Sejarah KH Sholeh Darat Semarang dan Hubungannya dengan Kartini
khoirul muzaki February 21, 2026 10:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Siang beranjak sore itu, hujan baru saja reda, Kamis. Tanah di kompleks TPU Bergota, Randusari, Kecamatan Semarang Selatan masih basah. Aroma tanah lembap menguar di antara deretan nisan.


Hujan bercampur angin sore itu menyisakan langit yang masih kelabu, menandakan hujan masih tiba-tiba saja terjadi. Namun, hal itu tak mengurungkan langkah peziarah ke makam Kyai Sholeh Darat.


Dimas Bayu Prabowo, baru saja selesai berziarah. Langkahnya mantap, pandangannya seakan akrab dengan area tersebut.


"Saya kebetulan ke makam Mbah Sholeh Darat seminggu sekali, waktu hari Kamis," kata Dimas yang berziarah seorang diri, Kamis (19/2/2026).


Dimas mengatakan, meski kini memasuki awal Ramadan, dia tetap menjalankan rutinitasnya mengunjungi makam Kyai Sholeh Darat.


Ia mengaku selalu merasakan ketenangan setiap kali selesai berdoa di makam ulama besar tersebut.


"Intinya setelah dari sini saya lebih tenang, lebih enak. Rasanya kegiatan saya juga jadi lebih enteng," katanya.


Ziarah yang ia lakukan, menurutnya, diniatkan untuk mendoakan sang ulama. Menurutnya, sebagai salah satu ulama besar di Semarang, Kyai Sholeh Darat dikenal luas sebagai guru dari banyak tokoh penting dan penyebar ajaran Islam di Jawa.


Sosoknya dihormati bukan hanya karena keilmuannya, tetapi juga karena perannya dalam membumikan ajaran Islam di tengah masyarakat.


"Saya datang untuk mendoakan beliau, beliau kan juga Waliyullah 'Wali Allah', harapannya mendapat karomah," ucapnya.


Di awal bulan Ramadan seperti saat ini, peziarah memang tak sebanyak hari-hari sebelumnya terutama saat mendekati bulan Ramadan.


Sumiati, satu di antara juru kunci makam menuturkan, peningkatan jumlah peziarah biasanya terjadi sejak bulan Ruwah atau Syakban.


Tradisi nyadran yang dilakukan masyarakat Jawa menjadi momentum untuk mendoakan leluhur sekaligus berziarah ke makam ulama besar.


"Yang berziarah ke Mbah Sholeh kebetulan kalau Ruwah sangat banyak. Apalagi dengan kondisi sekarang yang sudah disentuh oleh pemerintah: ada joglonya, agak lebar, itu semakin menambah peziarah," terangnya Sumiati.


Meski tidak seramai saat tradisi nyadran atau menjelang Ramadan, lanjutnya, arus peziarah tetap mengalir setiap harinya.


"Jadi tidak ada hari tertentu harus bersama-sama (untuk berziarah), itu tidak. Jadi tiap hari, tiap minggu, di mana ada kesempatan libur ya ke makam," ungkapnya.


Menurutnya, sejauh ini peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Kota Semarang dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai daerah di luar kota hingga luar provinsi.


Ia menyebutkan, rombongan dari Jawa Timur seperti Kediri, Lamongan, Surabaya, dan Pacitan kerap datang silih berganti. Dari Jawa Barat, peziarah juga datang seperti dari Indramayu dan Cirebon.


Adapun dari Jawa Tengah, menurutnya hampir setiap hari ada rombongan dari Kendal, Kaliwungu, Kudus, hingga Brebes.


"Alhamdulillah, tidak diatur tapi mereka itu seperti bisa terbentuk. Jadi oh (misal) tiba-tiba minggu ini ada rombongan dari mana gitu: dari Jawa Timur. Nah, besoknya atau belakangnya itu kok ada dari Kediri, dari Lamongan, kemudian dari Surabaya, dan sebagainya," bebernya.


