Kisah Kakak Beradik Pramana, Musisi Muda Indonesia Penakluk Panggung Kerajaan Belanda
Dodi Esvandi February 21, 2026 02:32 PM

TRIBUNNEWS.COM, DEN HAAG – Di balik megahnya panggung musik klasik Eropa, terselip dua nama yang kini menjadi buah bibir: Raelene (11) dan Reo Pramana (15). 

Kakak-beradik diaspora Indonesia yang menetap di Den Haag ini bukan sekadar remaja biasa; mereka adalah virtuoso muda yang berhasil menaklukkan telinga para maestro hingga anggota keluarga Kerajaan Belanda.

Meski tumbuh besar di Negeri Kincir Angin, Raelene dan Reo membuktikan bahwa paspor boleh saja berbeda, namun "nada" mereka tetap Indonesia.

Raelene: Sang "Putri Biola" Favorit Ratu

Langkah Raelene di dunia musik klasik begitu melesat. 

Siswi kelas 2 SMP ini baru saja mengukir sejarah dengan menyabet Juara 1 dalam Nederland Vioolconcours 2026, kompetisi biola paling bergengsi di Belanda.

Prestasi tersebut membawanya ke lingkaran elite. 

Dalam enam bulan terakhir, Raelene tak hanya tampil di televisi nasional, tetapi juga berkesempatan tampil di hadapan Ratu Máxima dan Pangeran Constantijn.

"Setiap tampil, saya selalu ingat bahwa saya membawa nama Indonesia. Itu membuat saya ingin memberikan yang terbaik," tutur Raelene dengan rendah hati.

Di bawah bimbingan maestro dunia Ilya Grubert, Raelene telah mencicipi panggung-panggung legendaris seperti Concertgebouw Amsterdam, tempat yang menjadi impian setiap musisi klasik dunia.

Baca juga: Clutch Merah Ratu Maxima saat Datang ke Istana Curi Perhatian, Harganya Capai Puluhan Juta Rupiah

Reo: Komposer Muda yang Menembus Juilliard

Reo Pramana (15).
Reo Pramana (15), diaspora Indonesia yang menetap di Den Haag, kini bertransformasi menjadi pianis sekaligus komposer muda jempolan di Conservatorium van Amsterdam. Karya-karya komposisinya telah dipentaskan di berbagai penjuru Eropa.

Sang kakak, Reo, mengambil jalur yang tak kalah prestisius. 

Berawal dari paduan suara, ia kini bertransformasi menjadi pianis sekaligus komposer muda jempolan di Conservatorium van Amsterdam.

Karya-karya komposisinya telah dipentaskan di berbagai penjuru Eropa. 

Tak main-main, bakatnya ini membawa Reo terbang ke New York untuk mengikuti program musim panas di Juilliard School, sekolah seni paling selektif di dunia.

"Musik adalah cara saya memperkenalkan identitas Indonesia dalam bahasa yang bisa dipahami dunia," ungkap Reo, yang juga memiliki minat unik di bidang pemrograman komputer.

Pulang ke Istana dan Menjaga Akar

Meski sibuk berkompetisi di kancah internasional, keduanya tidak lupa jalan pulang. 

Pada tahun 2023, mereka sempat menggetarkan Istana Negara saat membawakan lagu-lagu nasional pada peringatan HUT RI ke-78 di hadapan Presiden.

Bagi sang Ibu, Rosa Siburian, prestasi internasional hanyalah bonus. Fondasi utama yang ia tanamkan adalah karakter dan nasionalisme.

"Kami selalu menanamkan bahwa sebesar apa pun panggungnya, mereka tetap anak Indonesia. Kehidupan di Belanda memberi akses pendidikan musik, tapi nilai-nilai Indonesia tetap menjadi rumah bagi mereka," tegas Rosa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.