Sosok Miranda Lee, Bule yang Protes Tadarus di Gili Trawangan Bawa Parang, Ternyata Bos Villa!
Amir M February 21, 2026 02:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Miranda Lee, warga negara asing (WNA) asal Selandia Baru, menjadi sorotan setelah mengamuk di musala Gili Trawangan, Lombok Utara karena merasa terganggu suara tadarus (membaca Al-quran). 

Tindakan ekstremnya, mulai dari mencabut kabel mikrofon hingga menyerang warga dan mengancam dengan parang, memicu kepanikan warga setempat.

Insiden ini terjadi Kamis malam (19/2/2026) dan membuat aparat turun tangan untuk menenangkan situasi serta memberikan edukasi tentang tradisi Ramadan.

Kejadian itu memicu kemarahan warga setempat dan mendesak WNA yang telah lama tinggal di Gili Trawangan itu untuk keluar dari tempat ibadah.

Tindakan Miranda Lee itu memicu kemarahan warga setempat dan mendesak WNA yang telah lama tinggal di Gili Trawangan itu untuk keluar dari tempat ibadah.

Bahkan, kejadian itu menyebar di media sosial, yang memperlihatkan seorang WNA perempuan yang mengenakan pakaian hitam dengan rambut pirang terikat, tiba-tiba masuk tempat ibadah dan mengamuk.

Dalam video itu, warga yang kesal memakinya dan mendesaknya keluar.

Namun WNA asal New Zealand itu melawan dengan mencakar salah seorang warga hingga terluka.

Setelah itu, WNA tersebut terus berteriak memaki warga dengan keras.

Namun, para warga terlihat menghindari tindakan fisik pada perempuan New Zealand tersebut.

Sosok Amanda Lee

Miranda Lee adalah Warga Negara Asing asal Selandia Baru yang sudah lama menetap di Gili Trawangan, Lombok Utara, bersama orang tuanya.

Ia tinggal di villa keluarganya setelah orang tuanya tidak lagi menempati tempat tersebut.

Meski sudah lama berada di pulau ini, Miranda dilaporkan memiliki masalah dengan kebiasaan lokal, terutama suara tadarus di musala yang rutin berlangsung selama bulan Ramadan.

Kamis malam (19/2/2026), Miranda tiba-tiba mengamuk di musala karena merasa terganggu oleh suara tadarus.

Ia mencabut kabel mikrofon, menyerang jamaah hingga melukai salah seorang warga, dan tetap melawan saat warga berusaha menenangkannya.

Tidak hanya itu, Miranda juga merebut handphone dan mengancam dengan parang, bahkan mengejar aparat kepolisian sebelum akhirnya diamankan.

Insiden ini memicu kepanikan warga dan menjadi viral di media sosial.

Pasca kejadian, aparat kepolisian turun tangan untuk menenangkan situasi, mengamankan Miranda, dan memberikan edukasi mengenai tradisi ibadah Ramadan di Lombok agar peristiwa serupa tidak terulang.

Kejadian ini menimbulkan kemarahan warga setempat sekaligus menjadi pengingat pentingnya wisatawan asing memahami adat dan kebiasaan lokal.

Saat ini, Miranda berada di bawah pengawasan aparat setempat sambil diberikan pemahaman tentang toleransi beragama dan tradisi lokal, sementara pihak berwenang terus memantau situasi untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Pengakuan warga

Kepala Dusun Gili Trawangan, Muhammad Husni, membenarkan kejadian di wilayahnya tersebut.

Saat dikonfirmasi, Husni menjelaskan bahwa peristiwa intoleransi itu terjadi sekitar pukul 23.30 Wita di musala warga.

"Saat warga tengah Tadarus di dalam musala, tiba-tiba WNA ini masuk dan marah-marah langsung mencabut kabel mikrofon warga, tindakan tidak sopannya spontan membuat warga emosi," kata Husni, Jumat (20/2/2026).

Menurut dia, warga yang berusaha menjelaskan tidak dihiraukannya.

WNA itu justru balik menyerang dan melukai warga dengan mencakar.

"Untungnya warga kami tidak terpancing, terus menjelaskan meskipun ada yang emosi tetapi tidak ada tindakan membalas dengan kekerasan fisik," ujar Husni.

Husni mengatakan, dia mendapat laporan kejadian sekitar pukul 23.30 Wita.

Dia pun menjelaskan bahwa itu waktu yang masih diperbolehkan warga mengunakan speaker atas atau toa untuk tadarus.