Tak hanya masyarakat umum, sejumlah pejabat juga pernah berziarah ke makam yang berada di TPU Bergota tersebut.


"Pejabat banyak yang datang, Alhamdulillah. Apalagi kalau musim Caleg ya," ungkapnya.


Menurut Sumiati, nama besar Kyai Sholeh Darat memang memiliki pengaruh luas di Nusantara. Ulama kelahiran Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara ini dikenal sebagai guru para ulama besar.


Ia merupakan sosok yang menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Arab Pegon pada masa penjajahan Belanda.


Cara tersebut menjadi strategi dakwah agar ajaran Islam tetap dapat disebarkan meski aktivitas pendidikan dan pengajian saat itu mendapat pembatasan dari pemerintah kolonial.


"Jadi pada masa itu, pada masa penjajahan Belanda, di mana sekolah dilarang, kemudian pengajian dilarang, bagaimana caranya Mbah Sholeh Darat itu bisa siar agama ke masyarakat tanpa dilarang oleh Belanda yaitu dengan menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa lewat tulisan Arab pegon, dan ini berhasil," ucapnya.


Selain dikenal sebagai penerjemah Al-Qur’an, Kiai Soleh Darat juga produktif menulis kitab, yang mana belasan karyanya telah ditemukan.


Pengaruhnya semakin kuat karena sejumlah tokoh besar pernah berguru kepadanya. Di antaranya adalah KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, serta KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.


Tokoh emansipasi perempuan Raden Ajeng Kartini juga disinyalir kuat sebagai salah satu muridnya.

 

Baca juga: Jadwal Salat dan Berbuka Puasa Kabupaten Wonosobo Hari Ini Sabtu 21 Februari


Pengaruhi Pemikiran Kartini? 


Sekretaris Komunitas Pecinta Sholeh Darat (Kopisoda), Mochamad Ichwan menjelaskan, sosok Sholeh Darat bukan semata sebagai ulama abad ke-19, tetapi juga figur intelektual yang gagasan-gagasannya ikut membentuk cara pandang Kartini tentang pendidikan, pencerahan, dan peran perempuan.


Menurut Ichwan, pengaruh itu memang tidak selalu tertulis secara eksplisit dalam dokumen sejarah.


Dalam surat-suratnya, Kartini lebih sering menyebut "Romo Kiai" tanpa nama. Namun, sejumlah penelusuran menunjukkan keterkaitan kuat antara keduanya.


Selain hidup sezaman, yakni Sholeh Darat wafat pada 1903 dan Kartini setahun kemudian pada 1904, keduanya berada dalam lingkar sosial yang beririsan di kawasan pesisir Jawa, khususnya Jepara dan Semarang.


Sholeh Darat dikenal rutin mengisi pengajian di kalangan elite, termasuk di pendopo-pendopo kabupaten seperti Demak dan Jepara.


Ichwan menuturkan, salah satu momen yang kerap dirujuk adalah ketika Kartini akhirnya memahami makna Surah Al-Fatihah.


Sebelumnya, ia sempat mempertanyakan mengapa Al-Qur’an hanya diajarkan untuk dibaca tanpa dijelaskan artinya.


"Kartini waktu masih kecil ngaji kan tanya ustaznya di kampung 'Pak, mbok dikasih tahu artinya Al-Qur'an itu apa?' Namun waktu itu ya 'sing penting iso moco entuk ganjaran' (yang penting membaca, mendapat pahala). Nah pas masih kecil itu Kartini menyebut kalau guru ngajinya itu ya Pak Ustaz saja. Tapi begitu dia tahu tentang makna Al-Fatihah, kemudian memanggil kiai.


Diduga pasti orang sepuh ini. Kami sampai saat ini masih menyepakatinya itu adalah Mbah Sholeh Darat," terangnya.


