TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Perayaan Ramadan, Idul Fitri dan Hari Suci Nyepi akan berbarengan di tahun 2026.
Ini, dinilai sebagai momentum istimewa untuk kembali mempererat kerukunan antar umat beragama di Bali.
Hal tersebut diungkapkan oleh, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali, H. Mahrusun Hadyono pada Sabtu 21 Februari 2026.
Mahrusun mengungkapkan, ini bukan hal baru bagi masyarakat Bali.
Baca juga: Selama Bulan Ramadan, Pelayanan Publik di Denpasar Dilakukan Penyesuaian
Ia mengingatkan pengalaman pada tahun 2004, ketika Nyepi dan Idul Fitri juga berlangsung bersamaan dan tetap berjalan lancar serta khidmat.
“Terkait berhimpitnya Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H merupakan momentum istimewa untuk menjalin dan membangun kembali kerukunan umat beragama. Beberapa tahun lalu, tepatnya 2004, kedua hari raya ini juga pernah bersamaan dan berjalan lancar. Nyepi berjalan khidmat, Idul Fitri juga berlangsung lancar dan penuh kekhusyukan karena kearifan kedua tokoh agama,” jelasnya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti kuat bahwa toleransi di Bali telah terbangun dengan baik dan dapat terus dijaga bersama.
Meskipun demikian, pihaknya tetap mengimbau agar seluruh umat, khususnya umat Muslim, menaati dan memenuhi seruan bersama terkait pelaksanaan Hari Suci Nyepi yang bertepatan dengan perayaan Idul Fitri.
Seruan bersama tersebut menjadi pedoman teknis agar pelaksanaan ibadah masing-masing tetap berjalan tertib tanpa mengurangi makna spiritualnya.
Ia menegaskan, umat Muslim diharapkan dapat menyesuaikan pelaksanaan Salat Id dan rangkaian Idul Fitri dengan tetap menghormati ketentuan Catur Brata Penyepian.
Koordinasi dengan aparat desa adat, pecalang, serta pemerintah daerah juga dinilai penting untuk memastikan semua berjalan harmonis.
“Intinya adalah saling memahami, saling menghormati, dan menjaga suasana tetap kondusif. Kerukunan yang sudah terbangun ini harus terus dirawat,” tegasnya.
Mahrusun juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momen ini sebagai teladan toleransi bagi daerah lain di Indonesia.
Dengan komunikasi yang baik antar tokoh agama dan dukungan masyarakat, kedua hari raya besar tersebut diyakini dapat berlangsung aman, damai, dan penuh kekhidmatan.
Di tengah keberagaman Bali yang dikenal kuat menjunjung nilai kearifan lokal, berhimpitnya Nyepi dan Idul Fitri diharapkan tidak menjadi tantangan, melainkan simbol kedewasaan dalam menjaga persaudaraan lintas iman.