi juga menghayati Ramadan," jelasnya.

Istilah ngabuburit kini telah digunakan secara luas di berbagai daerah di Indonesia, tak lagi terbatas di Jawa Barat sebagai daerah asal-usul katanya.

Menurutnya, penyebaran ini tidak lepas dari peran media massa dan media sosial yang terus menggunakan istilah tersebut dalam pemberitaan dan konten seputar Ramadan hingga akhirnya menjadi populer secara nasional.

"Saya kira mungkin karena faktor media, sehingga ngabuburit dikenal luas. Istilah ini juga mudah diucapkan oleh penutur non bahasa Sunda," tuturnya.

Masyarakat Indonesia kini menghabiskan waktu menunggu berbuka alias ngabuburit dengan mencari takjil, bermain, berkumpul bareng teman, berbuka bareng dan sebagainya.

Masuk KBBI Sejak 2018

Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah memasukkan kata 'ngabuburit' serapan dari bahasa Sunda yang berarti 'menunggu azan magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan'.

Kata ini masuk KBBI sejak Oktober 2018, demikian dilansir dari laman Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Sebutan Ngabuburit di Berbagai Daerah

Meski populer dengan sebutan 'ngabuburit' yang berasal dari budaya Sunda, setiap daerah di Indonesia ternyata memiliki istilah tersendiri untuk menyebut kegiatan menunggu berbuka puasa. Apa saja sebutannya? Dilansir dari Antara, berikut sebutannya:

  • Minangkabau (Sumatera Barat): malengah puaso, yaitu melakukan berbagai aktivitas untuk mengalihkan rasa lapar dan haus saat menunggu waktu berbuka.
  • Banjar (Kalimantan Selatan): basambang, yang merujuk pada kegiatan berjalan-jalan atau bersantai di waktu senja menjelang berbuka.
  • Madura (Jawa Timur): nyarè malem atau nyarè bhuka'an, yang berarti mencari makanan untuk berbuka puasa.

Nah, bulan puasa Ramadan 2026 ini kamu berencana ngabuburit ke mana saja detikers?

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.