Dalam berbagai suratnya, Kartini kemudian berulang kali menyinggung gagasan tentang "keluar dari kegelapan menuju cahaya", yang sejalan dengan makna Surah Al-Baqarah ayat 257. Pemahaman tersebut diyakini diperolehnya dari pengajian sang kiai.


"Jadi waktu itu Kartini sering menyurati dengan bahasa Belanda: Door Duisternis tot Licht. Itu kan dari ayat Al-Qur'an 'Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya'. Nah, ternyata setelah semua kalimat itu diterjemahkan lagi jadi 'habis gelap terbitlah terang'," jelasnya.


Ichwan menjelaskan, Sholeh Darat memang dikenal mengambil langkah berbeda pada masanya. Ketika pengajaran agama identik dengan pesantren dan bahasa Arab, ia justru menulis kitab-kitabnya dalam bahasa Jawa.


Sedikitnya 15 karya berhasil diidentifikasi. Di antaranya terkait fikih, tasawuf, hingga tafsir Al-Qur’an. Karya monumentalnya, Faidh al-Rahman, disebut sebagai salah satu tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa pertama di Nusantara. Kitab ini ditulis pada 5 Rajab 1309H/1891M. Kitab ini terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai Ibrahim.


Waktu itu, jelasnya, penjajah Belanda melarang orang menerjemahkan Al-Qur'an dan para ulama juga mengharamkannya. Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini. Karena permintaan Kartini dan panggilan untuk berdakwah, Mbah Sholeh Darat menerjemahkan dengan ditulis dalam huruf arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.


Langkah ini dianggap revolusioner. Dengan bahasa yang dipahami masyarakat awam, ajaran agama menjadi lebih inklusif.


"Zaman dulu itu orang kalau ingin belajar agama harus di pesantren, harus mondok, mengerti bahasa Arab. Mbah Soleh itu enggak usah mondok enggak apa-apa, yang penting ngulang mbek aku 'mengaji bersamaku' pakai bahasa Jawa pun bisa," jelasnya.


Bagi Ichwan, pola inilah yang selaras dengan semangat Kartini dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan.


Tak hanya melalui tafsir, pengaruh itu juga disebut hadir dalam kitab Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam. Dalam kitab tersebut, membahas persoalan fiqih namun dengan penjelasan soal hakikat dan ma'rifat yang harus dikejar setelah seorang mengerti tentang syariat.


"Nah menurut Profesor Sri Suhandjati Sukri, feminisme Kartini dipengaruhi oleh kitab ini. Wanita itu harus diajarkan membatik, menjahit, dan diajarkan membaca meskipun enggak menulis. Luar biasa zaman dulu," terangnya.


Pada akhir abad ke-19, lanjutnya, gagasan semacam ini tergolong progresif. Ketika perempuan kerap dibatasi pada ranah domestik, Sholeh Darat justru menekankan pentingnya keterampilan dan literasi sebagai bekal kemandirian.


"Kebanyakan zaman dulu itu wanita itu pokoknya masak, macak, manak. Waktu Mbah Sholeh itu kitab ini progresif banget. Wanita itu harus diajarkan membatik, menjahit. Berarti kan kemandirian. Itu progresif zaman dulu," ungkapnya.


Selain gagasan pendidikan dan perempuan, Sholeh Darat juga dikenal tegas dalam sikap terhadap penjajahan. Dalam sejumlah tulisannya, ia mengingatkan umat agar tidak tunduk pada kolonialisme. Semangat anti-penjajahan dan cinta tanah air itu pula yang diyakini menginspirasi murid-muridnya.


"Ternyata setelah kita buka kitab-kitabnya, quote-quote-nya, Mbah Sholeh Darat itu mengajarkan sesuatu yang dicontoh oleh muridnya. Nah, misalnya tentang mengajarkan anti penjajah. Mbah Hasyim Asy"ari juga sama, di kitab-kitabnya Mbah Hasyim juga anti penjajah. Beliau mencintai tanah air dan persatuan," imbuhnya. (idy)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.