Dalam aturan selama bulan puasa di Gili Trawangan, setelah pukul 24.00 Wita, warga harus menggunakan speaker bawah atau dalam.

Husni menyebut, aturan itu juga berlaku pada kafe yang menggelar acara selama bulan puasa.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, WNA asal New Zealand tersebut sudah lama menetap di Gili Trawangan bersama orang tuanya.

Mereka memiliki villa tetapi tidak suka mendengar tadarusan warga di musala sehingga terjadi insiden tersebut.

Ancam Warga dengan Parang

Kemudian, Husni mengatakan bahwa warga berusaha melerai guna menghindari pertengakaran meluas.

Tetapi, yang bersangkutan disebut tetap melawan.

"Saat di desak menjauh di tengah jalan, tiba-tiba WNA ini menyerang dan melukai warga, bahkan merebut handphone warga dan masuk dalam villanya (Villa Ottalia).

Saat warga mau mengambil handphone-nya, WNA ini justru melawan mengunakan parang," kata Husni.

Diketahui WNA ini merupakan pemilik Villa dan sudah lama menetap di Trawangan bersama orangtuanya.

Namun, orangtuanya sudah tidak tinggal di sana karena diusir oleh terduga pelaku.

"Dia sudah lama di Trawangan mestinya tahu aturan dan kebiasaan di Trawangan, tetapi memang kali ini dia bersikap tidak patut, kalau orangtuanya kami kenal dan tak pernah bermasalah," kata Husni.

Bukan hanya warga, WNA asal New Zealand ini juga mengejar aparat Kepolisian mengunakan parang dan mengamuk.

Terkait hal itu, Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta yang dikonfirmasi, membenarkan kejadian tersebut dan mengatakan pihaknya masih terus memonitor pasca-kejadian.

"Masih kita monitor dan kita pantau yang bersangkutan untuk menjaga Kamtibmas tetap kondusif, " kata Agus Purwanta.

Baca juga: Sosok Arianto Tawakal, Siswa 14 Tahun Dipukul Helm Anggota Brimob Polda Maluku, Jatuh hingga Tewas!

BULE PROTES TADARUS - Miranda Lee asal New Zealand protes tadarus di Gili Trawangan (19/2/2026).
BULE PROTES TADARUS - Miranda Lee asal New Zealand protes tadarus di Gili Trawangan (19/2/2026). (Tribun Lombok)

Pelaku Sudah diamankan

Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB), Irjen Polisi Edy Murbowo, mengatakan kejadian WNA asal Selandia Baru yang marah dan mengamuk di musala di Gili Trawangan, Kamis malam (19/2/2026) sudah dapat diatasi.

Hal itu disampikan Kapolda NTB usai mengikuti Rapat Pimpinan (Rapim) Polda NTB yang diikuti jajaran Kapolres dan Kapolsek se NTB, Jumat (20/2/2026).

"Jadi itu sudah dilakukan edukasi, Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanto juga saya minta untuk berkordinasi dengan para pengelola hotel, resort dan lainnya, untuk mementingkan informasi edukasi pada para tamu di Trawangan," kata Edy.

Aparat kepolisian dan aparat desa di wilayah mereka harus menjelaskan bahwa di Lombok ada tradisi atau kebiasaan warga setempat dalam menjalankan ibadah bulan Ramadhan.

Seperti ada tadarus Alquran yang biasa mereka jalani selama bulan puasa atau Ramadhan.

Hanya saja, kata dia, harus dijelaskan bahwa tradisi itu dijalankan hingga pukul 24.00 Wita sesuai kesepakatan warga.

"Warga setempat harus memberi penjelasan bahwa ada tradisi di negara kita, khususnya wilayah Lombok ini yang merupakan pulau seribu masjid, harus dipahami oleh mereka para pendatang atau wisatawan," kata Edy.

Dia juga bilang pemahaman dan edukasi untuk para wisatawan luar negeri itu harus dijelaskan dengan baik.

Tugas kapolres berkordinasi dengan takmir masjid, kepala lingkungan tokoh agama dan tokoh masyarakat, bagaimana menjaga toleransi beragama.

Dia menambahkan, ibadah harus tetap dijalankan tapi harus ada cara agar tidak ada komplain dari pihak lain, misalnya volume (spikernya) dikurangi, agar sama sama menjaga toleransi.

"Kemungkinan karena dia WNA tersebut tidak tahu kebiasaan dan tradisi kita, sehingga dia mengamuk dan emosi.

Sejauh ini sudah dilakukan pertemuan untuk memberi pemahaman pada yang bersangkutan," kata dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.